{"id":403590,"date":"2026-05-24T14:32:51","date_gmt":"2026-05-24T07:32:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=403590"},"modified":"2026-05-24T14:32:51","modified_gmt":"2026-05-24T07:32:51","slug":"nasib-guru-pns-muda-di-sekolah-boomer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-guru-pns-muda-di-sekolah-boomer\/","title":{"rendered":"Nasib Guru PNS Muda di Sekolah Boomer: Dianggap Dewa Teknologi, Berakhir Jadi Kurikulum Abadi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi PNS di usia muda adalah pencapaian luar biasa. Setidaknya, begitu anggapan mertua. Tapi, kenyataan di lapangan sering kali berbeda. Para pemegang SK baru harus sabar merasakan perpeloncoan sambil menunggu PNS baru berikutnya untuk bisa menghela nafas sejenak dari pekerjaan. Bayangkan skenarionya: kamu adalah satu-satunya PNS muda di sebuah sekolah yang isinya adalah para senior angkatan baby boomers. Ya, kebetulan (dan mungkin sayangnya), saya adalah guru PNS muda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sekolah ini, kamu bukan lagi sekadar guru. Kamu adalah entitas mistis. Kamu dianggap sebagai dewa yang bisa melakukan apa saja, mulai dari membetulkan proyektor mati, mendesain spanduk kelulusan, hingga memindahkan gunung (kalau ada aplikasinya di PlayStore).<\/span><\/p>\n<h2><b>Mantra sakti: &#8220;dulu waktu muda, saya juga seperti kamu&#8221;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, pujian dari para senior terasa menyenangkan di telinga guru PNS muda. &#8220;Wah, si Bapak\/Ibu muda ini pinter banget ya, serba bisa!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, lama-lama pujian itu berubah menjadi jebakan batman. Setiap kali ada tugas baru yang menumpuk di meja, para senior akan mengeluarkan kalimat pemungkas yang sudah diwariskan turun-temurun: &#8220;Tolong dikerjakan ya, Dik. <\/span><b>Kan kamu masih muda, otaknya masih segar<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Dulu waktu saya seumur kamu, saya juga pegang semua urusan sekolah, bisa apa saja!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mantra sakti ini otomatis menutup ruang negosiasi. Mau menolak? Nanti dibilang tidak hormat sama senior. Mau menerima? Beban kerja sudah mirip kepala dinas, padahal gaji dan tunjangan tetap di level golongan paling bawah. Alhasil, pemeo &#8220;yang muda yang berkarya&#8221; di sekolah bergeser makna menjadi &#8220;yang muda yang kerja rodi&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/pengangkatan-pns-guru-sulitnya-dua-kali-lipat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Susahnya Jadi Guru Matematika, Gaji Tak Sampai Rp500 Ribu per Bulan Masih Ribet dengan Syarat CPNS<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Kutukan guru PNS muda: menjadi Kurikulum Abadi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dipikir-pikir pekerjaan banyak ini dimulai sejak 5 tahun yang lalu, saat puncak dari segala apresiasi berkedok eksploitasi ini ketika Kepala Sekolah memanggil ke ruangan. Dengan senyum penuh arti, beliau menunjuk saya menjadi ketua urusan kurikulum. Selamat! Sejak hari itu, saya resmi menyandang gelar: Kurikulum Abadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak saat itu, garis hidup saya sepenuhnya dikendalikan oleh kata &#8220;kurikulum&#8221;. Hebatnya, definisi kurikulum di sekolah ini sangatlah elastis. Urusan administrasi mengajar, raport digital, dan dokumen 1 <a href=\"https:\/\/kurikulum.kemendikdasmen.go.id\/file\/1755670818_manage_file.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kurikulum Satuan Pendidikan<\/a>? Oke, itu memang tugas kurikulum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kenapa ketika PMI dan Puskesmas mengadakan workshop kesehatan, kurikulum yang harus maju di depan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan yang paling ajaib adalah urusan acara perpisahan sekolah. Dari mulai menyusun konsep acara, memilih panggung, sampai menjadi MC acara segala acara garda terdepannya tetap: KURIKULUM.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tolong ya, pekerjaan itu bisa di-breakdown!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, sebagai guru PNS muda, kita tidak masalah untuk belajar dan mengurus banyak hal. Kami paham bahwa teknologi dan digitalisasi adalah ranah kami. Kalau disuruh mengoperasikan aplikasi rapor online, bikin media pembelajaran interaktif, atau mengedit video profil sekolah, kami akan kerjakan dengan senang hati. Itu masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, masa iya tugas non-teknologi yang sifatnya fisik dan administratif manual harus dilemparkan ke kami juga?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan perpisahan sekolah, misalnya. Menghubungi tempat penyewaan tenda atau menyusun kursi itu tidak butuh keahlian khusus mengoperasikan AI. Semua orang dari segala kelompok usia\u2014selama fisiknya sehat\u2014pasti bisa melakukannya. Masa iya yang nulis susunan acara sekaligus melatih anak-anak jadi MC saya? kan ada guru Bahasa Indonesia ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pekerjaan sekolah itu harusnya bisa di-breakdown dan dibagi rata. Jangan mentang-mentang yang tua sudah merasa &#8220;senior&#8221;, lalu tugas yang tidak butuh teknologi pun ikut dioper ke yang muda dengan alasan nostalgia zaman dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi satu-satunya guru muda di antara para boomers memang melatih kesabaran setingkat dewa. Namun ingat, pundak guru muda juga bisa encok. Tolong para senior, kami ini PNS muda, bukan pahlawan Avengers yang bisa menyelesaikan semua masalah sekolah seorang diri!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Intan Wahyu Permana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/guru-honorer-temanggung-serius-ngajar-meski-gaji-kecil-malah-dimusuhi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Guru Honorer Temanggung Totalitas dan Serius Ngajar meski Gaji Nggak Sampai Rp500 Ribu, Malah Dimusuhi karena Dianggap Bikin Repot Guru PNS Bergaji Lebih Besar tapi Nggak Niat Ngajar<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bayangkan skenarionya: kamu adalah satu-satunya guru PNS muda di sebuah sekolah yang isinya adalah para senior angkatan baby boomers.<\/p>\n","protected":false},"author":3259,"featured_media":294911,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[18443,2420,30400,13150],"class_list":["post-403590","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-guru-pns","tag-pns","tag-pns-muda","tag-sk-pns"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403590","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3259"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=403590"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403590\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":403644,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403590\/revisions\/403644"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/294911"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=403590"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=403590"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=403590"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}