{"id":402766,"date":"2026-05-24T09:11:05","date_gmt":"2026-05-24T02:11:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=402766"},"modified":"2026-05-24T09:11:05","modified_gmt":"2026-05-24T02:11:05","slug":"generasi-sandwich-bajingan-bikin-saya-tak-lagi-cinta-keluarga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/generasi-sandwich-bajingan-bikin-saya-tak-lagi-cinta-keluarga\/","title":{"rendered":"Generasi Sandwich Adalah Takdir Bajingan yang Bikin Muak: Saya Baik pada Keluarga Bukan karena Cinta, tapi karena Sudah Lupa Hidup Sebenarnya untuk Apa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai bagian dari Generasi Sandwich, saya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-yang-kuliah-sambil-bekerja-pantas-diapresiasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kuliah sambil bekerja<\/a> full time. Saya melakukan itu sejak semester satu dan baru di tahun ketiga ini, berani resign.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memberanikan diri mengambil keputusan heroik sekaligus paling naif. Motivasinya mulia: ingin punya waktu lebih banyak untuk belajar, berorganisasi, dan yang paling klise, ingin memahami diri sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir, dengan beralih ngojol, saya bisa mengatur waktu. Pagi narik sampai jam kuliah, sore lanjut sampai malam. Fleksibel.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, setelah menjalaninya, ternyata tidak ada yang benar-benar berubah. Hidup tetap terasa seperti milik orang lain. Bahkan, ada sesuatu yang hilang. Dan hilangnya itu justru membuat saya bingung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua tahun sebelumnya, saya bekerja dengan bahan bakar yang meluap-luap, dendam masa lalu dan ambisi gila untuk kaya. Saya ingin berteriak pada diri sendiri di masa lalu bahwa saya bisa memperbaiki kemiskinan dengan kerja keras.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap rupiah yang saya tabung adalah simbol perlawanan terhadap nasib menjadi bagian dari Generasi Sandwich. Tapi sekarang? Semuanya menguap. Kebencian, pemicu, bahkan ambisi untuk jadi &#8220;orang kaya&#8221; itu juga ikut hilang. Saya benar-benar lupa semuanya.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/generasi-sandwich-nggak-butuh-dukungan-kami-butuh-uang-uang-yang-banyak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Generasi Sandwich Nggak Butuh Dukungan, Kami Butuh Uang, Uang yang Banyak<\/a><\/p>\n<h2><b>Menjadi bapak-bapak Generasi Sandwich di tubuh mahasiswa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara administratif, saya adalah mahasiswa tahun ketiga. Seharusnya, saya sedang pusing memikirkan teori ekonomi pembangunan, magang, karier, atau sibuk ikut lomba esai. Tapi secara mental, saya seperti bapak-bapak Generasi Sandwich berusia 45 tahun yang resah karena memikirkan tiga anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap kali aplikasi ojol saya berbunyi atau saldo tambahan masuk, pikiran saya tidak pernah lari ke &#8220;Bulan ini beli buku apa ya? &#8221; atau &#8220;Ada event dengan guest star bagus, datang ah.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pikiran saya langsung tersedot ke lubang logistik yang tidak ada dasarnya bagi anggota Generasi Sandwich. Mulai dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/usia-baru-20-tapi-sudah-jadi-generasi-sandwich\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">adik sebentar lagi kuliah<\/a>, membayar kos, memikirkan tiket, sampai dana emergency keluarga di kampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aneh rasanya. Ketika teman-teman sebaya sedang sibuk mencari jati diri, saya justru kehilangan karena harus menjadi salah satu pilar hidup orang lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, keluarga itu bisa disebut orang lain nggak ya? Melompat terlalu jauh itu nggak enak. Dilempar terlalu jauh lebih tepatnya. Menjadi anggota Generasi Sandwich itu rasanya seperti melewati masa muda dan langsung mendarat di fase pengabdian tanpa batas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kebaikan yang mekanis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang bilang Generasi Sandwich yang bertahan itu karena landasan cinta dan kepedulian yang kuat pada keluarga. No ya adik-adik. BIG NO. Saya mengiyakan itu agar terlihat seperti anak berbakti, tapi jujur saja itu bohong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tetap mengusahakan keluarga, <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparannews\/dilema-duit-generasi-sandwich-aku-dulu-mamah-dulu-atau-adik-dulu-1zMQUpTAKlH\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">memastikan adik-adik bisa sekolah dengan layak<\/a>, dan tetap membantu orang tua bukan karena dorongan cinta yang hangat. Saya melakukannya karena sudah lupa cara menjadi egois.