{"id":403283,"date":"2026-05-20T12:32:13","date_gmt":"2026-05-20T05:32:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=403283"},"modified":"2026-05-20T12:32:13","modified_gmt":"2026-05-20T05:32:13","slug":"bukan-cuma-sambal-yang-manis-chinese-food-di-jogja-juga-ikutan-jadi-manis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-cuma-sambal-yang-manis-chinese-food-di-jogja-juga-ikutan-jadi-manis\/","title":{"rendered":"Bukan Cuma Sambal yang Manis, Chinese Food di Jogja Juga Ikutan Jadi Manis"},"content":{"rendered":"<p><em>Kuliner Jogja manis itu bukan mitos. Bahkan sambal dan chinese food saja kena pengaruhnya<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa bulan lalu saya sempat menulis cerita di <em>Terminal Mojok<\/em> tentang satu hal yang cukup mengganggu selama berada di Jogja, yaitu rasa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makanan-di-jawa-memang-terkenal-manis-tapi-kenapa-sambelnya-ikut-manis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sambalnya yang manis<\/a>. Bukan sekadar manis tipis yang masih bisa dimaklumi, tapi manis yang benar-benar terasa dominan sampai kadang bikin saya bertanya-tanya, ini sambal atau saus karamel versi pedas?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu itu saya mencoba berdamai. Saya berpikir mungkin itu hanya pengalaman sesaat. Mungkin saya salah pilih tempat makan. Atau mungkin lidah saya saja yang belum siap menerima kenyataan bahwa Jogja punya filosofi rasa sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun ternyata, cerita itu belum selesai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu saya kembali lagi ke Jogja karena ada urusan. Kali ini saya datang dengan pengalaman dan strategi. Saya sudah berjanji pada diri sendiri: jangan asal makan. Jangan lagi berharap makanan lokal berubah mengikuti lidah pendatang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau makanan khas Jogja identik manis, berarti saya harus mencari makanan yang secara tradisi rasanya berbeda. Pilihan paling aman menurut saya waktu itu adalah Chinese food.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Logikanya sederhana. Masakan Chinese terkenal gurih, asin, kaya bawang putih, saus tiram, minyak wijen, dan aroma wok yang kuat. Rasa manis biasanya hanya muncul di menu tertentu seperti ayam asam manis atau koloke, bukan di hampir semua hidangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan penuh percaya diri, saya berpikir: ini pasti aman.<\/span><\/p>\n<h2><b>Berburu Chinese Food Halal di Sekitar Malioboro Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena aktivitas saya berada di sekitar <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jalan_Malioboro\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malioboro,<\/a> pencarian pun dimulai dari area itu. Targetnya jelas: Chinese food halal, tempatnya meyakinkan, dan ini penting harganya tidak murah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sengaja memilih restoran yang terlihat serius. Tempatnya bersih, interiornya modern, pengunjungnya ramai, bahkan terlihat seperti destinasi makan keluarga dan wisatawan. Harga menunya pun cukup membuat saya optimis. Dalam pikiran saya, harga yang lebih tinggi biasanya berbanding lurus dengan rasa yang lebih autentik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun memesan menu aman: nasi goreng seafood, capcay, dan ayam lada hitam. Menu klasik yang hampir mustahil gagal di restoran Chinese food mana pun. Setidaknya begitu menurut pengalaman saya di kota lain.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makanan-di-jogja-yang-wajib-banget-dicoba-part-2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Makanan di Jogja yang Wajib Banget Dicoba Part 2<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Suapan pertama yang mengubah segalanya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan datang. Aromanya menggoda. Tampilan meyakinkan. Harapan saya kembali tumbuh. Saya mengambil sendok pertama nasi goreng seafood. Lalu berhenti. Ada sesuatu yang familiar. Bukan aroma bawang putihnya. Bukan rasa gurihnya. Tapi rasa manisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mencoba lagi, memastikan lidah saya tidak salah menilai. Namun hasilnya sama. Ada sentuhan manis yang cukup dominan, sesuatu yang tidak biasanya saya temukan pada nasi goreng Chinese food di kota lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya beralih ke capcay. Masih manis. Ayam lada hitam? Tetap ada rasa manis yang ikut bermain di belakang. Di titik itu saya hanya bisa tertawa kecil. Ternyata bukan cuma sambal yang berubah di Jogja. Bahkan Chinese food pun ikut menyesuaikan diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akhirnya menyadari satu hal, jika kuliner itu hidup. Ia selalu beradaptasi dengan lingkungan tempatnya berada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Restoran tentu tidak memasak hanya berdasarkan resep asli, tetapi juga berdasarkan selera mayoritas pelanggan. Jika sebagian besar pengunjung menyukai rasa manis, maka resep perlahan berubah mengikuti permintaan pasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya lahirlah sesuatu yang unik Chinese food versi Jogja. Bukan sepenuhnya Chinese food tradisional, tapi juga bukan masakan lokal sepenuhnya. Ia adalah hasil kompromi antara identitas kuliner dan preferensi lidah masyarakat setempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Nasi Padang rasanya berbeda di tiap kota. Bakso Malang di luar Malang sering kali berubah karakter. Bahkan makanan cepat saji internasional pun menyesuaikan menu dengan selera lokal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja hanya melakukan hal yang sama dengan satu ciri khas yang sangat kuat: rasa manis.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rasa manis yang diterima tanpa sadar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang mengatakan bahwa rasa manis di Jogja bukan sekadar selera, melainkan bagian dari budaya. Ada gambaran tentang masyarakat yang halus, ramah, dan hangat, yang secara simbolik tercermin dalam rasa makanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pendatang, saya awalnya menganggapnya sebagai tantangan lidah. Namun semakin lama, saya mulai memahami bahwa ini bukan soal benar atau salah. Dan mungkin itulah daya tarik Jogja. Kota ini tidak memaksa dirinya berubah demi pendatang. Justru pendatanglah yang perlahan belajar menyesuaikan diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, setelah beberapa hari berada di Jogja, saya mulai terbiasa. Rasa manis yang awalnya terasa mengganggu perlahan menjadi normal. Bahkan ketika mencicipi makanan di kota lain setelah pulang, saya sempat merasa ada yang kurang. Mungkin lidah memang makhluk yang mudah beradaptasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan kuliner ini akhirnya memberi saya pelajaran sederhana: di Jogja, jangan terlalu keras melawan rasa manis. Karena cepat atau lambat, kita bukan hanya menerima rasa itu\u2014kita ikut memahaminya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi sekarang saya percaya satu hal. Di Jogja, bukan cuma sambal yang manis. Chinese food pun akhirnya ikut berubah rasa. Tanpa sadar, lidah saya juga ikut berubah bersama kota ini.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Intan Permata Putri<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliner\/soto-mie-ayam-jogja-rusak-lidah-orang-lampung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Perantau Lampung Tak Bisa Menikmati Rasa Soto dan Mie Ayam di Jogja karena Sulit Cari yang Nggak Kemanisan, Tersiksa 5 Tahun di Jogja Cuma Bisa Makan Penyetan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuliner Jogja manis itu bukan mitos. Bahkan sambal dan chinese food saja kena pengaruhnya. Benar-benar kuat sekali pengaruhnya.<\/p>\n","protected":false},"author":3172,"featured_media":403298,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[16787,115,33500],"class_list":["post-403283","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-chinese-food","tag-jogja","tag-rasa-makanan-di-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403283","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3172"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=403283"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403283\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":403301,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/403283\/revisions\/403301"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/403298"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=403283"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=403283"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=403283"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}