{"id":404539,"date":"2026-06-04T08:39:17","date_gmt":"2026-06-04T01:39:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=404539"},"modified":"2026-06-03T20:41:26","modified_gmt":"2026-06-03T13:41:26","slug":"mahasiswa-jurusan-manajemen-dicap-kaya-aslinya-pas-pasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-jurusan-manajemen-dicap-kaya-aslinya-pas-pasan\/","title":{"rendered":"Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat masih duduk di bangku kuliah, tepatnya di <a href=\"https:\/\/manajemen.ums.ac.id\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jurusan Manajemen UMS<\/a>, saya sadar jurusan ini punya banyak sekali stereotip aneh. Mahasiswa jurusan ini sering &#8220;panen&#8221; julukan aneh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya ada dua hal yang dulu paling sering saya jumpai. Pertama, mahasiswanya punta banyak pacar alias tukang selingkuh. Kedua, mahasiswa kaya atau anak orang kaya yang hidupnya serba nyaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Saya tanya ke 10 teman untuk memastikannya.<span style=\"font-weight: 400;\"> Saya meminta mereka menyebutkan tiga jurusan yang mahasiswanya dipandang sebagai tukang selingkuh dan prodi yang dianggap sebagai gudang orang kaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, bisa ditebak, hasil riset kecil-kecilan itu memverifikasi stereotipe yang yang saya rasakan ketika jadi sebagai mahasiswa jurusan Manajemen.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Jurusan Manajemen kandang &#8220;buaya&#8221; dan &#8220;ayam kampus&#8221;<\/b><\/h2>\n<p>Mari kita buka dengan stigma paling menyakitkan. Jurusan di mana saya belajar dahulu kerap dijuluki kandang &#8220;buaya&#8221; dan &#8220;ayam kampus&#8221;. Buaya di sini artinya orang yang sering selingkuh. Manajemen berada di posisi pertama, setelahnya ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-masuk-jurusan-teknik-mesin-jika-tidak-siap-dengan-hal-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Teknik Mesin<\/a> dan Hukum.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit berbagai pengalaman. Dahulu, saat saya masih kuliah, tiap kali kenalan dengan orang baru dan mengaku anak jurusan Manajemen, mereka punya dua respon yang sama. Pertama, &#8220;Ceweknya banyak dong&#8221;. Kedua, &#8220;Ah, pemain ki pasti&#8221;. Pemain-pemain ndasmu! Aneh banget, kenapa kami dicap seperti ini ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih parahnya lagi, stigma ini punya turunan yang seksis dan merendahkan teman-teman perempuan di jurusan, Isu miring soal &#8220;ayam kampus&#8221; misalnya, entah kenapa selalu menyeret nama jurusan Manajemen.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, kawan perempuan saya ada yang selalu digosipkan gonta-ganti pasangan dan dikira sering \u201cdipakai\u201d hanya karena gayanya yang centil. Tolol banget kan?! Padahal dia nggak seperti itu. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasihanilah kami, merantau jauh-jauh, capek kuliah, eh malah dihantui embel-embel yang merendahkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mahasiswa jurusan Manajemen dikira anak orang kaya dan banyak duitnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikutnya, anak jurusan Manajemen pasti selalu dicap berasal dari keluarga kaya yang nyaman hidupnya. B<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ahkan, ada salah satu kawan yang curgia, kebanyakan mahasiswa Manajamen ambil jurusan ini untuk meneruskan bisnis orang tuanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya tanya lebih lanjut kenapa anggapan ini muncul, teman-teman saya menjawab karena biaya. Iya, rata-rata biaya kuliah di jurusan Manajemen UMS memang lebih mahal dibanding yang lain. Selain itu, gedungnya memang megah dan stastus jurusannya memang prestisius.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, mohon maaf nih, asumsi itu jelas salah besar dan tidak sesuai dengan realitas di lapangan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Faktanya, banyak sekali kawan jurusan Manajemen saya yang orang tuanya bekerja serabutan, pensiunan, atau pedagang di pasar yang penghasilannya pas-pasan.<\/span><\/p>\n<p>Saya pernah kesal sekali gara-gara asumsi mahasiswa Manajemen pasti orang kaya ini. Ceritanya, w<span style=\"font-weight: 400;\">aktu itu saya terpaksa menolak ajakan nongkrong ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/pengalaman-pertama-ke-coffee-shop-jogja-malah-malu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">coffee shop<\/a> oleh seorang kawan. Alasannya saya sebutkan dengan jujur, kantong saya benar-benar lagi tipis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tebak bagaimana responsnya? Dia malah nyeletuk dengan gampangnya, &#8220;mosok cah Manajemen ra nduwe duit?&#8221; <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aduh, tolong diingat ya kawan-kawan, nggak semua anak Manajemen itu banyak duit! Banyak dari kami yang harus cek saldo ATM berkali-kali sebelum makan. Bahkan, tak jarang kami cuma bisa makan mi instan di akhir bulan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dicap sombong dan memiliki pergaulan eksklusif<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dampak dari stigma &#8220;anak kaya&#8221; tadi akhirnya memunculkan stereotip baru yang tidak kalah menyebalkan di lingkungan kampus. Entah apa yang melatarbelakangi munculnya pemikiran ini. Saya sering sekali menemui anak Manajemen yang dicap sombong oleh anak prodi lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya karena mahasiswi Manajemen identik suka dandan dan yang mahasiswanya suka tampil necis, pertemanan kami langsung dinilai eksklusif, elite, dan pilih-pilih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking parahnya stereotip ini, urusan memilih tempat nongkrong pun sampai bisa jadi bahan perbincangan yang pelik. Kesalahpahaman tersebut pernah saya rasakan langsung saat diajak nongkrong oleh seorang kawan dari prodi seberang. Dengan nada yang agak sungkan, dia tiba-tiba bilang, &#8220;Tapi kita cuma nongkrong di warmindo lho, rapopo kan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pas saya tanya kenapa dia ngomong begitu, dengan entengnya dia menjawab, &#8220;Ya biasannya kan anak Manajemen nongkrong di coffee shop,&#8221; Ya ampun, mahasiswa Manajemen seperti saya yang nongkrong di angkringan atau burjon juga banyak. Bahkan, jauh lebih sering daripada ke kafe estetik. