{"id":402067,"date":"2026-05-08T11:21:57","date_gmt":"2026-05-08T04:21:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=402067"},"modified":"2026-05-08T11:22:39","modified_gmt":"2026-05-08T04:22:39","slug":"orang-jakarta-baperan-panggilan-aku-kamu-dikira-pdkt","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-jakarta-baperan-panggilan-aku-kamu-dikira-pdkt\/","title":{"rendered":"Orang Jakarta Baperan: \u2018Aku-Kamu\u2019 Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya benar-benar mengalami culture shock ketika pertama kali berinteraksi dengan banyak orang di Jakarta. Bukan soal macet, bukan juga soal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/please-kagum-dan-memotret-gedung-bertingkat-itu-bukan-hal-norak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gedung tinggi<\/a> atau gaya hidup cepat yang sering diceritakan orang-orang. Hal mengejutkan justru datang dari sesuatu yang sangat sederhana yakni kata dalam Bahasa Indonesia \u2018aku-kamu\u2019.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di daerah asal saya, dua kata itu adalah Bahasa Indonesia sehari-hari yang netral. Artinya, kata itu tidak terdengar kasar maupun halus, tidak juga genit, romantis atau semacamnya. Apalagi tanda PDKT alias pendekatan dalam konteks romantis, \u2018aku-kamu\u2019 sama sekali tidak berkaitan. Itu sekadar cara komunikasi yang terasa natural dan sopan antar sesama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, saya menerima respons yang berbeda di Jakarta ketika menggunakan dua kata itu. Beberapa orang tiba-tiba berubah sikap. Ada yang jadi canggung. Ada yang tersenyum aneh. Bahkan ada yang secara langsung bertanya, \u201cKita sedekat itu ya sampai pakai aku-kamu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bingung. Bukannya itu memang Bahasa Indonesia yang benar?<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyesal-kuliah-bahasa-indonesia-di-universitas-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Baca juga Rasa Sesal yang Dulu Saya Rasakan ketika Kuliah Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia.<\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>Kata \u2018aku-kamu\u2019 itu sinyal romantis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak kecil kita belajar di sekolah menggunakan kata ganti orang pertama dan kedua: aku dan kamu. Dalam buku pelajaran, percakapan formal ringan pun menggunakan istilah tersebut. Tidak ada catatan kaki yang menyebutkan bahwa kata itu khusus untuk pasangan pacaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, ternyata, di lingkungan Jakarta terutama di perkantoran atau pergaulan urban kata \u2018aku\u2013kamu\u2019 sering diasosiasikan dengan kedekatan personal atau bahkan sinyal romantis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah saya mulai sadar bahwa bahasa bukan hanya soal tata bahasa, tetapi juga soal budaya sosial. Di banyak daerah di Indonesia, penggunaan \u2018aku\u2013kamu\u2019 justru dianggap normal dan netral. Tidak terlalu kaku seperti \u2018saya\u2013anda\u2019, tapi juga tidak kasar seperti panggilan slang. Bahkan, antar teman kerja baru pun penggunaan itu terasa wajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, di Jakarta, banyak orang lebih nyaman menggunakan \u2018<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/geliatwarga\/gue-tunggu-lo-di-enggok-enggokan-dan-cara-berteman-ala-jawakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gue\u2013lo\u2019<\/a> untuk teman sebaya. Lalu langsung meloncat ke \u2018saya\u2013anda\u2019 untuk situasi profesional.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya, ketika seseorang tiba-tiba menggunakan \u2018aku\u2013kamu\u2019 sebagian orang menganggapnya sebagai bentuk kedekatan emosional. Padahal bagi saya, itu hanya kebiasaan bahasa. Gara-gara hal ini, di Jakarta saya jadi harus sering menjelaskan, \u201cSaya nggak lagi <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/pengertian-dan-istilah\/arti-pdkt-dan-daftar-istilah-dalam-pacaran-20gKum4ZHuy\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PDKT<\/a> kok, ini memang cara ngomong saya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketika-menggunakan-bahasa-indonesia-dengan-baik-dan-benar-malah-ditertawakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Baca juga Ketika Menggunakan Bahasa Indonesia dengan Baik dan Benar Malah Ditertawakan.<\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>Jakarta dan kebiasaannya yang membingungkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena ini menunjukkan bahwa Jakarta bukan hanya pusat ekonomi, tetapi juga pusat pembentukan norma sosial yang unik. Banyak orang datang dari latar belakang berbeda, membawa kebiasaan bahasa masing-masing, lalu terjadi benturan persepsi. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, sering kali yang berbeda justru dianggap salah. Saya pernah merasa seolah melakukan kesalahan etika hanya karena menggunakan Bahasa Indonesia yang sebenarnya baku. Padahal niatnya sederhana: berkomunikasi secara sopan tanpa terlalu formal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini membuat saya berpikir, mungkin masyarakat kota besar memang lebih sensitif terhadap batas personal. Interaksi sosial di kota besar cenderung cepat, praktis, dan menjaga jarak emosional. Bahasa pun ikut menyesuaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, masyarakat daerah terbiasa dengan hubungan sosial yang lebih cair. Kedekatan tidak selalu berarti romantis. Sapaan hangat bukan berarti flirting. Perbedaan inilah yang sering menimbulkan salah paham.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak pengalaman itu, saya mulai menyesuaikan diri. Bukan karena merasa salah, tetapi karena komunikasi memang membutuhkan kompromi budaya. Kadang saya menggunakan \u201csaya\u2013anda\u201d agar aman. Kadang ikut memakai gaya bahasa lawan bicara supaya tidak disalahartikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, tetap saja, di dalam hati saya sering bertanya, kenapa Bahasa Indonesia sendiri terasa asing di Ibu Kota? Mungkin bukan orang Jakarta yang terlalu baper. Bisa jadi mereka hanya terbiasa dengan norma sosial yang berbeda. Dan mungkin juga, saya hanyalah orang daerah yang baru sadar bahwa bahasa ternyata punya \u201cdialek sosial\u201d yang tidak tertulis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya saya belajar satu hal penting: komunikasi bukan hanya soal benar atau salah secara bahasa, tetapi juga soal memahami konteks budaya orang lain. Meski begitu, satu hal tetap ingin saya tegaskan. Tidak semua orang yang memanggil \u201caku\u2013kamu\u201d sedang mengajak PDKT. Kadang, itu hanya seseorang yang sedang berbicara menggunakan Bahasa Indonesia apa adanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Intan Permata Putri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-jakarta-selatan-dikira-gaul-padahal-padahal-aslinya-biasa-aja\/\"><b><i>Cerita Orang Jakarta Selatan di Perantauan: Dicap Anak Gaul, padahal Aslinya Biasa Aja<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Panggilan &#8216;aku-kamu&#8217; di Jakarta bikin culture shock. Panggilan dalam bahasa Indonesia ini bisa menandakan sebuah kedekatan di sana. <\/p>\n","protected":false},"author":3172,"featured_media":402098,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[33432,33431,761,1164,135,8705,2738,31,529,10822,33433,18727],"class_list":["post-402067","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-aku","tag-aku-kamu","tag-bahasa","tag-bahasa-indonesia","tag-baper","tag-baperan","tag-gue","tag-indonesia","tag-jakarta","tag-kamu","tag-lo","tag-lo-gue"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402067","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3172"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=402067"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402067\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":402104,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/402067\/revisions\/402104"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/402098"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=402067"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=402067"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=402067"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}