{"id":403918,"date":"2026-05-27T08:56:42","date_gmt":"2026-05-27T01:56:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=403918"},"modified":"2026-05-27T08:56:42","modified_gmt":"2026-05-27T01:56:42","slug":"ketika-jogja-menampar-orang-makassar-yang-sedang-merantau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketika-jogja-menampar-orang-makassar-yang-sedang-merantau\/","title":{"rendered":"Culture Shock Orang Makassar ketika Merantau ke Jogja: Ketika Sopan Santun Orang Jogja Lebih Misterius ketimbang Rumus Fisika Kuantum"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merantau, bagi kami orang Makassar, bukan hanya sekadar berpindah tempat. Ini sebuah ritual &#8220;siri\u2019&#8221; tentang harga diri. Namun, apa jadinya ketika ego &#8220;<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ewako\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ewako<\/a>&#8221; yang menyala-nyala itu mendarat di tanah yang menjunjung tinggi prinsip &#8220;Alon-alon waton kelakon&#8221; yaitu Jogja?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasilnya sebuah culture shock yang lebih dahsyat daripada sekadar kaget melihat harga nasi kucing yang lebih murah daripada parkir motor di Pantai Losari. Jogja, bagi seorang pendatang dari Sulawesi Selatan khususnya Makassar, adalah sebuah planet dengan gravitasi yang berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja, di dalamnya, terasa lambat, lunak, dan sering membuat kami yang terbiasa dengan ritme cepat serta suara lantang menjadi merasa seperti raksasa yang masuk ke toko keramik. Salah gerak sedikit, pecah segalanya.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makassar-kota-impian-masa-depan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Alasan Makassar Semakin Layak Menjadi Kota Impian Masa Depan, Nomor 1 Paling Menyenangkan Bagi Warganya<\/a><\/p>\n<h2><b>Logat dan volume yang menampar orang Makassar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal pertama yang akan menampar wajahmu saat tiba di Jogja adalah urusan volume suara. Di Makassar, volume suara kami adalah standar pabrik di angka delapan. Bicara dengan teman di seberang jalan dengan teriakan adalah hal lumrah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jogja, kebiasaan ini ibarat kata tiket cepat untuk dianggap sedang mengamuk. Saya sering mengalami ini di bulan-bulan pertama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu kali saya memesan kopi. Saya memakai nada yang menurut saya <a href=\"http:\/\/6 Hal Terkait Makassar yang Kerap Disalahpahami\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">&#8220;normal&#8221; dan &#8220;ramah&#8221;.<\/a> Eh, mas-mas baristanya malah melihat saya dengan tatapan seolah-olah saya baru saja mengancam akan membakar kafe dan merusak fasilitasnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, saya hanya mau nanya, apakah gulanya bisa dipisah. Di sinilah letak culture shock paling mendasar. Di Jogja, keramahan diukur dari seberapa rendah desibel suaramu. Sementara di Makassar, keakraban justru sering kami validasi dengan seberapa seru (baca: ribut) obrolan. Kami terbiasa dengan diksi tegas, apalagi bagi yang tinggal di sekitar pesisir pantai (Barombong).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, kata &#8220;Ayo!&#8221; di Makassar bisa terdengar seperti perintah perang. Sementara di Jogja, warga membungkusnya dengan lapis-lapis kesantunan seperti \u201cmonggo\u201d atau \u201cbilih kersa\u201d. Kalau kamu terjemahkan ke mindset orang Makassar yang praktis, butuh waktu loading sekitar lima detik baru bisa paham maksudnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Estetika kecepatan vs seni menikmati waktu di Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan ritme hidup ini juga menyerang urusan transportasi dan birokrasi kecil-kecilan. Di Makassar, kalau lampu hijau menyala dan kamu masih bengong, tidak langsung tancap gas dalam 0,5 detik, orkestra klakson di belakangmu akan berbunyi layaknya konser metal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di Jogja, orang bisa sangat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengendara-jogja-jarang-klakson-bukan-berarti-mereka-beradab\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">santai di lampu merah<\/a>. Mereka seolah punya cadangan kesabaran yang tidak ada batasnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, ini menyiksa. Makassar membesarkan saya dalam budaya yang menghargai efisiensi dan kecepatan. Melihat orang Jogja yang &#8220;selo&#8221; itu rasanya ingin saya beri asupan Coto Makassar supaya tensinya naik sedikit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun lambat laun, saya menyadari bahwa ini adalah benturan filosofi. Orang Makassar itu &#8220;pelaut&#8221;. Kami mengejar ombak, mengejar waktu. Orang Jogja itu &#8220;agraris&#8221;. mereka menunggu musim dan percaya bahwa segala sesuatu akan tiba pada waktunya jika kita tekun menanti.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lidah orang Makassar yang &#8220;tersiksa&#8221; gula<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan lupakan urusan perut. Ini adalah medan perang culture shock yang paling nyata. Bagi lidah Makassar yang tumbuh bersama garam, vetsin yang melimpah, asam mangga, dan pedasnya sambal &#8220;cobek-cobek&#8221;, masakan Jogja seperti sebuah anomali medis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minggu pertama di Jogja, saya merasa seperti sedang makan hidangan penutup (dessert) sepanjang hari. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gudeg-adalah-makanan-khas-jogja-paling-mengecewakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gudeg yang legendaris itu<\/a>, bagi saya, adalah nangka yang salah masuk ke kuali kolak. Manisnya bukan main!