{"id":404070,"date":"2026-05-29T11:07:23","date_gmt":"2026-05-29T04:07:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=404070"},"modified":"2026-05-29T11:07:23","modified_gmt":"2026-05-29T04:07:23","slug":"11-istilah-penyakit-dalam-bahasa-jawa-yang-terdengar-lucu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/11-istilah-penyakit-dalam-bahasa-jawa-yang-terdengar-lucu\/","title":{"rendered":"11 Istilah Penyakit dalam Bahasa Jawa yang Terdengar Lucu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, di Terminal Mojok saya pernah membahasa kata-kata dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/12-istilah-hujan-yang-terdengar-aneh-dalam-bahasa-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Jawa untuk menyebut hujan<\/a>. Ternyata satu situasi itu bisa diterjemahkan dalam 12 kata yang berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Jawa itu memang kaya. Setiap situasi atau kegiatan punya istilah sendiri-sendiri. Bahkan, kadang, kegiatan atau situasi yang sama bisa punya istilah yang berbeda tergantung konteksnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kali ini, saya akan membahas istilah-istilah penyakit dalam bahasa Jawa. Istilah-istilahnya tidak kalah unik di telinga:\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Lara untuk menggambarkan berbagai macam penyakit dalam bahasa Jawa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah paling umum untuk menyebut sakit dalam bahasa Jawa adalah lara. Dibacanya loro. Lara untuk menggambarkan atau mengungkapkan sakit apa saja. Jadi lawan bicara belum tahu penyakit spesifik yang dirasakan atau diderita oleh orang yang sakit. Misalnya, \u201cAku rasido melu dolan, palah lara\u201d yang artinya Aku nggak jadi ikut main karena sakit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dari contoh percakapan tersebut lawan bicara tahu jika sakit tapi belum tahu sakit apa yang diderita. Penggunaan kata lara digunakan untuk teman sebaya atau yang lebih mudah. Tidak digunakan untuk orang yang lebih tua.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Gerah bahasa Jawa krama dari lara<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menjelaskan atau menanyakan rasa sakit ke yang lebih tua menggunakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-kosakata-bahasa-jawa-yang-sering-salah-penggunaannya-part-2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Jawa krama<\/a> gerah. \u201cNgapunten jenengan nembe gerah punapa?\u201d yang artinya Maaf kamu lagi sakit apa? Itu contoh penggunaan gerah dalam dialog sehari-hari.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Boyoken untuk menyebut sakit punggung dalam bahasa Jawa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paling sering yang dirasakan saat sudah berumur atau kecapekan adalah sakit pinggang atau punggung. Dalam bahasa Jawa istilah untuk mengungkapkan ini disebut boyoken. Contohnya jika dipakai dalam dialog sehari-hari, \u201caku rasido melu malah boyoken\u201d Maknanya aku nggak jadi ikut karena sakit pinggang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Nggreges untuk menyebut tidak enak badan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat musim hujan biasanya badan terasa nggak enak. Apalagi jika hampir setiap hari kehujanan di jalan. Badan akan tidak nyaman, badan terasa lemas dan badan mulai panas. Kalau dalam bahasa Jawa ini disebut nggreges.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya untuk menggambarkan badan yang nggak enak, panas, flu, dan menggigil. \u201cAku arep prikso sek soale awake nggreges,\u201d yang artinya aku mau periksa ke dokter dulu karena badan nggak enak.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Cumpleng-cumpleng mirip dengan nggreges<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cumpleng-cumpleng hampir mirip dengan greges. Perbedaannya jika ini biasanya didominasi dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/penjaskes\/waspada-sinusitis-yang-mirip-pilek-terus-terusan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">flu dan pusing<\/a>.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Geliyeng untuk menggambarkan rasa pusing yang berlebih dalam bahasa Jawa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah satu ini masih mirip dengan 2 istilah sebelumnya. Bedanya, geliyeng spesifik mendeskripsikan rasa pusing saat berjalan, seperti akan pisang. Mereka yang geliyeng biasanya punya rasa pusing berlebih.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Suduken, bahasa Jawa untuk sakit perut setelah makan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tidak disarankan untuk langsung beraktivitas berat setelah makan supaya perutnya tidak sakit. Nah, rasa sakit perut seperti nyeri tersebut disebut dengan <a href=\"https:\/\/hellosehat.com\/kebugaran\/olahraga-lainnya\/perut-suduken\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">suduken<\/a> dalam bahasa Jawa. Bisa digunakan dalam kalimat seperti ini, \u201cAduh, aku bar playon malah suduken\u201d yang artinya aduh setelah lari aku jadi sakit perut.<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Pilek parah disebut juga dengan sentrepen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sentrepen adalah istilah untuk menggambarkan kondisi pilek parah sering mengganggu pernapasan dan harus sedia tisu banyak. Contoh kalimatnya seperti ini, \u201cAku rasido melu bukber, wong malah sentrepen\u201d yang berarti \u201cAku tidak jadi ikut bukber karena pilek parah\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>#9 Gomen adalah sariawan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya istilah ini sudah jarang lagi terdengar yaitu gomen. Gomen digunakan untuk menjelaskan sariawan. \u201cLagi gomen lara tenan\u201d yang artinya sedang sariawan yang sangat menyakitkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#10 Trimbilen atau bisul mata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah bahasa Jawa satu ini mungkin terdengar lucu, trimbilen. Namun, ketika mengalami penyakitnya, kalian sungguh menderita. Trimbilen adalah istilah digunakan untuk orang yang lagi sakit di bagian mata, tepatnya bisul yang ada di kelopak mata. \u201cSi Andi ra mangkat sekolah amarga trimbilen\u201d yang artinya \u201cSi Andi tidak berangkat sekolah karena bisul di matanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#11 Pancingen, istilah lain dari radang tenggorokan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pancingen juga termasuk istilah yang terdengar lucu. Pancingen digunakan untuk mengungkapkan radang tenggorokan yang sakit banget. \u201cAdek lagi pancingen, dadi nangis terus,\u201d yang berarti Adik sedang radang tenggorokan jadi dari tadi nangis terus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah tadi beberapa istilah sakit dalam bahasa Jawa yang banyak dan terdengar lucu. Kira-kira masih ada istilah sakit lainnya yang populer di daerahmu nggak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-istilah-bahasa-jawa-yang-orang-jawa-sendiri-salah-paham\/\"><b><i>8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbagai istilah dalam bahasa Jawa kadang terdengar lucu di kuping banyak orang. Termasuk, istilah-istilah penyakit. <\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":404114,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[761,1164,763,31,623],"class_list":["post-404070","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-jawa","tag-indonesia","tag-jawa"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404070","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=404070"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404070\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":404119,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404070\/revisions\/404119"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/404114"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=404070"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=404070"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=404070"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}