{"id":402300,"date":"2026-05-10T10:18:31","date_gmt":"2026-05-10T03:18:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=402300"},"modified":"2026-05-10T10:18:31","modified_gmt":"2026-05-10T03:18:31","slug":"liga-indonesia-saat-ini-seperti-mesin-industri-pragmatis-tanpa-ruh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/liga-indonesia-saat-ini-seperti-mesin-industri-pragmatis-tanpa-ruh\/","title":{"rendered":"Liga Indonesia Saat Ini Adalah Panggung Kuasa Modal: Serupa Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/sport.detik.com\/sepakbola\/liga-indonesia\/d-8481986\/persipura-vs-adhyaksa-ricuh-pssi-buka-suara\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Persipura Jayapura kalah<\/a>. Mutiara Hitam bersedih. Papua menangis. Mereka gagal kembali ke kasta tertinggi Liga Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang mengalahkan bukan klub sembarangan. Tapi klub yang secara sejarah memang belum ada sejarah: Adhyaksa FC. Di laga play-off Liga Championship, Jumat (8\/5\/2026), Persipura takluk. 0-1.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyusul Adhyaksa, ada nama lain yang juga sukses promosi ke kasta tertinggi Liga Indonesia: Garudayaksa. Keduanya melenggang gagah. Membawa tiket mahal bernama promosi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anda sudah tahu apa persamaan kedua klub itu? Dua-duanya tidak punya basis suporter yang berisik. Dua-duanya tidak punya sejarah panjang. Dan yang paling mencolok, dua-duanya tidak memiliki akar pembinaan usia dini yang mengakar di masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu apa yang mereka punya? Uang. Modal. Stabilitas. Dukungan institusi.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semisal-tim-sepak-bola-indonesia-menggunakan-konsep-nama-seperti-di-j-league\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Semisal Tim Sepak Bola Indonesia Menggunakan Konsep Nama Seperti di J. League<\/a><\/p>\n<h2><b>Liga Indonesia saat ini sebatas mesin industri pragmatis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini fenomena luar biasa. Sekaligus tamparan keras bagi romantisme Liga Indonesia. Lapangan hijau kita sedang bergeser. Berubah wujud. Dari panggung teatrikal kultural, menjadi mesin industri pragmatis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita pinjam kaca mata sosiolog kondang asal Prancis, Pierre Bourdieu, yang punya teori terkenal tentang &#8220;Arena&#8221; dan &#8220;Modal&#8221;. Arena itu ya lapangan sepak bola kita ini. Di dalam arena, orang bertarung menggunakan berbagai jenis modal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama puluhan tahun, mereka yang mempunyai &#8220;Modal Sosial&#8221; dan &#8220;Modal Kultural&#8221; menguasai Liga Indonesia. Persipura Jayapura, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/persebaya-bukan-ac-milan-surabaya-bukan-napoli\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Persebaya Surabaya<\/a>, Persiba Balikpapan, Persib Bandung, PSM Makassar, PSIS Semarang, atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-bekasi-ngefans-persija-daripada-persipasi-persikasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Persija Jakarta<\/a> adalah contoh nyatanya. Modal kultural mereka adalah sejarah panjang dan identitas kedaerahan. Modal sosial mereka adalah jutaan suporter fanatik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, dengan dua modal itu, klub bisa hidup. Suporter adalah nyawa. Legitimasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi hari ini, aturan di arena itu sudah diganti. Adhyaksa dan Garudayaksa (sebelumnya Dewa United), datang membawa &#8220;Modal Ekonomi&#8221; dan &#8220;Modal Simbolik&#8221; (kuasa institusi). Ternyata, modal uang dan tata kelola birokratis yang stabil bisa menggilas habis modal kultural sebesar apa pun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persipura punya bakat alam paling hebat di republik ini. Tapi Adhyaksa dan Garudayaksa punya uang untuk membeli pelatih taktik terbaik, gizi terbaik, dan pemain matang yang siap pakai. Uang, pada akhirnya, bicara lebih keras dari sejarah di Liga Indonesia.<\/span><\/p>\n<h2><b>Evolusi yang terjadi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara teori ekonomi-politik olahraga, ini sebenarnya evolusi yang masuk akal. Dulu klub-klub tradisional Liga Indonesia kita manja. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/balbalan\/indonesia-merdeka-sepak-bola-dijajah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menetek pada APBD<\/a>. Uang rakyat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu pemerintah mengharamkan penggunaan APBD untuk sepak bola profesional, klub kelimpungan. Mereka harus cari sponsor dan jualan merchandise demi berkiprah di Liga Indonesia. Banyak yang gagal karena manajemennya masih amatiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah kebingungan itu, masuklah klub-klub institusi. Mereka mengambil alih ruang kosong. Klub-klub ini tidak pusing soal APBD. Kantong penyokongnya tebal. Manajemen keuangannya rapi. Gaji pemain tidak pernah telat. Pemain main tenang. Bebas stres. Tentu saja, mereka menang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagus dong?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk jangka pendek: ya. Sangat bagus. Liga Indonesia butuh klub yang sehat secara finansial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi untuk masa depan sepak bola Indonesia? Nanti dulu. Ada bahaya besar yang mengintip di depan mata.