{"id":401884,"date":"2026-05-06T11:02:45","date_gmt":"2026-05-06T04:02:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=401884"},"modified":"2026-05-06T11:02:45","modified_gmt":"2026-05-06T04:02:45","slug":"saatnya-warga-bantul-berbangga-dengan-embung-potorono","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saatnya-warga-bantul-berbangga-dengan-embung-potorono\/","title":{"rendered":"Saatnya Warga Bantul Berbangga dengan Embung Potorono yang Bisa Membuat Warga Sleman Iri"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Embung Potorono jelas tidak perlu minder. Ia mungkin tidak sebesar Tambakboyo. Tapi ia punya caranya sendiri untuk membuat orang ingin kembali.<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya pengakuan yang mungkin agak berisiko secara sosial, saya bosan kencan di Sleman. Bukan karena Sleman jelek. Justru sebaliknya. Sleman terlalu \u201cjadi\u201d. Terlalu rapi. Terlalu sering jadi jawaban default untuk semua hal; ngopi di Sleman, jogging di Sleman, healing di Sleman, bahkan kadang putus cinta pun rasanya lebih sah kalau lokasinya di Sleman. Salah satu ikon yang sering jadi tempat pelarian itu tentu saja Embung Tambakboyo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi seperti semua yang terlalu sering diulang, lama-lama rasanya hambar juga. Akhirnya, pada suatu sore yang agak malas dan sedikit jenuh, saya mengajak kekasih saya yang Sleman tulen\u2014DNA-nya mungkin sudah tercampur udara <a href=\"https:\/\/hmgp.geo.ugm.ac.id\/2022\/08\/16\/mengenal-lebih-dekat-jalan-palagan-tentara-pelajar-sleman-yogyakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Palagan<\/a>\u2014untuk \u201cmenyeberang\u201d ke Bantul. Tujuannya untuk ke Embung Potorono.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya datang dengan ekspektasi yang biasa-biasa saja. Dalam kepala saya waktu itu paling embung ya embung. Air, jogging track, orang-orang lari sambil sok sehat, selesai. Ternyata saya salah telak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Melihat Embung Potorono dari dekat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal pertama yang perlu diluruskan, ini bukan tulisan untuk menjatuhkan Tambakboyo. Saya tahu betul posisi Tambakboyo di hati warga Sleman dan mungkin juga di hati warga Jogja secara umum. Secara ukuran, memang Tambakboyo lebih luas. Kalau tidak salah, luasnya sekitar 7\u20138 hektare, sementara Potorono lebih kecil, kira-kira di angka 3\u20134 hektare. Nah, di titik ini biasanya orang sudah langsung menyimpulkan \u201cya jelas Tambakboyo lebih unggul.\u201d Eits, tunggu dulu. Masalahnya, pengalaman ruang itu tidak selalu soal luas. Kadang justru soal rasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Embung Potorono itu tidak terlalu banyak gaya, tapi bikin betah. Tidak berisik, tidak sok jadi pusat perhatian, tapi diam-diam punya pesona yang susah dijelaskan. Vibes-nya \u201cmBantul sekali\u201d. Saya juga tidak punya definisi akademisnya. Tapi rasanya seperti kombinasi antara sederhana, hangat, dan tidak pretensius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">HTM-nya gratis. Sama seperti Tambakboyo. Anda cuma perlu merogoh kocek Rp2.000 untuk parkir. Itu bahkan lebih murah dari harga air mineral yang sering Anda beli tanpa mikir. Di era di mana hampir semua hal dikomersialisasi, angka dua ribu rupiah itu terasa seperti bentuk perlawanan kecil terhadap kapitalisme yang kelewat semangat.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/minomartani-sleman-tempat-tinggal-yang-penuh-privilese\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: 4 Privilese Tinggal di Minomartani Sleman<\/strong><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal aktivitas, Potorono memang tidak seluas Tambakboyo untuk dipakai lari serius ala atlet maraton. Tapi untuk jogging santai atau sekadar jalan kaki sambil pura-pura merenung tentang masa depan, tempat ini sudah lebih dari cukup. Saya dan kekasih saya mengitari embung dengan tempo yang santai. Tidak ada target jarak. Tidak ada ambisi kalori terbakar. Kami hanya berjalan, ngobrol, sesekali diam, dan menikmati sore yang pelan. Dan di situlah saya sadar kadang kita tidak butuh tempat yang besar, kita cuma butuh ruang yang cukup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat Potorono punya karakter sendiri adalah konsepnya sebagai edupark. Ini menarik, karena embung ini tidak cuma jadi tempat orang dewasa pura-pura hidup sehat, tapi juga ruang bermain untuk anak-anak. Ada beberapa wahana permainan edukatif. Tidak mewah, tidak futuristik, tapi cukup untuk membuat anak-anak berlarian dengan bahagia. Dan kalau Anda perhatikan, kebahagiaan anak-anak itu sering kali jauh lebih jujur daripada konten \u201chealing\u201d orang dewasa di Instagram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, keberadaan edupark ini juga membuat suasana jadi lebih hidup. Tidak melulu pasangan yang duduk berdua sambil menatap air dan masa depan yang belum tentu jelas.