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, di Makassar, kami makan ikan bolu (bandeng) yang segar dengan perasan jeruk nipis yang bikin mata merem-melek. Di sini, sayur lodeh pun bisa terasa seperti teh manis dengan tambahan gula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Krisis identitas kuliner ini biasanya berakhir dengan perburuan toko bahan makanan yang menjual sambal terasi. Atau setidaknya mencari warung burjo yang punya stok cabai rawit ekstra.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi hikmahnya, setelah hampir setahun di sini, saya jadi belajar bahwa rasa manis itu menenangkan. Mungkin itulah kenapa orang Jogja jarang emosian. Kadar glukosa dalam darah mereka selalu terjaga di level &#8220;bahagia&#8221;.<\/span><\/p>\n<h2><b>&#8220;Siri\u2019 na Pacce&#8221; di tengah kesantunan Jawa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puncak dari segala culture shock ini adalah saat ketika mencoba mengaplikasikan nilai \u201csiri\u2019 na Pacce\u201d (harga diri dan empati) dalam pergaulan sosial di Jogja. Di Makassar, kalau tidak suka, ya bilang tidak suka. Kalau ada masalah, kita selesaikan saat itu juga, kalau perlu dengan perdebatan sengit. Straight to the point.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di Jogja, ada seni menghindari konflik langsung. Mereka sangat jarang mengatakan &#8220;tidak&#8221; secara gamblang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka akan menggunakan kalimat bersayap seperti &#8220;Insyaallah,&#8221; atau &#8220;Nggih, mangke dipun pirsani riyen&#8221;. Bagi orang Makassar, ini bisa sangat membingungkan. Kami pikir urusannya sudah beres, padahal itu adalah cara halus mereka untuk bilang &#8220;Saya keberatan.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Butuh kedewasaan ekstra untuk memahami bahwa diamnya orang Jogja bukan berarti setuju, dan rendah hati mereka bukan berarti lemah. Sebaliknya, mereka mungkin sedang menilai seberapa &#8220;liar&#8221; kami sebagai pendatang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya belajar bahwa siri\u2019 (harga diri) tidak selalu harus saya tegakkan dengan suara keras atau dada membusung. Kadang, siri\u2019 justru bisa saya jaga dengan kemampuan kami beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tempat-makan-di-makassar-yang-bisa-bikin-salah-paham\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Tempat Makan di Makassar yang Bisa Bikin Salah Paham, Dikira Biasa Ternyata Makanan Ekstrem<\/a><\/p>\n<h2><b>Menemukan titik temu bagi orang Makassar di Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, apakah orang Makassar tidak cocok menetap di Jogja? Justru sebaliknya. Jogja merupakan sebuah laboratorium terbaik untuk melunakkan sudut-sudut tajam karakter kami orang Makassar tanpa menumpulkan prinsip-prinsip identitas diri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merantau ke Jogja mengajarkan bahwa keberanian (ewako) itu butuh wadah kesabaran. Kami membawa semangat membara dari pesisir Sulawesi, lalu Jogja menyiramnya dengan air ketenangan dari kaki Merapi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasilnya, sebuah harmoni yang unik. Kami jadi orang Makassar yang tetap berani, tapi tahu kapan harus berbicara pelan. Kami tetap bangga dengan identitas, tapi mulai bisa menikmati sepiring gudeg tanpa harus mengeluh tentang rasa manisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, culture shock ini bukan tentang siapa yang lebih benar atau siapa yang lebih sopan. Ini tentang bagaimana kita menyadari bahwa Indonesia itu luas sekali, dan Makassar hanyalah salah satu warnanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja memberikan ruang bagi kita untuk melihat diri sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Jadi, untuk kawan-kawan dari Makassar yang baru mendarat di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/terbiasa-di-stasiun-tugu-kaget-chaosnya-stasiun-lempuyangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Stasiun Lempuyangan<\/a> atau Bandara YIA, tenangkan hatimu. Simpan dulu urat lehermu yang tegang itu. Nikmati saja prosesnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena nanti, saat pulang ke Makassar, kamu akan merindukan suara &#8220;Nggih, Mas&#8221; yang lembut itu. Yah, meskipun saat ini suara itu terdengar lebih misterius daripada rumus fisika kuantum. Selamat merantau. Tetap ewako, tapi jangan lupa unggah-ungguh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Andi Muhammad Alief<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-tetaplah-kota-terbaik-untuk-ditinggali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Tetaplah Kota Terbaik untuk Ditinggali, sekalipun Mukanya Berair karena Banjir, dan Penuh Jerawat Berbentuk Tukang Parkir Liar<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah membaca artikel ini, kamu akan tahu &#8220;tamparan&#8221; yang kami, orang Makassar rasakan, ketika merantau ke Jogja.<\/p>\n","protected":false},"author":3263,"featured_media":403944,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[13059,2895,5883,33583,2374,115,2380,3022,33582,1267],"class_list":["post-403918","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-adat-jawa","tag-budaya-jawa","tag-coto-makassar","tag-ewako","tag-gudeg","tag-jogja","tag-makassar","tag-orang-makassar","tag-orang-makassar-merantau","tag-sulawesi"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403918","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3263"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=403918"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403918\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":403946,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403918\/revisions\/403946"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/403944"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=403918"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=403918"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=403918"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}