{"id":401234,"date":"2026-04-30T08:24:55","date_gmt":"2026-04-30T01:24:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=401234"},"modified":"2026-04-30T00:25:20","modified_gmt":"2026-04-29T17:25:20","slug":"4-hal-yang-lumrah-di-bandung-tapi-tampak-aneh-di-mata-orang-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-lumrah-di-bandung-tapi-tampak-aneh-di-mata-orang-semarang\/","title":{"rendered":"4 Hal yang Lumrah di Bandung tapi Tampak Aneh di Mata Orang Semarang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang sudah terbiasa menghirup hawa panas Semarang, menginjakkan kaki di Bandung itu rasanya seperti pindah ke dimensi lain. Ada gegar budaya ketika kulit saya yang biasanya tersengat matahari, tiba-tiba dibelai halus sejuknya udara Bandung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak cuma itu, saya masih pula dikejutkan dengan sejumlah soal di Kota Kembang. Percayalah, meski jaraknya cuma terpaut satu provinsi, sederet hal yang lumrah di Bandung berikut sukses bikin dahi saya berkerut.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Bubur ayam tanpa kuah kuning, ujian kuliner bagi orang Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Semarang, bubur ayam tanpa kuah kuning melimpah itu ibarat sayur tanpa garam. Hambar dan kehilangan jati diri. Namun di Bandung, bubur ayam justru hadir dengan kepercayaan diri tinggi meski kering kerontang tanpa siraman kuah rempah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, saya pikir saya cuma lagi apes dapat penjual yang lupa menyertakan kuah saat pesan lewat aplikasi online. Atau mungkin, penyajian bubur ayam semacam ini cuma berlaku di satu warung itu. Eh, ternyata saat sarapan di hotel pun, penampakannya serupa. Nihil kuah kuning.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bubur ayam khas Bandung memang hanya mengandalkan gurihnya kaldu yang meresap ke bulir nasi, kecap asin, dan tumpukan topping yang meriah. Bagi saya yang terbiasa sarapan bubur dengan konsep berenang di kuah, situasi ini adalah sebuah uji nyali. Bukannya nggak enak, tapi tenggorokan saya rasanya butuh usaha ekstra alias agak seret saat mencoba menelan bubur beserta kerupuk dan kawan-kawannya.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-kota-yang-nanggung-dan-membosankan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Dulu Pengin Segera Kabur dari Semarang, Kota yang Nanggung dan Membosankan, kini Selalu Kangen Setelah Kerja di Jakarta<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>#2 Urusan gedung lawas, Bandung lebih geulis ketimbang Semarang yang miris<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama-sama punya warisan kolonial, tapi nasib bangunan lawas di kedua kota ini beda rezeki. Di Bandung, gedung peninggalan Belanda tampak begitu terawat, kinclong, dan tetap terlihat denyut kehidupan. Ada yang bertransformasi jadi hotel, kafe, bahkan kantor pemerintahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara di Semarang, meski punya Kota Lama yang sudah mulai cantik, masih banyak bangunan bersejarah yang tampak sedang berjuang melawan kelembaban udara pesisir dan ancaman rob. Sedihnya, di beberapa titik lain malah ada yang terbengkalai begitu saja, tanpa ada upaya penyelamatan. Melihat gedung tua di Bandung, saya merasa iri sekaligus malu. Andai saja Semarang lebih gigih membangkitkan kembali aura gedung bersejarahnya, pasti Kota Atlas akan jadi salah satu destinasi wisata utama di Indonesia.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Nama-nama jalan estetik di Bandung ternyata sebuah akronim penuh makna<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Bandung itu kreatifnya sudah mendarah daging. Saking kreatifnya, nama jalan pun harus disulap jadi singkatan biar terdengar lebih estetik. Tengok saja Jalan Otista. Faktanya, itu adalah cara ringkas warga lokal menyebut sang pahlawan, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Oto_Iskandar_di_Nata\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Otto Iskandardinata<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau Jalan ABC, yang bukan singkatan baterai atau kecap, melainkan pengingat harmoni etnis Arab, Bumiputera, dan Cina. Belum lagi Jalan Paskal yang terdengar sangat modern dan berciri kolonial. Padahal itu cuma cara asyik buat menyingkat Pasir Kaliki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, orang Semarang anti ribet. Nama jalan disebut apa adanya tanpa perlu kosmetik bahasa. Navigasinya pun sangat sederhana. Cukup pakai pembeda Semarang Atas dan Semarang Bawah, nggak pakai pakem mata angin yang rumit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memasuki Bandung berarti harus siap menghafal kamus akronim baru agar nggak tersesat di antara singkatan puitis yang kadang bikin alis menyatu. Jujur saja, saya sering kali gagal paham dan cuma bisa manggut-manggut pasrah saat sopir taksi menjelaskan destinasi pakai singkatan-singkatan ajaib tadi.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Hutan di tengah Kota Bandung, jejeran pohon raksasa peneduh jalan yang bikin iri orang Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berjalan di Bandung itu bikin saya bertanya-tanya sedang ada di kota atau hutan belantara. Pasalnya, pohon-pohon tua raksasa dengan dahan menjalar menjadi peneduh alami di sepanjang jalan. Alhasil, suasana tetap adem meski matahari lagi semangat-semangatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usut punya usut, ternyata sebagian Bandung, seperti kawasan Dago, dulunya memang hutan rimba yang sepi dan gelap. Konon, sebelum jadi kawasan elit, daerah ini saking rawannya dan dipenuhi binatang buas, sampai muncul istilah dagoan alias menunggu dalam Bahasa Sunda. Orang-orang zaman dulu nggak ada yang berani lewat sendirian. Jadi mereka harus saling tunggu biar bisa melintas bareng-bareng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandingkan dengan Semarang. Pohon peneduh sepertinya punya nasib kurang beruntung karena rajin sekali dipangkas dahannya. Alasannya memang masuk akal. Demi keselamatan saat musim hujan. Namun, perbedaan ini sukses bikin warga Semarang sadar betapa mahalnya harga sebuah keteduhan alami tanpa bantuan AC.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, bagi warga Semarang yang sedang di Bandung, nikmati saja selagi sempat. Soalnya, kalau sudah balik realitas ke Kota Lumpia, segala keunikan di Bandung bakal bikin kangen. Paling nggak, rindu buat menikmati siang hari tanpa diserang terik matahari.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Paula Gianita Primasari<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-istimewa-tapi-bandung-lebih-sempurna-untuk-ditinggali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Memang Istimewa, tapi Mohon Maaf Bandung Lebih Nyaman untuk Ditinggali<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski jaraknya cuma terpaut satu provinsi, sederet hal yang lumrah di Bandung berikut sukses bikin dahi saya, warga Semarang, berkerut.<\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":396229,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[141,33354,33352,33353,4652],"class_list":["post-401234","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandung","tag-dago-bandung","tag-gedung-tua-di-bandung","tag-hutan-di-bandung","tag-semarang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401234","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=401234"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401234\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":401238,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401234\/revisions\/401238"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/396229"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=401234"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=401234"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=401234"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}