{"id":403741,"date":"2026-05-26T11:42:32","date_gmt":"2026-05-26T04:42:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=403741"},"modified":"2026-05-26T11:42:32","modified_gmt":"2026-05-26T04:42:32","slug":"teror-pocong-tidak-akan-laku-di-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/teror-pocong-tidak-akan-laku-di-jogja\/","title":{"rendered":"3 Alasan Teror Pocong Tidak Akan Laku di Jogja, Klitih Lebih Nyata dan Lebih Mengerikan ketimbang Pocong Palsu!"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Teror pocong tidak akan menjadi ancaman bagi warga Jogja. Banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan ketimbang satu teror palsu ini<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merebaknya teror pocong di beberapa daerah saat ini membuat heboh banyak orang. Seperti yang diberitakan di beberapa media, kini banyak sekali <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/teror-pocong-hoaks-terstruktur-yang-mengeksploitasi-psikologis-masyarakat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pocong jadi-jadian<\/a> yang muncul tiap malam untuk meneror masyarakat. Selain meresahkan masyarakat, teror ini dianggap janggal karena terjadi secara masif dan tiba-tiba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teror pocong yang sedang marak ini memiliki motif yang berbeda-beda. Ada yang menyamar menjadi pocong dan berdiri di sudut-sudut jalan, lalu berdiam diri menunggu orang lewat. Lalu ada pula yang berdiam di depan rumah warga untuk menakut-nakuti penghuni rumah. Aksi ini banyak dilakukan saat tengah malam untuk menebar ketakutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun demikian, saya berani bilang bahwa teror pocong semacam ini tidak akan berhasil jika terjadi di Jogja. Saya yakin orang Jogja tidak akan mudah terpengaruh dengan teror ini. Berikut alasannya<\/span><\/p>\n<h2><b>Lebih takut teror klitih ketimbang pocong<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada yang bilang orang Jogja akan takut dengan teror pocong ini, itu keliru besar. Masyarakat Jogja sejatinya punya ketakutan yang lebih besar ketimbang ancaman pocong. Ya, itulah teror klitih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya sebagai orang Jogja sudah kenyang belasan tahun melihat berbagai fenomena klitih yang tak pernah usai. Teror ini nyatanya lebih menakutkan karena jelas-jelas mengancam nyawa. Bahkan bisa dibilang teror paling seram, karena menghantui pikiran masyarakatnya sejak lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini masih ditambah banyaknya kejahatan malam lainnya seperti tawuran antarpelajar, hingga balapan liar yang sering mengundang korban jiwa. Kondisi ini membuktikan bahwa kejahatan klitih adalah masalah yang lebih serius di Jogja dibanding teror pocong.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/maljum\/pocong-dan-bau-amis-darah-puncak-teror-di-sleman-utara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Kegilaan dari Teror yang Tak Kunjung Usai di Kontrakan Pocong Ring Road Utara Sleman<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Masyarakat Jogja sudah lama hidup berdampingan dengan mitos dan cerita mistis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kebal teror pocong, orang Jogja sudah sedari lama hidup dalam bayang-bayang cerita mistis. Beragam cerita pamali, mitos dari orang tua, kakek-nenek, hingga buyut sudah banyak didengar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi orang Jogja hidup di atas tanah yang sejak dulu erat memegang budaya dan tradisinya. Tentu banyak juga hal-hal supranatural yang masih kental dipercaya sebagai bagian dari kebudayaan leluhur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situ saja, kehidupan orang Jogja ini sudah sangat lekat dengan hal-hal yang bersifat gaib. Jadi mau ditakut-takuti dengan pocong, apalagi pocong jadi-jadian, tentu cuma hal remeh bagi orang Jogja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Teror pocong hanya jadi lelucon apabila masuk akun Merapi Uncover<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau masih ada yang nekat melakukan teror pocong di Jogja, hati-hati saja. Ingat, di Jogja sendiri ada sebuah akun besar bernama @merapiuncover yang sukses menguliti berbagai fenomena yang terjadi di Jogja. Banyak orang terkena mental setelah viral di akun ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak bisa membayangkan jika nantinya teror ini menjadi viral di Jogja. Bukannya menjadi ketakutan masyarakat, malah jadi bahan gunjingan bagi orang Jogja sendiri. Bahkan, banyak orang Jogja sendiri mengaku kalau masuk konten Merapi Uncover adalah titik terendah dalam hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Utamanya di era saat ini, media sosial adalah tempat terbaik meluapkan emosi. Belum lagi banyaknya masalah sosial ekonomi yang ada di Kota Istimewa, tentunya membuat masyarakat butuh tempat terbaik untuk melampiaskan keluh kesahnya. Akun Merapi Uncover adalah sasaran yang pas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah alasan mengapa teror pocong tidak akan terlalu menjadi ancaman bagi warga Jogja. Sebelum adanya teror pocong palsu ini, kami sudah terlebih dahulu mendapat ancaman hidup yang nyata sekaligus membahayakan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Georgius Cokky Galang Sarendra<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/seni\/alasan-kita-takut-pocong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teror pocong tidak akan menjadi ancaman bagi warga Jogja. Banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan ketimbang satu teror palsu ini.<\/p>\n","protected":false},"author":2698,"featured_media":403862,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,33576,3872,3337],"class_list":["post-403741","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-merapi-uncover","tag-pocong","tag-teror-pocong"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403741","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2698"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=403741"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403741\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":403865,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403741\/revisions\/403865"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/403862"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=403741"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=403741"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=403741"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}