{"id":402799,"date":"2026-05-15T14:19:25","date_gmt":"2026-05-15T07:19:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=402799"},"modified":"2026-05-15T14:19:25","modified_gmt":"2026-05-15T07:19:25","slug":"low-maintenance-friendship-minim-drama-pas-untuk-usia-30-an","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/low-maintenance-friendship-minim-drama-pas-untuk-usia-30-an\/","title":{"rendered":"Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memasuki <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/nongkrong-di-usia-30-an\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">usia 30 tahun<\/a>, saya merasa waktu berjalan semakin cepat dan kehidupan jadi terasa sempit. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hingga hari demi hari. Semua berlalu tanpa terasa. Banyak momen yang harus dikorbankan, terutama momen bersama teman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ingat dulu, interaksi pertemanan itu terjalin melalui ruang-ruang yang menghubungkan kepentingan satu sama lain. Bisa di kelas, lingkungan organisasi, lingkungan kos-kosan, satu tongkrongan tempat ngopi, dan tempat lain yang membuat teman-teman kita berkumpul secara sengaja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, seiring dengan usia yang menua, tuntutan yang membuat kita jadi budak korporat, prioritas hubungan emosional, dan segala hal pelik lainnya membuat manusia jadi membatasi ruang-ruang tersebut. Semua itu menyita waktu dan tenaga. Momen untuk bermain, nongkrong, ngobrol, dan jalan-jalan pun jadi tidak bisa dilakukan sesering saat usia 20-an awal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya, muncul sebuah pola pertemanan yang disebut dengan low maintenance friendship. Sebuah pola pertemanan yang tidak menuntut intensitas interaksi yang tinggi dari sebuah relasi pertemanan. Pola pertemanan ini cocok dengan karakteristik, beban, dan tekanan yang dihadapi oleh manusia di usia 30 tahunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri sudah menjalani pola pertemanan ini. Setidaknya saya punya dua sahabat yang sudah berteman sejak SMA. Saya punya beberapa teman sekelas dan beberapa senior organisasi yang saya anggap sebagai kakak. Saya pun punya sepupu yang sangat dekat sejak kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kedekatan dengan mereka tidak lantas membuat saya harus menagih atensi dan komunikasi yang intens dari mereka. Dan makin menua, saya makin sadar bahwa yang baik dari relasi pertemanan adalah kualitas interaksi bukan kuantitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memasuki usia 30, saya juga makin sadar betul bahwa energi sosial itu terbatas. Teman-teman saya juga pasti energinya terbatas karena sudah menghadapi banyak hal dalam hidupnya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Baca juga <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/sambatan-sambatan-orang-umur-30-tahun\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sambatan-sambatan Orang Umur 30 Tahun<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<h2><b>Rasanya menjalani pertemanan low maintenance<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu mungkin saya bangga punya banyak teman, selalu bertemu, ngobrol, dan bercanda. Namun, memasuki usia 30, pertemanan yang dijaga adalah pertemanan yang memberi rasa tenang, dan tidak menghabiskan energi. Di luar itu, pertemanan dan relasi lain hanya bersifat transaksional dan menjaga koneksi tetap terhubung saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah riset dari Carmichael, Reis, dan Duberstein (2015) berjudul<\/span><a href=\"https:\/\/pubmed.ncbi.nlm.nih.gov\/25774426\/\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">In Your 20s it\u2019s Quantity, in Your 30s it\u2019s Quality: The Prognostic Value of Social Activity Across 30 Years of Adulthood<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> mendukung hal itu. Isi riset ini intinya menyebutkan bahwa pada usia 30an, manusia lebih menginginkan relasi sosial yang lebih bermakna dan berkualitas. Oleh karena itu, usia 30 adalah fase seleksi sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita jadi mulai mengurangi relasi yang melelahkan dan tidak sefrekuensi. Di sisi lain tetap ingin mempertahankan relasi pertemanan yang intim, memuaskan, dan berkepanjangan. Tentu kecenderungan seperti ini jadi gambaran tentang relasi low maintenance friendship.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dilihat secara perilaku, mereka yang menjalani pola pertemanan ini bisa terlihat dari jarangnya chat dilakukan, tapi tetap saling ingat satu sama lain. Tidak harus hadir atau ketemu setiap hari, tapi hadir di momen penting yang sedang dijalani. Tidak menuntut balasan cepat, tapi tetap punya kepedulian kecil untuk sekadar menanyakan kabar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misal, dalam konteks pertemanan yang saya lakukan, ketika salah satu ulang tahun atau anak dari teman lahiran, maka tetap ada interaksi, baik itu dengan memberi hadiah maupun ucapan selamat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari-hari besar pun kami tetap datang dan menyapa. Misal, ketika <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/ditinggal-nikah-sahabat-tak-kalah-nyesek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sahabat menikah<\/a>, saya usahakan untuk hadir. Karena sekali lagi, kualitas pertemanan jadi yang paling penting.