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merasa itu sudah jadi SOP tetap dalam hidup. Seperti robot yang diprogram untuk mengisi daya baterai perangkat lain sementara baterainya sendiri bocor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, saya benci dan kesal setengah mati. Setiap pulang kerja tengah malam motoran sambil teriak-teriak nggak jelas di sepanjang jalan Ringroad. Bodo amat. Jalan sepi nggak ada orang juga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa itu motivasi kerja keras dan kesuksesan buat Generasi Sandwich? Bullshit. Stop bicara takdir itu adil. Yang saya tahu hanya kuliah-kerja-tidur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sekarang, semua luapan itu sudah hilang. Saking lelahnya fisik dan pikiran, saya sampai tidak punya energi lagi untuk merasa benci atau dendam. Saya sudah terlalu lelah untuk marah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hidup untuk apa?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan &#8220;Hidup sebenarnya untuk apa?\u201d biasanya muncul di kelas filsafat atau saat sedang melamun. Bagi saya, pertanyaan itu muncul setiap kali melihat saldo rekening yang cuma mampir hitungan menit sebelum hilang untuk memenuhi takdir sebagai Generasi Sandwich yang kelelahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kehilangan ambisi bukan karena sudah merasa cukup, tapi karena tujuan hidup sudah lama tertutup oleh pikiran-pikiran &#8220;keluarga nanti gimana&#8221;. Saya tidak lagi tahu apa yang saya inginkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika besok semua tanggungan ini hilang, saya rasa hanya akan berdiri mematung. Mungkin saya akan kebingungan ingin melangkah ke mana karena kedua kaki sudah terlalu lama berjalan untuk arah orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin ini adalah level tertinggi dari sebuah keletihan Generasi Sandwich. Ketika kita tidak lagi merasa menderita, tapi juga sudah tidak tahu caranya merasa bahagia. Saya tetap menjadi &#8220;anak baik&#8221; dan &#8220;kakak hebat&#8221;, bukan karena saya berbakti, tapi karena sudah terlalu lupa bagaimana rasanya hidup untuk diri sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>&#8220;Banyak anak banyak rezeki&#8221; adalah penipuan logika, jebakan Generasi Sandwich<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, setiap mendengar kalimat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/banyak-anak-banyak-rezeki-anggapan-kuno-mending-buang-jauh-jauh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">banyak anak banyak rezeki<\/a> dari pengajian di kampung, rasanya ingin diam-diam pergi ke belakang lalu mematikan saklar biar bubar. Mending kita jujur dan jadi truth bitter.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Narasi &#8220;banyak anak banyak rezeki&#8221; adalah scam terbesar bangsa ini. Karena ada redaksi hadisnya? Sori, Pak. Dulu ketika zaman perang, populasi itu kekuatan. Lah sekarang? Ekonomi sulit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rezeki itu memang ada jalannya. Tapi kalian lupa bilang kalau jalan itu seringnya harus dilewati oleh anak-anak yang lahir duluan dan badannya remuk redam menjadi anggota Generasi Sandwich.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua kita mungkin benar bahwa untuk sekadar makan, Tuhan pasti kasih jalan. Tapi mereka cuma itu doang. Mereka nggak menghitung variabel lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, biaya pendidikan naik lebih cepat dari inflasi, biaya berobat yang mahal, biaya sosial di kampung, hingga dana darurat yang seringnya memaksa. Orang tua yang punya anak banyak tanpa kesiapan finansial, bukan sedang menjemput rezeki, itu mah outsourcing tanggungan pada Generasi Sandwich.