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bahaya besar mengintip Liga Indonesia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam teori manajemen olahraga (sports management), ekosistem sepak bola yang sehat harus berbentuk piramida. Bawahnya lebar. Akar rumputnya kuat. Pembinaan usia dini (akademi) adalah fondasi mutlak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adhyaksa dan Garudayaksa ini tidak punya pabrik. Mereka ini seperti toko ritel elite. Hanya jeli kulakan barang jadi. Keduanya membeli pemain yang sudah matang di bursa transfer. Kalau semua klub kasta tertinggi Liga Indonesia modelnya begini, memutus urat nadi pembinaan, lalu siapa yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/anak-ceweknya-punya-bakat-jadi-rebutan-klub-sepak-bola\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">memproduksi pemain<\/a>?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika tidak ada yang mau bersusah payah membina anak usia 10 atau 12 tahun, ekosistem kita akan jadi parasit. Timnas Indonesia akan kekeringan darah segar. Ujung-ujungnya, Anda sudah bisa menebak: PSSI akan terus-terusan membuka keran naturalisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahaya kedua lebih menakutkan lagi. Bahaya sosiologis. Namanya: Alienasi. Keterasingan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepak bola itu bukan sekadar menendang bola kulit bundar masuk ke gawang. Sepak bola adalah eskapisme. Pelarian. Teater emosi bagi kelas pekerja dan masyarakat luas. Sepak bola butuh suporter. Butuh tangis, parade makian di tribun, dan nyanyian yang menjadi sejarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan Liga 1 musim depan. Pertandingan Super Sunday. Adhyaksa melawan Garudayaksa. Disiarkan langsung di jam prime time.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi stadionnya kosong. Hening. Hanya ada suara pelatih yang berteriak dari pinggir lapangan dan suara bola ditendang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada ruhnya. Hampa.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/persebaya-surabaya-wajib-menangan-dan-menjadi-juara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Persebaya Surabaya Wajib Menangan dan Menjadi Juara: Tentang Brand Loyalty dan Suporter Rasa Customer<\/a><\/p>\n<h2><b>Uang bisa membeli prestasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ini terjadi terus-menerus, nilai jual Liga Indonesia di mata televisi akan anjlok. Sponsor akan lari. Kenapa? Karena industri televisi tidak membeli pertandingan sepak bola. Televisi itu membeli emosi dan drama. Dan drama itu diciptakan oleh interaksi panas antarsuporter. Sepak bola tanpa suporter tak ubahnya seperti pertandingan antarkantor di hari Jumat pagi. Sehat, tapi tidak menjual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, fenomena ini adalah pelajaran mahal untuk semua pihak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Persipura dan klub tradisional lainnya di Liga Indonesia, berhentilah meratap. Sejarah besar dan suporter fanatik tidak bisa lagi kalian pakai untuk membayar gaji pemain. Kalian harus berbenah menjadi korporasi yang profesional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Adhyaksa dan Garudayaksa: selamat datang di kasta tertinggi Liga Indonesia. Kalian sudah membuktikan uang dan stabilitas bisa membeli prestasi. Tapi tugas kalian baru dimulai. Kalian punya utang pada sepak bola Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Segeralah bangun akademi. Turunlah ke masyarakat. Bangunlah basis suporter secara organik. Jangan biarkan uang membuat kalian terasing dari hakikat sepak bola itu sendiri. Sebab, sehebat apapun sebuah tata kelola, sepak bola yang dimainkan tanpa penonton pada akhirnya akan mati kesepian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rosnindar Prio Eko Rahardjo<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/merindukan-sepak-bola-indonesia-lewat-cerita-lucu-para-pencintanya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Merindukan Sepak Bola Indonesia lewat Cerita Lucu Para Pencintanya<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Liga Indonesia kita sedang bergeser. Berubah wujud. Dari panggung teatrikal kultural, menjadi mesin industri pragmatis.<\/p>\n","protected":false},"author":2676,"featured_media":402301,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12904],"tags":[33442,33443,8593,5600,7349,15004,4971,15821,33441,2381],"class_list":["post-402300","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-olahraga","tag-adhyaksa","tag-garudayaksa","tag-liga-1","tag-liga-indonesia","tag-persebaya","tag-persib-bandung","tag-persija","tag-persipura","tag-promosi-liga-indonesia","tag-psm-makassar"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402300","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2676"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=402300"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402300\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":402302,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402300\/revisions\/402302"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/402301"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=402300"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=402300"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=402300"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}