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Frekuensi bertemunya mungkin hanya setahun satu atau dua kali, tapi ngobrolnya bisa berjam-jam. Tidak terdistraksi ponsel atau hal lain saking serunya update kehidupan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Manfaat low-maintenance friendship<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa manfaat dari pertemanan semacam ini. Pertama, pertemanan jauh lebih realistis dan apa adanya. Semuanya serba saling memahami satu sama lain. Teman dekat tetap dianggap dekat, meskipun komunikasi gak sesering saat masih kuliah atau sekolah. Situasi seperti ini justru bikin relasi terasa lebih dewasa dan terbebas dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-drama-korea-yang-punya-kisah-pertemanan-unik-dan-bikin-iri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">drama-drama<\/a> yang nggak perlu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, pola pertemanan ini membuat seseorang jadi menghemat energi sosial. Sebab kita tahu, rutinitas yang sudah ada (pekerjaan, keluarga, pasangan, studi, masalah pribadi dll) bisa saja sudah menelan banyak energi. Dan tidak semua orang punya energi lebih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, mengurangi ekspektasi yang tidak sehat, terutama soal kehadiran. Menjalin low maintenance friendship membawa seseorang pada ekspektasi bahwa kedekatan tidak selalu terwujud dengan kehadiran terus-menerus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat adalah, kualitas pertemanan jadi menguat. Sebab jarang berinteraksi dan basa-basi bisa jadi malah membuat seseorang menyimpan banyak cerita dan bahan obrolan saat bertemu. Pertemuan pun jadi berkualitas dan nggak membosankan karena punya banyak hal yang bisa dibagikan ke teman.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Baca juga <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/usia-30-tahun-itu-tidak-menyeramkan-asal-tahu-siasatnya\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Memasuki Usia 30 Tahun Itu Tidak Menyeramkan asal Kalian Tahu Siasatnya<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<h2><b>Jangan berubah jadi &#8220;no maintenance&#8221;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, perlu menjadi catatan, pola pertemanan ini rawan terjerumus pada pola pertemanan \u201cno maintenance\u201d yang membuat seseorang membenarkan sikap avoidance. Terlihat dari dirinya yang nggak pernah nanya kabar, tidak hadir saat teman butuh, hanya muncul saat ada perlu (<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-tempat-favorit-pns-untuk-ngutang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ngutang<\/a>), lalu berlindung di balik kata, \u201cmaaf ya aku sibuk, aku canggung, aku ngggak enak, aku blab la blaa, halah kentut!!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kunci low maintenance friendship adalah reciprocity, atau rasa saling. Sebab, pertemanan dewasa tidak harus selalu ramai, riuh, atau saling bertemu setiap hari, tapi harus tetap hidup dan punya rasa saling peduli. Sebab pertemanan orang dewasa sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan, emosi positif, rasa memiliki, dan makna hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari itu, saya menyadari bahwa memasuki usia 30-an, saya harus menerima bahwa orang punya hidup masing-masing. Dan, pola low maintenance friendship memberi ruang untuk itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>\u00a0BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lagu-baru-sheila-on-7-sederhana-pas-bagi-orang-orang-usia-30-tahun\/\"><b><i>Lagu Baru Sheila On 7 \u201cSederhana\u201d Pas untuk Orang-Orang Usia 30 Tahun<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Low Maintenance Friendship cocok untuk orang berusia 30-an yang mulai memiliki kesibukan masing-masing seperti pekerjaan dan keluarga. <\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":402807,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[33468,748,249,33469],"class_list":["post-402799","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-low-maintenance-friendship","tag-persahabatan","tag-pertemanan","tag-pertemanan-low-maintenance"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402799","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=402799"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402799\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":402810,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402799\/revisions\/402810"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/402807"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=402799"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=402799"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=402799"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}