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Sungai kecil yang bikin chill<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu detail yang menurut saya underrated adalah sungai kecil di sebelah embung. Saya tidak tahu apakah semua orang akan memperhatikannya, tapi bagi saya, itu salah satu highlight. Suara gemericik airnya itu\u2026 ya, klise sih kalau dibilang syahdu. Tapi memang syahdu. Bukan syahdu yang dibuat-buat seperti playlist \u201clofi beats to relax\/study to\u201d. Ini syahdu yang organik. Yang tidak butuh algoritma.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat berhenti sebentar di dekat situ. Tidak melakukan apa-apa. Cuma berdiri, mendengar, dan membiarkan pikiran saya pelan-pelan mereda. Kalau ada orang bilang healing itu mahal, mungkin dia belum pernah duduk di dekat sungai kecil di Potorono.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal kuliner, ini bagian yang sering jadi penentu apakah sebuah tempat layak dikunjungi ulang atau tidak. Tenang, Potorono tidak pelit dalam urusan ini. Di sekitar embung, ada cukup banyak jajanan dan pilihan kuliner. Dari yang ringan sampai yang bisa mengganjal perut. Dan yang paling penting ada kedai kopi. Karena mari kita jujur saja ngopi itu bukan lagi kebutuhan, tapi sudah jadi ritual. Bahkan kadang lebih sakral dari olahraga itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah satu putaran mengitari embung, saya dan kekasih saya berhenti di salah satu kedai. Pesan kopi, duduk, dan membiarkan sore berubah jadi malam pelan-pelan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Membandingkan Tambakboyo dan Potorono<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang mari kita kembali ke perbandingan yang sedikit sensitif tadi, Potorono vs Tambakboyo. Tambakboyo unggul di skala dan mungkin juga popularitas. Itu tidak bisa dibantah. Infrastruktur lebih matang, ruang lebih luas, dan nama yang sudah lebih dulu melekat. Tapi Potorono menawarkan sesuatu yang berbeda yakni kedekatan. Di Tambakboyo, kadang Anda merasa seperti bagian dari keramaian. Di Potorono, Anda lebih mudah merasa jadi bagian dari suasana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan soal mana yang lebih baik secara absolut. Ini soal preferensi. Soal apa yang Anda cari dari sebuah tempat. Kalau Anda ingin ruang yang besar, ramai, dan \u201cterbukti\u201d, Tambakboyo adalah jawaban aman. Tapi kalau Anda ingin sesuatu yang lebih hangat, lebih santai, dan sedikit lebih personal, Potorono layak masuk daftar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya datang ke Potorono dengan ekspektasi rendah. Dan seperti hukum kehidupan yang sering tidak tertulis, sesuatu yang kita datangi tanpa harapan justru sering terasa lebih menyenangkan. Sebaliknya, tempat yang terlalu dielu-elukan kadang malah membuat kita berharap terlalu tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, bisa saja sebagian dari rasa \u201cwah\u201d saya ini bukan semata karena Potorono lebih baik, tapi karena saya datang tanpa beban ekspektasi. Tapi bukankah itu poinnya?<\/span><\/p>\n<h2><b>Make Potorono great again<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di akhir hari, perjalanan kecil ke Potorono itu bukan cuma soal pindah lokasi kencan dari Sleman ke Bantul. Ini soal membuka kemungkinan baru. Soal tidak terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja. Soal memberi ruang bagi pengalaman yang mungkin tidak viral, tapi terasa. Dan untuk warga Bantul, mungkin ini saat yang tepat untuk sedikit lebih percaya diri. Tidak semua harus dibandingkan, apalagi dipertandingkan. Tapi kalau pun dibandingkan, Potorono jelas tidak perlu minder. Ia mungkin tidak sebesar Tambakboyo. Tapi ia punya caranya sendiri untuk membuat orang ingin kembali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah saatnya warga Bantul berbangga. Dan mungkin, saatnya warga Sleman juga perlu tahu bahwa di selatan sana, ada embung yang tidak kalah syahdu dan hentikan romantisasi Embung Tambakboyo kalian yang biasa saja itu. Make Embung Potorono Great Again.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Janu Wisnanto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/embung-tambakboyo-jogja-cocoknya-buat-mancing\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Embung Tambakboyo Jogja Memang Nggak Cocok buat Jogging, Cocoknya buat Mancing!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Embung Potorono jelas tidak perlu minder. Ia mungkin tidak sebesar Tambakboyo. Tapi ia punya pesonanya sendiri yang bikin orang kembali.<\/p>\n","protected":false},"author":2789,"featured_media":401892,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5766,33401,23007,7235],"class_list":["post-401884","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bantul","tag-embung-potorono","tag-embung-tambakboyo","tag-sleman"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401884","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2789"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=401884"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401884\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":401893,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401884\/revisions\/401893"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/401892"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=401884"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=401884"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=401884"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}