{"id":404067,"date":"2026-05-29T09:39:21","date_gmt":"2026-05-29T02:39:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=404067"},"modified":"2026-05-29T09:39:21","modified_gmt":"2026-05-29T02:39:21","slug":"korupsi-mandala-krida-bunuh-marwah-jogja-kota-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/korupsi-mandala-krida-bunuh-marwah-jogja-kota-budaya\/","title":{"rendered":"Kasus Korupsi Mandala Krida Membuat Jogja Kehilangan Marwahnya Sebagai Kota Beradab"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja terlalu sering menjual dirinya sebagai kota yang beradab. Saya tumbuh dan besar dengan romantisme itu. Sampai kemudian saya mengikuti kasus korupsi Stadion Mandala Krida.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan saya sadar, Jogja ternyata bisa sama busuknya dengan kota-kota lain ketika uang mulai bicara. Kasus korupsi Mandala Krida bukan cuma soal <a href=\"https:\/\/kpk.go.id\/id\/publikasi-data\/penanganan-perkara\/dugaan-pekerjaan-pembangunan-stadion-mandala-krida-pada-pemerintah-daerah-istimewa-yogyakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">proyek stadion yang bermasalah<\/a>. Ia adalah tamparan keras terhadap marwah kota yang selama ini merasa dirinya lebih santun dan berbudaya. Sebab, di balik beton stadion yang mangkrak, ada kebohongan kolektif yang perlahan runtuh.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/hukum\/kpk-tetapkan-3-tersangka-korupsi-stadion-mandala-krida-sultan-persilakan-proses-hukum\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KPK Tetapkan 3 Tersangka Korupsi Stadion Mandala Krida, Sultan Persilakan Proses Hukum<\/a><\/p>\n<h2><b>Korupsi Mandala Krida meruntuhkan makna budaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita selama ini terlalu percaya bahwa budaya, secara otomatis membuat orang bermoral. Padahal, korupsi tetap tumbuh subur bahkan di kota yang setiap sudutnya penuh jargon tata krama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat saya semakin sedih, Mandala Krida bukan sekadar stadion biasa. Ia denyut kecil yang membuat Jogja tetap terasa hidup di tengah gempuran coffee shop estetik, hotel baru, apartemen, dan turis yang semakin memenuhi kota ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sana orang-orang tumbuh bersama <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mataram-is-love-menyambut-sejuk-persaudaraan-fans-psim-pss-dan-persis-solo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PSIM<\/a>. Ada bapak-bapak yang dulu digendong ayahnya ke tribun dan kini gantian mengajak anaknya menonton. Pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari keramaian pertandingan. Suara drum, flare, peluh, makian wasit, pelukan setelah gol, dan rasa pulang yang tak tergantikan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, semuanya mendadak terasa menyakitkan, runtuh, hanya karena korupsi Mandala Krida. Orang jahat memainkan uang miliaran sampai stadion terbengkalai. Dan PSIM, klub yang begitu melekat dengan identitas Jogja, justru harus jadi pengungsi di kotanya sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jogja gagal menjadi rumah bagi PSIM<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironis sekali. Jogja yang katanya istimewa, bahkan gagal menjaga rumah bagi klub sepak bolanya sendiri. Belakangan, gelombang protes mulai bermunculan. Spanduk bertuliskan \u201c#UsutTuntasKorupsiMandalaKrida\u201d tersebar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suporter mulai terang-terangan menyuarakan kemarahan mereka. Dan saya rasa itu sangat wajar. Orang-orang jahat itu tidak hanya mencuri uang negara, tapi juga rasa memiliki.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian orang mungkin akan berkata, \u201cYa sudah toh PSIM masih bisa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lupakan-glorifikasi-ayo-bangun-persiba-bantul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">main di Bantul<\/a>.\u201d Nah, justru kalimat semacam itu menunjukkan betapa banyak orang gagal memahami makna rumah dalam sepak bola.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Home base bukan sekadar lapangan dengan rumput dan tribun. Stadion adalah identitas geografis dan emosional. Mandala Krida bukan cuma bangunan. Ia bagian dari romantisme Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, ketika PSIM tidak bisa pulang ke Mandala Krida, yang hilang bukan cuma venue pertandingan. Yang hilang adalah ritual kota. Warung-warung kecil kehilangan pembeli. Tukang parkir kehilangan penghasilan. Pedagang jersey kehilangan momentum. Anak-anak muda kehilangan ruang bertemu. Dan Jogja kehilangan salah satu denyut sosialnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Korupsi Mandala Krida jalan di tempat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Korupsi memang sering terasa abstrak sampai dampaknya menyentuh hal-hal yang emosional. Dan korupsi Mandala Krida menyentuh itu semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat saya semakin geram, kasus korupsi Mandala Krida ini seperti