{"id":404457,"date":"2026-06-06T08:34:26","date_gmt":"2026-06-06T01:34:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=404457"},"modified":"2026-06-06T08:34:26","modified_gmt":"2026-06-06T01:34:26","slug":"kopi-klotok-antre-banget-dan-mahal-warga-jogja-pilih-menghindar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kopi-klotok-antre-banget-dan-mahal-warga-jogja-pilih-menghindar\/","title":{"rendered":"Kopi Klotok: Kuliner Wajib bagi Wisatawan, tapi Semakin Banyak Warga Lokal Jogja yang Memilih Menjauh dan Mencari Tempat Lain"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada satu nama tempat makan yang hampir pasti muncul ketika wisatawan bertanya soal kuliner di Jogja, jawabannya adalah Kopi Klotok. Saya bahkan punya beberapa teman dari luar kota yang merasa kunjungannya ke Jogja belum lengkap kalau belum sarapan atau makan siang di sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maklum, di media sosial, Kopi Klotok juga hampir selalu masuk <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kopi-klotok-jogja-punya-3-menu-penghilang-selera\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">daftar rekomendasi kuliner<\/a>. Pemandangan sawah, suasana pedesaan, menu rumahan, dan konsep tradisionalnya memang menjual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, beberapa waktu lalu saya berbincang dengan sepupu saya yang tinggal di Jogja. Ketika saya menyinggung soal Kopi Klotok, responsnya justru di luar dugaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Malas ke sana sekarang,&#8221; katanya singkat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasannya? Malas dengan antreannya yang panjang.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/kopi-klotok-jogja-masih-terus-kecolongan-karena-anak-kos\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sempat Viral, Hingga Kini Kopi Klotok Masih Rutin Rugi Puluhan Porsi karena Pelanggan Anak Kos Tak Bayar<\/a><\/p>\n<h2><b>Kopi Klotok tak lagi menarik untuk warga lokal Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, kondisi Kopi Klotok sekarang jauh berbeda. Dulu, dia masih bisa datang dengan santai, menikmati kopi, makan pisang goreng, lalu pulang tanpa harus memikirkan antrean panjang atau mencari tempat duduk yang kosong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang? Kadang baru sampai area parkir saja sudah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-jogja-malas-kulineran-di-kopi-klotok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">membuat orang malas<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepupu saya, kalau mau ke Kopi Klotok, memilih hari kerja dan datang pagi-pagi sekali. Bukan karena suasananya lebih romantis atau udaranya lebih segar, melainkan karena peluang mendapatkan tempat duduk jauh lebih besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi wisatawan, antrean mungkin bagian dari pengalaman. Bagi warga lokal, antrean panjang adalah alasan untuk mencari tempat lain. Dan menurut saya, di sinilah letak perbedaan cara pandang antara wisatawan dan warga setempat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perbedaan soal \u201cwaktu\u201d bagi wisatawan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wisatawan datang ke Jogja beberapa hari dalam setahun. Mereka rela menghabiskan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang sudah lama masuk daftar tujuan. Kalau harus antre satu jam demi Kopi Klotok, itu masih wajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara warga lokal, ya mereka tidak memiliki urgensi yang sama. Kalau ingin makan sayur lodeh, telur dadar, atau pisang goreng, mereka tahu masih banyak tempat lain. Bahkan tanpa harus berebut meja dengan ratusan wisatawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepupu saya bahkan bercanda. Sebagian besar warga Jogja mungkin lebih hafal jalan alternatif menuju tempat makan lain daripada hafal menu terbaru di Kopi Klotok. Tentu saja itu berlebihan. Namun ada sedikit kebenaran di dalamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena bagi warga lokal, faktor rasa bukan satu-satunya pertimbangan ketika memilih tempat makan. Ada faktor kenyamanan, waktu, akses, harga, dan suasana.<\/span><\/p>\n<h2><b>Harga di Kopi Klotok yang jadi pertimbangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal rasa, sepupu saya mengaku tidak ada masalah. Dia sudah pernah mencoba menu-menu di Kopi Klotok jauh sebelum viral. Menurutnya enak. Tetapi tidak sampai bikin warga lokal Jogja rela menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu komentar yang menurut saya cukup menarik. Dia bilang kalau harga di Kopi Klotok itu sekarang lumayan mahal jika membandingkannya dengan warung makan lokal lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang sebuah tempat makan mengalami transformasi yang menarik ketika menjadi viral. Awalnya, misalnya, Kopi Klotok melayani warga sekitar dan pengunjung biasa. Namun setelah popularitasnya meledak, fungsi tempat tersebut perlahan berubah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan lagi sekadar tempat makan. Melainkan destinasi wisata. Dan destinasi wisata memiliki aturan yang berbeda dengan warung langganan warga lokal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Datang, bukan hanya untuk mengisi perut<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang datang ke Kopi Klotok bukan hanya untuk makan. Mereka datang untuk merasakan pengalaman melihat pemandangan sawah yang sering muncul di media sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka juga datang untuk menegaskan bahwa mereka pernah ke sana. Tujuannya, ya mendapatkan foto yang sama seperti yang mereka lihat di TikTok atau Instagram. Sebuah pengakuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kondisi seperti itu, rasa makanan di Kopi Klotok bukan lagi aktor utama. Suasana dan pengalaman justru menjadi bintang utamanya. Itulah sebabnya saya selalu menganggap Kopi Klotok sebagai tempat yang wajib dicoba wisatawan setidaknya sekali.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/3-kuliner-jogja-yang-tidak-lagi-merakyat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat: Ketika Lidah Lokal yang Murah Direbut oleh Lidah Wisatawan yang Dipaksa Mahal<\/a><\/p>\n<h2><b>Bukan pilihan utama bagi warga lokal Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sedang berlibur ke Jogja, saya juga tidak akan melarang orang datang ke sana. Justru saya paham kenapa Kopi Klotok begitu populer. Pemandangannya menarik, konsepnya kuat, dan menawarkan pengalaman yang <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kopi_kothok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">berbeda dari restoran biasa<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya juga paham warga Jogja sendiri jarang menjadikannya pilihan utama. Mereka tak punya kemewahan waktu untuk menjadikan antrean sebagai \u201ckegiatan seru\u201d seperti wisatawan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka cenderung cari tempat lain. Yang bisa makan dengan nyaman. Dan itulah tanda paling jelas bahwa sebuah tempat telah benar-benar menjadi ikon wisata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Intan Permata Putri<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/kopi-klotok-jogja-makin-gila-ramainya-nggak-masuk-akal\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kopi Klotok Jogja Bikin Malas Warga Lokal, tapi Dicintai Wisatawan meski Harus Antre Panjang sambil Berdiri Sampai 1 Jam<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagian besar warga Jogja yang saya kenal memilih menghindar kalau mendengar rencana kulineran di Kopi Klotok. Malas dan kini mahal.<\/p>\n","protected":false},"author":3096,"featured_media":404930,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[33669,115,5898,4418,20086,27971,20084,20085,10038],"class_list":["post-404457","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-antrean-kopi-klotok","tag-jogja","tag-kopi-klotok","tag-kuliner-jogja","tag-pisang-goreng-kopi-klotok","tag-rekomendasi-wisata-jogja","tag-sayur-lodeh","tag-sayur-lodeh-kopi-klotok","tag-wisata-jogja"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404457","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3096"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=404457"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404457\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":404931,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404457\/revisions\/404931"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/404930"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=404457"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=404457"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=404457"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}