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau diajak nongkrong ke mana pun kami juga pasti gas. Bahkan, kalau cuma diajak main ke Waduk Cengklik bermodalkan kopi saset tiga ribuan pun kami bakal berangkat dengan senang hati.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dikira selalu pintar berwirausaha atau berdagang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, rasanya emang nggak afdal kalau anak jurusan Manajemen nggak punya mindset bisnis yang kuat di dalam darahnya. Terlebih, biasanya dari pihak kampus juga mewadahi dan memfasilitasi pengembangan potensi wirausaha para mahasiswanya. Namun, hal ini malah berubah jadi beban moral tersendiri untuk kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya, beberapa tetangga saya saat tahu saya anak Manajemen pasti langsung bilang &#8220;wah, pinter bisnis ya berarti.&#8221; Bahkan, bapak kos saya pernah bertanya waktu saya selesai wisuda &#8220;Mau buka bisnis apa mas setelah ini?&#8221; Sebuah pertanyaan berat yang jujur langsung memicu tekanan mental tersendiri bagi lulusan baru seperti saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Emang sih, Manajemen kami diajarkan teori berdagang, tapi maaf, nggak semua dari kami pintar atau minat berwirausaha. Apalagi saya yang aslinya udah pernah bangkrut sampai tiga kali saat memutuskan mencoba dunia wirausaha.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula, banyak kok anak Manajemen yang setelah lulus tujuannya bukan berdagang. Ada yang pengen jadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hrd-dengan-sindrom-god-complex-pantas-jadi-musuh-bersama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">HRD<\/a>, karyawan kantoran biasa, atau malah belok kerja di industri kreatif sebagai konten kreator seperti saya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, tolong ikhlas ya kalau banyak anak manajemen yang sebenarnya nggak minat atau jago berdagang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Stereotip yang dirasakan mahasiswa jurusan Manajemen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa stereotip aneh terhadap mahasiswa Manajemen yang sering saya temui dan rasakan dulu semasa kuliah. Anehnya, alih-alih meredup, stereotip ini\u00a0 nyatanya masih tetap subur dan berlaku sampai sekarang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak hanya jadi bahan gunjingan di kalangan mahasiswa aja. Bahkan, di media sosial pun ada beberapa akun official kampus yang sengaja menggoreng konten anak Manajemen dengan narasi dikotomi antara mahasiswa setia versus tukang selingkuh demi mendulang keterlibatan audiens.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, tolong diingat ya teman-teman, realitas mahasiswa Manajemen aslinya nggak seindah dan seliar yang ada di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-fyp-di-tiktok-dijamin-videomu-bakal-viral\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">FYP media sosial<\/a> kalian. Kami juga cuma mahasiswa biasa pada umumnya. Kami sama-sama pusing kalau dikejar tugas hingga harus putar otak pas lagi susah makan di akhir bulan. Hidup kami sama berdarah-darahnya kok dengan mahasiswa jurusan lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, satu lagi, hanya karena kamu kebetulan pernah disakiti oleh anak jurusan Manajemen, bukan berarti kamu bisa langsung menyamaratakan kalau semua anak Manajemen itu tukang selingkuh ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sumpah, asumsi seperti itu berdampak banget buat kelangsungan hidup sosial kami di dunia nyata. Khususnya buat saya sendiri, gara-gara pasokan stigma bajingan ini, saya jadi ketiban apes susah punya pacar selama kuliah huhuhu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M. Rafikhansa Dzaky Saputra<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-manajemen-layak-dipilih\/\"><b><i>Kalau Cara Pandangnya pada Jurusan Manajemen kayak Gitu, Berarti Semua Jurusan S1 Nggak Ada yang Layak Dipilih<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nama jurusan Manajemen yang mentereng kerap bikin mahasiswanya menderita karena capnya yang anak orang kaya hingga &#8220;ayam kampus&#8221;. <\/p>\n","protected":false},"author":3043,"featured_media":404608,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[6475,20583,34,33640],"class_list":["post-404539","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-jurusan","tag-jurusan-manajemen","tag-mahasiswa","tag-mahasiswa-jurusan-manajemen"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404539","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3043"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=404539"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404539\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":404645,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404539\/revisions\/404645"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/404608"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=404539"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=404539"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=404539"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}