{"id":404478,"date":"2026-06-03T12:09:23","date_gmt":"2026-06-03T05:09:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=404478"},"modified":"2026-06-03T12:09:23","modified_gmt":"2026-06-03T05:09:23","slug":"profesi-quality-control-salah-sedikit-dimaki-benar-terus-dianggap-nggak-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/profesi-quality-control-salah-sedikit-dimaki-benar-terus-dianggap-nggak-kerja\/","title":{"rendered":"Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekerja sebagai Quality Control (QC) itu ibarat menjadi wasit di pertandingan sepak bola tarkam yang sengit. Kalau pertandingan berjalan mulus tanpa kartu merah, semua orang akan memuji kehebatan pemain dalam mencetak gol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi begitu ada salah peluit sedikit saja, atau ada satu pelanggaran yang luput dari pandangan, satu stadion bakal kompak melontarkan kalimat umpatan ke kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah nasib tragis para Quality Control. Kami menjaga keseimbangan antara ngegasnya produksi dan cerewetnya pelanggan. Sebuah posisi yang membuat kami sering kali duduk sendirian merenungi setiap keputusan yang sudah dibuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjelang tiga tahun menjalani profesi sebagai quality control, saya telah merangkum beberapa alasan kenapa nasib <a href=\"https:\/\/www.bpjsketenagakerjaan.go.id\/artikel\/17457\/artikel-yuk,-kenali-lebih-dalam-profesi-quality-control!.bpjs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">QC<\/a> seironis itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Keberadaannya sering dianggap gaib<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam ekosistem pabrik atau perusahaan, Quality Control adalah makhluk gaib. Kami ada, tapi tidak dianggap. Saat ribuan barang lolos ke gudang dengan kualitas bagus, tidak ada satu pun yang berteriak memuji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua dianggap sebagai \u201cmemang sudah seharusnya begitu standarnya\u201d. Keberhasilan kami dianggap sebagai fungsi supporting, seolah-olah kualitas bagus itu muncul secara gaib tanpa ada mata yang pedih memeriksanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami dituntut untuk memiliki ketelitian tingkat dewa selama jam kerja. Mata kami harus mampu menangkap detail yang diabaikan orang normal. Sialnya, dalam kamus perusahaan, QC tidak boleh punya hari yang buruk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu detik saja mata kami berkedip, satu produk cacat lewat, reputasi profesional kami yang dibangun bisa rontok seketika. Contohnya, begitu ada satu saja barang cacat yang entah bagaimana bisa lolos ke produksi atau sampai ke pelanggan, seketika itu juga nama QC menjadi sorotan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Produksi menyalahkan Quality Control karena dianggap tidak teliti, logistik menyalahkan karena barang jadi retur, dan accounting menganggap kita tidak serius pada klaim-klaiman. Di saat seperti itu, penjelasan tentang prosedur sampling hanya akan dianggap sebagai dongeng sebelum tidur yang tidak berguna.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/karyawan-startup-di-jogja-tersiksa-saat-bulan-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Karyawan Startup di Jogja Tersiksa, Apalagi Saat Bulan Ramadan. Udah Gaji Nggak Seberapa, Kesempatan untuk Sahur dan Buka Hampir Nggak Ada<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Dalam dilema<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi Quality Control juga soal pergulatan batin yang melelahkan. Kalau kami terlalu ketat dan menolak banyak barang atau reject, kita dianggap hanya merusak pasokan logistik. Kami dituduh cari-cari kesalahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kalau kami sedikit melonggarkan standar demi solidaritas sesama rekan kerja, atau vendor yang baik hati hingga ternyata barang itu bermasalah, kami pulalah yang pertama kali diseret ke meja manajemen.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Quality Control, korban perang dingin divisi lain<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada jarak sosial yang tidak tertulis antara QC dan divisi lain. Karena tugas kami adalah memeriksa bahkan menggagalkan hasil kerja orang lain, kami sering kali menjadi korban perang dingin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Obrolan yang tadinya seru bisa tiba-tiba sunyi saat seorang QC bergabung. Mungkin mereka takut kalau-kalau kami akan menginspeksi pekerjaannya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Quality Control, pahlawan tanpa panggung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat produk laku keras dan perusahaan untung besar, semua pujian akan mengalir ke tim desain yang kreatif atau tim pemasaran yang jago jualan. Mereka dianggap pahlawan yang membawa uang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara kami, Quality Control, tetap di pojok ruangan, memastikan standar tetap terjaga tanpa pernah disebut dalam pidato keberhasilan. Kami adalah pahlawan tanpa panggung yang jasanya hanya diingat saat terjadi kegagalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski sering dicaci dan diacuhkan, ada kepuasan batin yang aneh bagi seorang QC. Ada rasa bangga yang tersimpan saat kami tahu bahwa barang yang sampai ke tangan konsumen adalah yang terbaik karena ketegasan kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami mungkin tidak butuh tepuk tangan atau pujian setinggi langit. Kami hanya butuh sedikit pengertian bahwa kami ada untuk melindungi nama baik perusahaan, bukan untuk menjadi musuh bagi rekan kerja sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi Quality Control memang bukan jalan menuju popularitas. Ini adalah jalan sunyi tentang integritas yang sering kali dibayar dengan rasa pegal di mata dan sesak di dada. Tapi ya mau bagaimana lagi, kalau bukan kami yang menjaga kualitas, siapa lagi yang mau peduli pada detail-detail kecil yang menentukan hidup matinya sebuah produk?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dodik Suprayogi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/operator-qc-the-unsung-heroes-yang-kerap-bernasib-getir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Operator QC, The Unsung Heroes yang Kerap Bernasib Getir<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi Quality Control memang bukan jalan menuju popularitas. Profesi ini tidak dibayar dengan pujian, malah kerap dengan sesak dan pegal.<\/p>\n","protected":false},"author":2731,"featured_media":404586,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[33637,33636,8256],"class_list":["post-404478","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-divisi-qc","tag-profesi-qc","tag-quality-control"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404478","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2731"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=404478"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404478\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":404588,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404478\/revisions\/404588"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/404586"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=404478"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=404478"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=404478"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}