{"id":402105,"date":"2026-05-08T14:03:05","date_gmt":"2026-05-08T07:03:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=402105"},"modified":"2026-05-08T14:03:05","modified_gmt":"2026-05-08T07:03:05","slug":"jurusan-sastra-indonesia-terlalu-ndakik-berjarak-dari-realitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-sastra-indonesia-terlalu-ndakik-berjarak-dari-realitas\/","title":{"rendered":"Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika dahulu kuliah di jurusan Sastra Indonesia UNY dan kini masuk lingkungan Sastra Indonesia UAD, ada satu fase yang membuat saya heran. Fase di mana mahasiswa jurusan ini merasa paling peka dan filosofis, pokoknya yang paling dekat dengan makna kehidupan. Namun, mereka malah alergi membicarakan kehidupan itu sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diskusi sastra, bedah puisi, hingga ngobrol soal metafora senja dan kopi terus berjalan. \u00a0Semua orang berlomba-lomba ingin jadi yang paling kontemplatif, paling berbeda dari manusia biasa di jurusan ini. Tapi, giliran bicara negara, pendidikan, kemiskinan, represi aparat, oligarki kampus, atau realitas sosial di sekitar, mereka mendadak sunyi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kadang bingung, ini mahasiswa sastra atau kurator kata-kata indah? Padahal, sastra Indonesia tidak lahir dari ruang steril ber-AC dengan aroma kopi susu gula aren. Sastra lahir dari zaman yang kacau. Dari manusia yang gelisah dan ketidakadilan yang bikin dada sesak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jiplak karya penyair, tapi lupa meniru semangatnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyakit mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di UNY dan UAD itu sama, terlalu banyak mengutip puisi indah, tapi lupa meniru semangat penyairnya. Bantah saya kalau Anda tidak setuju. Wiji Thukul tidak menulis puisi untuk dipajang di feed Instagram hitam-putih sambil diberi caption \u201csedang tidak baik-baik saja\u201d. Ia menulis karena negara memburu rakyatnya, karena ada ketakutan yang nyata dan kekuasaan yang harus dilawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal ini, W. S. Rendra bahkan pernah menyindir penyair yang sibuk menulis tentang anggur dan rembulan sementara jutaan anak tak bisa sekolah. Itu tamparan keras bagi sastra yang terlalu sibuk menjadi cantik, tetapi lupa menjadi berguna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/100-tahun-chairil-anwar-ini-3-fakta-yang-jarang-diketahui-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Chairil Anwar<\/a>, yang sering dipuja sebagai simbol kepuitisan itu, sebenarnya juga lahir dari kegelisahan zaman perang dan pergolakan identitas bangsa. Chairil bukan sekadar \u201cAku ini binatang jalang\u201d. Dia adalah potret generasi yang sedang bernegosiasi dengan kematian, kolonialisme, dan kemerdekaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, banyak mahasiswa jurusan Sastra Indonesia hari ini hanya mewarisi kulitnya, bukan keberaniannya. Yang diwarisi cuma gaya bicara lambat, diksi rumit, dan kebiasaan mengutip filsuf tanpa benar-benar memahami realitas sosial tempat mereka hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka hafal nama penyair Amerika Latin, tapi tidak tahu kasus-kasus agraria di Kulon Progo.\u00a0 Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia mungkin pandai mengulas puisi postmodern berlembar-lembar, tapi bingung menjelaskan kenapa UKT naik terus. Mereka sibuk mendebat makna absurditas, tapi tak pernah benar-benar turun melihat absurditas hidup rakyat kecil.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia terlalu eksklusif<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, sebagian mahasiswa sastra malah bangga dengan eksklusivitas itu. Seolah semakin sulit dipahami tulisan mereka, semakin tinggi nilai intelektualnya. Padahal kalau tulisan hanya bisa dimengerti sesama penghuni lingkaran sastra kampus, lalu untuk siapa sastra itu dibuat?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi teringat kalimat legendaris dari <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Seno_Gumira_Ajidarma\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Seno Gumira Ajidarma<\/a> \u201cWhen journalism is silenced, literature must speak. Because while journalism speaks with facts, literature speaks with truth\u201d. Kalimat itu berasal dari bukunya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kalimat tersebut seharusnya cukup untuk mengguncang ruang-ruang diskusi sastra di kampus. Tapi, sekarang yang terjadi\u00a0 justru sebaliknya, sastra dijadikan ruang pelarian dari realitas, bukan alat untuk membongkar realitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak bilang semua karya sastra harus menjadi pamflet politik. Tidak. Sastra juga boleh indah. Boleh personal. Boleh absurd. Bahkan, Seno sendiri mengakui sastra boleh \u201csekadar indah\u201d. Tapi, persoalannya, ketika lingkungan sastra kampus terlalu nyaman menjadi ruang estetika tanpa keberpihakan sosial, ada yang sedang hilang dari roh kesusastraan itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena sastra sejatinya tidak pernah benar-benar netral. Novel, puisi, cerpen, teater, semuanya lahir dari konteks sosial tertentu. Dari relasi kuasa tertentu. Dari luka tertentu. Maka, aneh sekali ketika mahasiswa sastra justru takut bicara politik, takut bicara negara, takut bicara pendidikan, takut bicara ketimpangan sosial. Seolah kritik sosial adalah sesuatu yang \u201ctidak sastra\u201d. Padahal, sejarah sastra Indonesia dipenuhi oleh orang-orang yang dibesarkan oleh keberanian menyentuh persoalan sosial.