{"id":402980,"date":"2026-05-21T15:00:21","date_gmt":"2026-05-21T08:00:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=402980"},"modified":"2026-05-21T15:00:21","modified_gmt":"2026-05-21T08:00:21","slug":"jogja-aneh-membiarkan-tukang-becak-mati-dalam-kemiskinan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-aneh-membiarkan-tukang-becak-mati-dalam-kemiskinan\/","title":{"rendered":"Jogja Itu Aneh: Becaknya Dianggap Warisan Budaya, tapi Pengemudinya Dibiarkan Menua, Lalu Mati dalam Kemiskinan"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Becak, sudah mendapat pengakuan secara resmi sebagai <a href=\"https:\/\/travel.detik.com\/travel-news\/d-7967750\/becak-jogja-bukan-lagi-sekadar-kendaraan-kini-becak-jati-diri-kota\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Warisan Budaya Tak Benda (WBTb)<\/a>. Ia bukan sekadar alat transportasi, tapi sudah menjadi identitas sejarah. Termasuk di dalamnya becak tradisional di Jogja dan becak Siantar di Sumatera Utara. Catat baik-baik kalimat di atas.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, Jogja sendiri, mungkin satu-satunya kota di Indonesia, yang bisa membuat orang rela capek demi suasana. Kami rela untuk macet, kepanasan, dompet jadi tipis. Semua itu kami lakukan demi bisa bilang: \u201cJogja tuh selalu ngangenin.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja, bagi sebagian orang, mungkin memang gampang bikin sentimentil. Sedikit gerimis di Malioboro, lampu jalan kuning, suara pengamen menyanyikan lagu Dewa 19, terus ada becak lewat pelan sambil bunyi bel kecil itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua itu bikin orang merasa sentimentil. Mendadak, semua orang merasa hidupnya seperti film indie murah tapi emosional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kita akui saja, Jogja membangun romantisme itu di atas derita orang-orang yang hidupnya jauh dari romantis. Termasuk tukang becak tradisional.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hidup tukang becak tradisional di Jogja yang menyedihkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang Jogja itu lucu. Mereka memuji becak sebagai identitas budaya. Simbol keistimewaan. Ikon wisata. Bahkan sekarang konsepnya makin keren: heritage mobility, cultural tourism, dan istilah-istilah lain yang terdengar seperti seminar pariwisata dengan snack risol dingin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pokoknya becak itu penting. Tapi, hidup pengemudinya sendiri ya terbilang mengenaskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, yang membuat Jogja terasa \u201cJogja\u201d bukan cuma Tugu atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/becak-motor-malioboro-jogja-unik-tapi-bikin-kapok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malioboro<\/a>. Bapak-bapak tua yang masih mengayuh becak pelan di tengah kota yang makin sibuk pura-pura modern itu juga turut membangun identitas kota ini. Dan mereka makin tua beneran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak pengemudi becak tradisional Jogja usianya di atas 50 tahun. Sudah puluhan tahun mereka mengayuh. Lutut mungkin sudah bunyi tiap bangun tidur, pinggang sudah protes, tapi tetap jalan, karena hidup nggak bisa cuti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, hidup mereka tak pernah sejahtera. Miskin. Tapi tetap, bagian dari sebuah kata estetik palsu yang mewarnai kota ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, Jogja masih sangat bergantung pada citra tradisional itu. Menurut data pariwisata DIY Tahun 2025, ada 4,6 juta wisatawan domestik berkunjung ke Malioboro. Belum wisatawan mancanegara yang masuk ke Keraton, Tamansari, sampai Kotagede.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang datang ke Jogja mau cari apa?<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ya suasana itu.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Becak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Angkringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang yang hidupnya terjepit kemiskinan dan \u201cdipaksa pelan\u201d karena karena orang kota sekarang capek hidup terlalu cepat.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak mendapat tempat utama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya lucu, ketika wisatawan datang mencari \u201ckehangatan budaya\u201d, tapi transportasi pilihan mereka adalah ojek online. Kita suka romantisme becak. Tapi tetap cari promo GoRide. Dan itu termasuk saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah naik becak malam hari habis <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/salah-paham-malioboro-jogja-yang-telanjur-dipercaya-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nongkrong dekat Malioboro<\/a>. Awalnya cuma karena pengin merasakan \u201cJogja banget\u201d. Kalimat andalan anak kota buat membenarkan keputusan impulsif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah jalan bapaknya ngobrol. Cerita kalau sekarang makin sepi. Wisatawan lebih memilih transportasi online karena lebih murah dan praktis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cuma manggut-manggut mendengarkan. Padahal, di kepala sendiri waktu itu malah kepikiran besok berangkat kerja beli bensin berapa biar tetap bisa makan siang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan makin ke sini, becak memang seperti makhluk yang salah lahir di zaman yang semuanya harus cepat. Cepat, murah, praktis, ada aplikasi, ada promo, ada cashback. Kalau bisa sekalian dapat poin reward.