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya teramat sangat benci narasi tersebut karena menjadi korban dari optimisme buta. Saya jadi punya beban pikiran untuk membiayai &#8220;rezeki-rezeki&#8221; yang lain sementara saya sendiri tidak punya waktu untuk mengurus rezeki diri sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nyari uang itu capek, kawan. Sangat capek. Mengatakan rezeki sudah ada yang ngatur sambil terus meminta gendongan di punggung anak-anak Generasi Sandwich dan baru belajar jalan di dunia professional, adalah sebuah kezaliman yang dibungkus nasihat agama.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/harian\/derita-punya-pasangan-sandwich-generation-dan-mertua-toxic\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia<\/a><\/p>\n<h2><b>Memutus rantai derita Generasi Sandwich, bukan menyambung penderitaan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk yang sudah menjadi bapak-bapak secara psikologis, bukan secara umur, yang hari ini merasa punggungnya hampir patah karena memikul beban dua generasi sekaligus, kamu tidak sendirian. Mari kita berani untuk jadi yang terakhir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita perlu berhenti menelan mentah-mentah romantisme &#8220;bakti tanpa batas&#8221; korban Generasi Sandwich. Apalagi jika itu hanya jadi kedok untuk menormalisasi kegagalan finansial generasi sebelum kita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memutus rantai kemiskinan bukan sekadar soal bekerja lebih keras, tapi keberanian untuk berkata &#8220;cukup&#8221;. Khususnya kepada pola pikir boomer yang menjadikan anak sebagai investasi masa tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita rapatkan barisan untuk tidak mewariskan trauma finansial ini. Kita harus menjadi generasi yang lebih logis daripada sekadar optimistis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Punya anak bukan untuk menjemput rezeki yang tidak pasti, tapi untuk memastikan manusia baru itu, punya hidup yang lebih merdeka dari kita. Jika hari ini kita dipaksa menjadi martir, setidaknya jadilah martir yang menutup pintu menuju kondisi bajingan ini rapat-rapat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biar Generasi Sandwich kita saja yang babak belur, generasi di bawah kita tak perlu lagi mengenal apa itu hidup yang terasa milik orang lain. Biarkan penderitaan ini berhenti di kita. Semata supaya anak-anak kita nanti bisa benar-benar mengenal arti &#8220;hidup&#8221;, tanpa harus lebih dulu lupa caranya bernapas untuk diri sendiri. Kita adalah tembok terakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Diha Maulana<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/generasi-sandwich-bukan-pahlawan-tapi-tumbal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Kami Adalah Tumbal Romantisasi \u201cBakti Anak\u201d yang Terpaksa Menjadi Dana Pensiun Berjalan Bagi Orang Tua yang Gagal Menabung<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menyandang beban Generasi Sandwich, kondisi bajingan ini membuat saya tidak lagi mencintai keluarga. Toh hidup itu untuk apa.  <\/p>\n","protected":false},"author":2882,"featured_media":403625,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[12083,14848,33558,1981,32155,32156,33559,4316,1610,74,3105],"class_list":["post-402766","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-dana-darurat","tag-dana-pensiun","tag-derita-generasi-sandwich","tag-generasi-sandwich","tag-generasi-sandwich-adalah","tag-generasi-sandwich-artinya","tag-generasi-sandwich-itu-apa","tag-karier","tag-ojek-online","tag-ojol","tag-profesi"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402766","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2882"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=402766"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402766\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":403626,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402766\/revisions\/403626"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/403625"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=402766"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=402766"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=402766"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}