{"id":401532,"date":"2026-05-05T12:01:05","date_gmt":"2026-05-05T05:01:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=401532"},"modified":"2026-05-05T12:01:05","modified_gmt":"2026-05-05T05:01:05","slug":"5-keanehan-lokal-jogja-yang-bikin-bahagia-orang-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-keanehan-lokal-jogja-yang-bikin-bahagia-orang-semarang\/","title":{"rendered":"5 Keanehan Lokal Jogja yang Nggak Pernah Saya Temukan di Semarang tapi Malah Bikin Bahagia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lama hidup di Semarang dan mendadak harus balik menetap di Jogja itu rasanya aneh. Saya merasa seperti ada yang memaksa melakukan sinkronisasi frekuensi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menghabiskan masa kecil di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hidup-di-kotabaru-jogja-itu-enak-sampai-kamu-coba-menyeberang-jalan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Pelajar<\/a>. Namun tetap saja, pemikiran saya sering bentrok dengan budaya lokal saat kembali menginjakkan kaki di sini sebagai orang dewasa. Terkadang, saya merasa seperti alien yang salah titik koordinat saat mendarat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ada beberapa kejadian unik bila saya menilik menggunakan kacamata warga Semarang. Apa saja yang orang Jogja anggap wajar, justru menjadi teka-teki besar yang bertengger di kepala saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kesenjangan inilah yang akhirnya memancing tawa sekaligus ruang refleksi. Ringkasnya, setiap tempat memiliki aturan main sendiri yang begitu kuat dan spesial hingga selalu berhasil memantik rasa rindu.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-bikin-betah-mau-sukses-kerja-ke-semarang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Bikin Betah, tapi Kalau Mau Jadi Pekerja yang Tahan Banting dan Sukses, Mending Kerja di Semarang<\/a><\/p>\n<h2><b>#1 Orang Semarang menantang standar higienis demi kelezatan sate yang ditusuk jeruji<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate yang saya tahu itu ditusuk pakai bambu. Namun di Jogja, ada kuliner khas yang menyajikan sate dengan tusukan jeruji sepeda. Bagi orang awam, metode pengolahan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-sate-klathak-di-jakarta-nggak-bisa-menyaingi-bantul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sate klatak<\/a> ini jelas menabrak pakem kebersihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Herannya, saat saya cicipi, daging sate dengan bumbu sangat sederhana tersebut malah menyodorkan kenikmatan yang nggak pernah saya jumpai di Semarang. Logam panas ini justru menjadi konduktor jenius yang menghantarkan suhu sampai ke inti daging.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasilnya? Rasa gurih, asin, dan juicy yang melampaui bayangan saya soal sedapnya sate selama ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Inovasi bakso kubis di Jogja yang sukses bikin saya sampai melahap sampai habis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi lidah warga Semarang, kehadiran tumpukan kubis mentah di dalam mangkok bakso panas adalah sebuah keganjilan yang sangat mencurigakan. Siapa sangka, pertemuan absurd saya dengan bakso legendaris di kawasan Kridosono ini justru memberikan dimensi tekstur baru yang sangat istimewa di tengah gurihnya kaldu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, gebrakan sederhana bin nyeleneh ini sanggup melahirkan rasa yang bikin saya menyerah. Saya bahkan melahapnya sampai tandas.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Belalang goreng, bukti bahwa protein nggak melulu dari ayam dan sapi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jogja, belalang naik kelas menjadi komoditas kuliner yang bikin dahi orang luar mengernyit sekaligus penasaran. Mengunyah belalang atau <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Belalang_goreng\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">walang goreng<\/a> yang renyah dan gurih ini adalah cara paling efisien memenuhi asupan protein bagi tubuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulanya memang lantaran tuntutan ekonomi. Lambat laun, malah jadi kuliner khas yang diminati. Meski terdengar ekstem, kearifan lokal tersebut menjadi bukti bahwa sesuatu yang dianggap mengganggu pun bisa menjadi sajian bernilai budaya jika ditangani dengan mentalitas orang Jogja.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Paradoks burjo yang \u201caneh\u201d di mata orang Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Burjo di Jogja adalah sebuah \u201ckebohongan publik\u201d yang paling diterima dengan ikhlas oleh semua orang. Sebagai orang Semarang, yang saya pahami, burjo itu akronim dari bubur kacang hijau. Pikir saya, tentu penjualnya menjajakan bubur kacang hijau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kocaknya, daftar pesanan yang paling sering keluar adalah aneka olahan mie instan dengan berbagai modifikasi. Fakta ini bikin saya terkekeh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soalnya, di Semarang, tempat semacam ini lebih jujur menyebut dirinya \u201cWarmindo\u201d, sebuah plesetan pendek dari \u201cwarung Indomie\u201d.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menderita-pindah-dari-jogja-ke-semarang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Hal yang Bikin Saya Menderita ketika Pindah dari Jogja ke Semarang<\/a><\/p>\n<h2><b>#5 Anomali geografis, wisata pantai di Jogja yang terletak di \u201cgunung\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, hanya di Jogja seseorang harus \u201cmendaki gunung dan melewati jalanan berkelok tajam\u201d demi bisa bertemu dengan ombak laut selatan. Situasi ini pastinya jadi misteri bagi penduduk pesisir Semarang macam saya. Dari nalar saya, laut mestinya ada di dataran rendah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kesombongan logika saya luntur seketika ombak dan pasir putih menyambut saya di deretan pantai kawasan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gunungkidul-kabupaten-gersang-yang-dulunya-dasar-laut\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gunungkidul<\/a>. Nyatanya, area ini dulunya memang dasar laut. Saya jadi sadar buat nggak petentang-petenteng lantaran menyandang predikat penghuni kota pelabuhan, lantas semaunya memukul rata orisinalitas pantai di setiap tempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rangkaian keanehan khas Jogja tadi sukses menampar kekakuan yang saya pikul dari Kota Atlas. Sesekali meresapi kehidupan ala warga lokal itu wajib kalau mau tinggal di sana. Paling nggak, pengalaman ini bikin saya sadar bahwa rumah bukan hanya titik saya berasal, tapi juga tempat di mana saya belajar menertawakan kedangkalan diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Paula Gianita Primasari<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-kebiasaan-yang-umum-di-semarang-tapi-aneh-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Kebiasaan yang Umum Dilakukan di Semarang, tapi Aneh saat Saya Lakukan di Jogja<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah membaca artikel ini, kamu akan tahu bahwa ada 5 keanehan lokal Jogja yang bikin kaget, tapi bahagia, orang Semarang.<\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":401814,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10815,2949,5281,115,31440,16237,10602,33394,32810,33393,4652,2945],"class_list":["post-401532","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-belalang-goreng","tag-burjo","tag-gunungkidul","tag-jogja","tag-kota-atlas","tag-kota-pelajar","tag-pantai-gunungkidul","tag-rekomendasi-bakso-jogja","tag-sate-klatak-jogja","tag-sate-klatan","tag-semarang","tag-warmindo"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401532","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=401532"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401532\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":401818,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401532\/revisions\/401818"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/401814"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=401532"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=401532"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=401532"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}