{"id":403401,"date":"2026-05-22T14:13:16","date_gmt":"2026-05-22T07:13:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=403401"},"modified":"2026-05-22T14:13:16","modified_gmt":"2026-05-22T07:13:16","slug":"sentolo-kulon-progo-berubah-warlok-kebangian-jadi-penonton-aja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sentolo-kulon-progo-berubah-warlok-kebangian-jadi-penonton-aja\/","title":{"rendered":"Sentolo Kulon Progo Banyak Berubah dan Warlok Kebagian Jadi Penonton Aja\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian yang kerap bepergian dari Jogja ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/bandara-yia-gagal-bikin-jogja-butuh-bandara-baru-lagi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bandara YIA<\/a> atau sebaliknya, pasti akrab dengan daerah bernama Sentolo Kulon Progo. Orang-orang menandai daerah ini dengan jalan aspalnya yang panjang dan lurus. Itu mengapa banyak orang memilih menginjak gas kendaraan alias ngebut ketika melewati daerah ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kalau mau sedikit melambatkan laju kendaraan, kalian sebenarnya bisa menangkap pemandangan ganjil nan ironis di daerah ini.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di satu sisi jalan, kalian akan disuguhi pemandangan asap pabrik garmen raksasa, deretan beton, dan truk-truk kontainer yang terparkir gemuk. Di sisi jalan lain, persis di seberang pabrik tersebut, terhampar sawah hijau yang luas lengkap dengan beberapa ekor bebek dan bapak-bapak petani yang sedang bertopi caping.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah wajah Sentolo Kulon Progo hari ini. Ia terjebak\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dalam dilema tata ruang yang serba tanggung. Rasa-rasanya kurang cocok menyebutnya desa karena sudah jadi \u201crumah\u201d bagi berbagai industri. Menyebut Sentolo dengan kota juga terasa nggak pas karena fasilitasnya tidak selengkap itu, pun di waktu-waktu tertentu masih sepi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kulon-progo-bukan-tempat-sempurna-untuk-slow-living\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca juga Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living.<\/a><\/em><\/p>\n<h2><b>Realitas di lapangan tak seindah ambisinya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menarik kembali ke belakang, krisis identitas Sentolo Kulon Progo dimulai sejak wacana <\/span><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/reel\/C55SmKESjrK\/?hl=en\"><span style=\"font-weight: 400;\">kawasan Industri Sentolo<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> mengemuka. Kalau mau menariknya lebih jauh lagi, wacana ini bisa muncul karena dinilai cukup strategis setelah kehadiran YIA.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanah-tanah kas desa di Sentolo Kulon Progo mulai dilirik investor. Sawah-sawah pelan tapi pasti berubah menjadi pondasi beton, dan lampu-lampu jalan khas kawasan industri mulai dipasang. Ambisinya jelas, Sentolo ingin bertransformasi menjadi pusat ekonomi baru yang modern dan urban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, cetak biru di atas kertas tak seindah realitas di lapangan. Ambisi Sentolo menjadi pusat ekonomi modern dan urban justru membawanya jadi daerah yang tanggung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tidak percaya, coba saja jalan-jalan ke Sentolo lepas pukul delapan malam. Alih-alih menemukan denyut nadi daerah urban, kalian hanya akan disambut oleh jalanan yang sepi senyap dan gelap di beberapa titik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sentolo sukses meniru polusi visual dan bisingnya kendaraan kota di siang hari, tapi gagal mengadopsi fasilitas hiburan dan kehidupan malamnya. Ia menjadi kota yang mati sebelum malam benar-benar larut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Celakanya, di saat fungsi kotanya belum matang, Sentolo sudah terlanjur kehilangan rasa pedesaannya. Ketenangan khas Kulon Progo yang biasanya adem dan lambat pelan-pelan terkikis oleh deru mesin pabrik garmen, tekstil, dan arang. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga lokal kini harus berkompromi dengan debu jalanan dan risiko kecelakaan akibat lalu lalang truk tronton muatan berat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/angkringan-kamar-jenazah-angkringan-aneh-ada-di-kulon-progo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca juga Angkringan Paling Aneh Ada di Kulon Progo: Makan Kenyang Murah Sembari Dapat Pemandangan Sawah, Kereta Api, dan Kamar Jenazah.<\/a><\/em><\/p>\n<h2><b>Warlok Sentolo Kulon Progo terancam jadi penonton<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, masifnya pembangunan industri tidak serta-merta menyulap kesejahteraan warga lokal secara drastis. Kebanyakan dari mereka berakhir menjadi buruh pabrik dengan upah yang harus tunduk pada angka UMK Kulon Progo yang kita semua tahu, masih harus berjuang keras untuk mengejar inflasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, Sentolo hari ini hanya menjadi penonton dari modernisasi yang egois. Ia terjebak di tengah-tengah: tidak semegah dan sehidup Wates sebagai pusat pemerintahan, tapi juga sudah tidak asri seperti Nanggulan yang sukses menjual pemandangan sawah untuk wisata healing. Sentolo menderita sendirian dalam status <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pabrik-di-purbalingga-meningkatkan-kesejahteraan-menghajar-lingkungan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kawasan industri<\/a> yang tanggung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, pemerintah setempat perlu duduk melingkar kembali untuk memikirkan ulang mau dibawa ke mana arah pembangunan daerah\u00a0 ini. Jangan sampai atas nama kemajuan ekonomi, rasa desanya jadi hilang dan mimpi jadi kotanya pun gagal terwujud.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Riko Prihandoyo<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0 <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kulon-progo-bukan-tempat-sempurna-untuk-slow-living\/\"><b><i>Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sentolo Kulon Progo perlahan terus berubah, sementara warga lokalnya terancam hanya kebagian jadi penonton atas perubahan itu. <\/p>\n","protected":false},"author":3072,"featured_media":403507,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[13152,26366,33545,33546,32965,15327],"class_list":["post-403401","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kulon-progo","tag-sentolo","tag-sentolo-kulon-progo","tag-warga-sentolo","tag-warlok","tag-yia"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403401","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3072"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=403401"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403401\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":403509,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403401\/revisions\/403509"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/403507"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=403401"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=403401"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=403401"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}