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mana mungkin tukang becak umur 60 tahun bisa menang lawan algoritma? Itu bukan persaingan, tapi gladiator lawan startup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya sekarang Jogja mulai mencari jalan tengah yang agak membingungkan: becak listrik. Nah ini menarik sekaligus membingungkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena Jogja sebenarnya sedang mengalami krisis identitas kecil-kecilan. Kota ini ingin modern, tapi takut kehilangan kesan tradisionalnya sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Akhirnya di Jogja, semua jadi nanggung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Becaknya listrik, tapi harus tetap terlihat tradisional. Digitalisasi jalan, tapi nuansa yang lahir harus tetap vintage. QRIS masuk, tapi estetikanya jangan hilang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Modernitas cosplay budaya. Dan Jogja serta Indonesia memang jago soal beginian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita ingin semuanya maju tanpa kehilangan nostalgia. Hasilnya sering seperti bapak-bapak baru kenal startup. Mereka semangat modernisasinya besar, tapi masih bingung cara kerja sistemnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, regulasi transportasi tradisional di Jogja sekarang juga kadang terasa absurd. Ada larangan untuk skuter listrik karena mengganggu kawasan wisata. Namun, kita malah mendorong becak listrik masuk sebagai bagian modernisasi transportasi budaya. Saya baca itu sambil ketawa kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Negeri ini memang sering mengambil keputusan berdasarkan estetika. Kalau kelihatannya tradisional dan cocok jadi background foto wisatawan, langsung mendapat status \u201cbudaya\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hanya validasi, bukan kesejahteraan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lebih lucu lagi, wisatawan sekarang juga maunya serba tanggung. Pengin becak yang nyaman, modern, tarif jelas, bisa digital, ada reservasi online, tapi tetap terasa lokal dan \u201cautentik\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manusia modern memang unik. Kita ingin pengalaman autentik tanpa mengalami repotnya kenyataan autentik itu sendiri. Naik becak sekarang bukan lagi soal transportasi tapi pengalaman, konten, dan validasi sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tidak mencari perjalanan yang bikin sejahtera para \u201cpelaku budaya\u201d ini, tapi cuma suasana. Padahal, tukang becak sendiri mungkin lagi pusing mikirin besok makan apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya merasa kota wisata memang kejam dengan cara yang halus. Ia menjual kehangatan, tapi banyak orang di dalamnya hidup sambil menggigil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tukang becak, kusir andong, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-ciri-angkringan-yang-sudah-pasti-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">penjual angkringan<\/a>, hingga tukang parkir adalah orang-orang yang membuat Jogja tetap terasa punya jiwa. Khususnya di tengah gempuran coffee shop industrial dan turis yang hobinya bilang \u201chidden gem\u201d ke tempat yang jelas-jelas sudah penuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi justru mereka juga yang paling gampang kalah oleh perkembangan kota. Trotoar makin estetik. Spot foto makin banyak. Cafe makin artsy.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, pengemudi becak di Jogja semakin menua dalam kemiskinan. Dan kita tetap merasa sudah cukup mencintai budaya hanya karena pernah mengunggahnya ke Instagram Story.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Faiz Al Ghiffary<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/pahitnya-menjadi-tukang-becak-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja (Nggak) Istimewa karena Ada Banyak Lansia yang Makan, Tidur, dan Mati di dalam Becaknya<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengemudi becak tradisional di Jogja semakin menua dalam kemiskinan. Mereka dianggap pewaris budaya, tapi hidup dalam derita.<\/p>\n","protected":false},"author":2167,"featured_media":403404,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[13607,31688,23404,33518,115,446],"class_list":["post-402980","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-becak","tag-becak-listrik","tag-becak-motor","tag-becak-tradisional","tag-jogja","tag-malioboro"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402980","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2167"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=402980"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402980\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":403408,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402980\/revisions\/403408"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/403404"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=402980"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=402980"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=402980"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}