berjalan di tempat. Memang sudah ada tersangka dan vonis. Tapi, stadionnya tetap limbung. Status hukumnya masih seperti kabut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah bicara kajian teknis. KPK bicara prosedur. DPRD bicara tahapan. Semua terdengar administratif sekali. Sementara suporter cuma ingin satu hal sederhana, PSIM pulang dan korupsi Mandala Krida diusut tuntas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, Jogja adalah kota yang sangat pintar menjual nostalgia. Kita menjual angkringan sebagai romantisme. Menjual Malioboro sebagai kenangan. Bahkan menjual hujan di Tugu sebagai puisi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ketika kasus korupsi Mandala Krida berlarut-larut, semua mendadak dingin dan birokratis. Tidak ada romantisme di hadapan anggaran, apalagi budaya di hadapan bancakan proyek.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan mungkin di situ letak luka paling menyedihkan dari kasus korupsi Mandala Krida. Ia membuka kenyataan bahwa Jogja tidak seistimewa yang selama ini kita bayangkan. Kota ini ternyata juga bisa tega pada warganya sendiri. Kita hidup di kota yang terlalu sibuk terlihat syahdu sampai lupa membereskan kebusukan di belakang panggungnya.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derby-umr-rendah-kemewahan-yang-hanya-dimiliki-oleh-pss-dan-psim\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta<\/a><\/p>\n<h2><b>Orang Jogja berhak marah melihat kasus korupsi Mandala Krida<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya percaya suporter PSIM marah bukan semata karena stadion. Mereka marah karena merasa dikhianati oleh kotanya sendiri. Karena bagi banyak orang Jogja, PSIM bukan cuma klub bola. Ia identitas kultural dan representasi wong cilik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, ketika kasus korupsi Mandala Krida seret, rasanya seperti melihat seseorang mencuri ruang tamu rumah sendiri lalu meminta kita tetap tersenyum karena \u201cproses hukum sedang berjalan\u201d. Dan kita semua tahu, di negeri ini, kalimat \u201cproses masih berjalan\u201d sering kali cuma cara yang lebih sopan untuk bilang &#8220;sabar saja, lupakan pelan-pelan.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira justru di titik ini masyarakat Jogja harus terus ribut dan bersuara. Karena kalau tidak, kasus korupsi Mandala Krida ini akan selesai hanya sebagai arsip berita dan angka kerugian negara. Padahal, dampaknya jauh lebih panjang dari itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah akan mewariskan kasus korupsi Mandala Krida sebagai rasa sinis generasi muda terhadap kotanya sendiri. Bahwa bahkan di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stadion-mandala-krida-jogja-dikepung-sampah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kota budaya<\/a> sekalipun, korupsi tetap bisa mengusir sebuah klub dari rumahnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari nanti, ketika PSIM benar-benar kembali ke Mandala Krida, kita akan tetap bersorak dan bernyanyi. Namun, ada satu hal yang tidak akan benar-benar kembali seperti dulu, yaitu kepercayaan bahwa Jogja selalu lebih baik dari kota lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, kasus korupsi Mandala Krida<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">sudah mengajarkan kita satu hal penting. Budaya tidak otomatis membuat manusia bermoral. Dan kota yang gagal menjaga rumah sepak bolanya sendiri seharusnya berhenti terlalu sibuk menyebut dirinya istimewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Janu Wisnanto<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/balbalan\/psim-jogja-tabungan-rindu-pulang-ke-mandala-krida\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PSIM Jogja: Tabungan Rindu Pulang ke Mandala Krida, Rumah Tempat PSIM Jogja Dikawal dengan Kasih dan Cinta<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kasus korupsi Mandala Krida mengajarkan satu hal penting. Bahwa budaya Jogja sudah mati dibunuh orang jahat; para koruptor.<\/p>\n","protected":false},"author":2789,"featured_media":404094,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,33590,33591,13870,17169,24573],"class_list":["post-404067","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-kasus-korupsi-mandala-krida","tag-korupsi-mandala-krida","tag-kota-jogja","tag-mandala-krida","tag-stadion-mandala-krida"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404067","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2789"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=404067"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404067\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":404097,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404067\/revisions\/404097"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/404094"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=404067"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=404067"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=404067"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}