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kultur Sastra Indonesia UNY dan UAD yang bergeser<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa problem ini bukan cuma soal kurikulum kampus negeri dan swasta. Tapi, juga soal kultur. Kultur mahasiswa sastra hari ini terlalu sibuk tampil intelektual daripada benar-benar menjadi intelektual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diskusi sastra akhirnya berubah jadi ajang performa. Siapa paling banyak baca teori hingga paling rumit menjelaskan puisi. Semua terdengar ndakik-ndakik. Padahal, intelektualitas bukan soal terdengar rumit. Intelektualitas adalah keberanian berpikir jernih terhadap kenyataan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering merasa mahasiswa sastra hari ini lebih takut dianggap tidak estetik daripada takut menjadi tidak relevan. Mereka lebih takut disebut \u201cterlalu politis\u201d daripada sastra kehilangan daya gugahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya, ruang-ruang diskusi sastra di kampus terasa seperti museum yang indah, tenang, penuh kutipan keren, tetapi tidak benar-benar hidup. Tidak ada kegaduhan intelektual yang berani membenturkan sastra dengan kondisi bangsa. Sastra tak lagi jadi alat membaca zaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kalau mau jujur, Indonesia sedang penuh bahan bakar sastra. Korupsi ada. Kemiskinan ada. Pendidikan amburadul ada. Ketimpangan sosial ada. Kekerasan aparat ada. Eksploitasi alam ada. Buruh diperas ada. Petani digusur ada. Tapi, mahasiswa sastra malah sibuk membuat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/mahasiswa-jurusan-sastra-indonesia-sehat-mental-berkat-puisi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">puisi<\/a> tentang \u201cmatamu adalah rumah yang lupa pulang\u201d. Ya Tuhan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Keluarlah kalian mahasiswa jurusan Sastra Indonesia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kadang ingin mengguncang pundak mereka sambil berkata \u201cKeluar sebentar dari lingkaran senja dan metaforamu itu. Lihat dunia nyata.\u201d Sastra bukan cuma soal merangkai kata indah. Sastra adalah cara manusia merekam zaman. Dan, kalau mahasiswa sastra tidak mampu membaca zamannya sendiri, lalu apa bedanya mereka dengan mesin penghasil kutipan Pinterest?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya percaya mahasiswa sastra sebenarnya punya potensi besar menjadi pengganggu kenyamanan sosial. Mereka punya bahasa, imajinasi, hingga kemampuan membaca manusia lebih dalam daripada banyak jurusan lain. Tapi, potensi itu sering mati karena terlalu sibuk menjadi \u201canak sastra\u201d. Terlalu sibuk menjaga citra eksklusif. Terlalu sibuk menjadi estetik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, mungkin yang dibutuhkan sastra Indonesia hari ini bukan lebih banyak penyair senja, melainkan lebih banyak manusia yang berani bicara. Berani menjadikan sastra bukan sekadar dekorasi intelektual, tetapi alat untuk memahami dan melawan kebobrokan zaman. K<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">alau jurusan Sastra Indonesia di banyak kampus, termasuk UNY dan UAD, terus melahirkan manusia yang hanya pandai bermain metafora, tetapi takut menyentuh realitas. Jika kalian tidak terima, silakan bantah saya dengan tulisan juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Janu Wisnanto<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fisip-gelap-mahasiswa-jarang-baca-dan-dosen-sibuk-berpolitik\/\"><b><i>FISIP Kehilangan \u201cTaring\u201d karena Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik .<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di UNY dan UAD sama saja, terlalu ndakik-ndakik hingga berjarak dengan realitas di lapangan. <\/p>\n","protected":false},"author":2789,"featured_media":402119,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4783,24210,921,6279,6153,626,6278,9570],"class_list":["post-402105","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jurusan-kuliah","tag-jurusan-sastra-indonesia","tag-kampus","tag-kampus-jogja","tag-mahasiswa-sastra-indonesia","tag-sastra-indonesia","tag-uad","tag-uny"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402105","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2789"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=402105"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402105\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":402121,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402105\/revisions\/402121"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/402119"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=402105"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=402105"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=402105"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}