{"id":402795,"date":"2026-05-15T15:40:15","date_gmt":"2026-05-15T08:40:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=402795"},"modified":"2026-05-15T15:40:15","modified_gmt":"2026-05-15T08:40:15","slug":"pantai-glagah-disebut-bali-nya-jogja-dan-saya-jadi-bingung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pantai-glagah-disebut-bali-nya-jogja-dan-saya-jadi-bingung\/","title":{"rendered":"Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu kalau saya bilang ke orang dari luar Kulon Progo bahwa saya sering main ke Pantai Glagah, mereka cuma bilang, &#8220;Oh, yang pasir hitam itu?&#8221; Terus diam. Nggak ada ekspresi kagum, nggak ada &#8220;wah enak dong&#8221;, nggak ada rasa iri sedikit pun. Paling banter mereka nyeletuk, &#8220;Bukannya Gunungkidul lebih bagus?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya sudah. Saya sudah terbiasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pantai Glagah memang bukan pantai yang masuk bucket list siapa-siapa, kecuali pemancing yang memang hobi nyerang spot. Nggak ada pasir putih, nggak ada air tosca yang enak buat foto. Yang ada ya ombak selatan yang galak, tetrapod berjejer, laguna yang tenang kalau pagi, sama angin yang sering banget bikin makan di warung sambil satu tangan nahan topi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sekarang orang-orang tiba-tiba bilang Glagah serasa di Bali. Dan saya, sebagai orang yang sudah lama di sini sebelum ini semua ramai, nggak tahu harus reaksinya gimana.<\/span><\/p>\n<h2><b>Semuanya gara-gara kafe di Glagah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini ceritanya. Beberapa waktu lalu muncul sebuah kafe namanya <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/decafa_glagah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">De Cafa<\/a>, berdiri tepat di kawasan pemecah ombak baru antara Pantai Glagah dan Pantai Congot. Konsepnya simple banget, payung-payung putih ditancap di atas pasir, menghadap laut selatan, dengan batu-batu groin gede di belakangnya. Sore hari, langit jingga, ombak nabrak pemecah ombak, orang-orang duduk santai, pesan kopi atau apalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari layar TikTok, jujur, memang keliatan kayak Bali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situ lah semuanya mulai. Caption demi caption naik. &#8220;Dikira Bali, ternyata ini Glagah, Kulon Progo.&#8221; Orang-orang dari luar kota mulai berdatangan, karena penasaran. Beberapa teman saya yang dulu nggak pernah mau diajak ke Glagah dengan alasan &#8220;nggak ada yang menarik&#8221; tiba-tiba nanya, &#8220;Eh De Cafa itu di mana persisnya?&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kulon-progo-permata-jawa-yang-kalah-tenar-dengan-bandara-yia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Kulon Progo: Permata Jawa yang Kalah Tenar dengan Bandara YIA<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Bali mana yang kalian maksud?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, saya selalu agak waswas setiap kali dengar sebuah tempat disebut &#8220;Bali-nya&#8221; suatu daerah. Bukan karena saya anti pariwisata atau apa pun itu. Tapi karena Bali itu sendiri punya dua versi yang sangat berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada Bali versi impian yang eksotis, ekonominya bergerak, warganya sejahtera dari pariwisata. Dan ada Bali versi nyata yang jarang disebut kayak macet yang nggak masuk akal, pantai-pantai yang mulai penuh sampah di musim tertentu, harga tanah yang sudah di luar jangkauan warga lokal, dan orang-orang asli Bali yang perlahan tersingkir dari kampung mereka sendiri karena kalah bersaing sama modal dari luar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kalau ada yang bilang Glagah bakal jadi Bali-nya Jogja, pertanyaan saya cuma satu: Bali yang mana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau yang dimaksud versi pertama, bagus. Tapi kalau kita nggak hati-hati, yang datang bisa jadi versi kedua.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tanda-tandanya sudah bisa dibaca<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak sedang lebay. Pantai Glagah belum sampai di titik krisis. Tapi ya, tanda-tanda kecil itu sudah mulai keliatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Infrastrukturnya belum siap buat lonjakan wisatawan seperti ini. Tempat sampah masih kurang. Waktu ramai, antrean kendaraan bisa sampai 1,5 kilometer dari lampu merah Glagah ke depan Balai Desa Karangwuni. Ketua Desa Wisata Glagah sendiri sudah bilang terus terang bahwa ia berharap pemda lebih serius menatanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan De Cafa yang jadi bintang dari semua ini baru berdiri. Masih baru banget. Belum ada yang tahu kawasan ini akan jadi seperti apa dua tiga tahun ke depan, apalagi kalau modal-modal besar mulai lirik dan berebut lahan di tepi pantai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu yang bikin saya nggak bisa santai sepenuhnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ada kabar baik, tapi tetap aja nggak bisa tenang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ada hal yang sedikit bikin napas lega. Pedagang-pedagang kecil yang sudah lama jualan di sekitar situ seperti warung-warung yang dulu sepi karena posisinya nanggung, nggak di Glagah, nggak di Congot, sekarang ikut kebagian ramainya. Itu nyata. Lebih nyata dari angka kunjungan yang selalu dibanggakan di siaran pers dinas pariwisata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi saya juga tahu, nggak semua cerita soal destinasi yang mendadak viral berakhir baik buat orang-orang yang sudah lama di sana duluan. Polanya sering sama: kafe-kafe estetik masuk, modal besar ikut, dan pelan-pelan warga lokal cuma jadi bagian dari &#8220;nuansa autentik&#8221; yang dijual ke wisatawan. Jadi latar belakang foto, bukan penerima manfaatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga Glagah nggak begitu. Tapi saya nggak bisa pura-pura yakin.<\/span><\/p>\n<h2><b>Semoga Glagah tetap jadi Glagah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Glagah sudah ada jauh sebelum De Cafa. Sebelum groin, sebelum ada yang bilang &#8220;dikira Bali&#8221;. Pasirnya dari dulu hitam. Ombaknya dari dulu galak. Lagunanya dari dulu tenang kalau pagi, sebelum pengunjung datang dan suasananya berubah jadi ingar-bingar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang berubah cuma satu: sekarang ada orang-orang yang baru &#8220;menemukan&#8221; tempat ini, terus menamai ulang dengan label yang lebih seksi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak keberatan Pantai Glagah ramai. Yang saya keberatan adalah kalau ramainya ini cuma menguntungkan pihak-pihak yang datang belakangan, sementara orang-orang yang sudah lama hidup dan cari makan di sana cuma kebagian jadi NPC tak dianggap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ya, kalau orang bilang Glagah adalah Bali-nya Jogja, saya cuma bisa bilang: semoga nggak persis seperti itu. Semoga Glagah tetap jadi Glagah, bukan Bali versi kedua yang kita sesali belakangan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Nur Anisa Budi Utami<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kulon-progo-punya-pantai-tapi-kalah-jauh-dibanding-gunungkidul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kulon Progo Punya Pantai, tapi Tetap Kalah Jauh Dibanding Gunungkidul, Pantai di Sini Bikin Bingung Saking Biasanya!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi ya, kalau orang bilang Pantai Glagah adalah Bali-nya Jogja, saya cuma bisa bilang: semoga nggak persis seperti itu.<\/p>\n","protected":false},"author":3074,"featured_media":402819,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9507,33470,13152,32763],"class_list":["post-402795","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bali","tag-de-cafa","tag-kulon-progo","tag-pantai-glagah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402795","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3074"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=402795"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402795\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":402820,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402795\/revisions\/402820"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/402819"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=402795"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=402795"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=402795"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}