{"id":401150,"date":"2026-04-30T10:53:43","date_gmt":"2026-04-30T03:53:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=401150"},"modified":"2026-04-30T10:53:43","modified_gmt":"2026-04-30T03:53:43","slug":"12-istilah-hujan-yang-terdengar-aneh-dalam-bahasa-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/12-istilah-hujan-yang-terdengar-aneh-dalam-bahasa-jawa\/","title":{"rendered":"12 Istilah Hujan yang Terdengar Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada \u201cTlenik-Tlenik\u201d hingga \u201cKethek Ngilo\u201d"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Jawa itu beragam. Untuk penyebutan satu benda atau satu kegiatan ada banyak macamnya. Itu mengapa, banyak yang bilang bahasa Jawa itu bahasa yang susah. Apalagi kalau dihadapkan dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/tidak-diakui-karena-menolak-keinginan-orang-tua-untuk-jadi-pns\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang tua<\/a>. Harus bisa bahasa Jawa yang sopan dan halus. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misal, dalam konteks hujan. Ada banyak istilah untuk menggambarkan hal ini tergantuk kondisi dan situasinya. Dan, beberapa istilah terdengar lucu atau aneh di kuping pendengarnya. Namun, justru itu letak keunikan bahasa daerah satu ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Tlenik-tlenik istilah untuk hujan gerimis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tlenik-tlenik untuk mengungkapkan hujan gerimis. Tlenik-tlenik biasanya terjadi di awalan hujan. \u201cAyo ndang bali wis lekas tlenik-tlenik iki,\u201d contoh dialog yang sering digunakan saat terjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-yang-bikin-hujan-terasa-menyenangkan-saat-saya-hijrah-ke-pulau-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gerimis<\/a> yang artinya, \u201cAyo segera pulang, wis mulai gerimis ini.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Jawah, bahasa Jawa Krama untuk hujan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawah merupakan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Krama\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Jawa krama<\/a> dari hujan. Kata jawah sering digunakan untuk lawan bicara yang lebih tua untuk menunjukkan kesopanan. Misalnya begini, \u201cngapunten, nembe dugi mriki ket wau jawah terus,\u201d yang maknanya, \u201cmaaf baru datang ke sini, dari tadi hujan terus.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Deres alias deras<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hujan yang kencang dan deras disebut dengan udan deres dalam bahasa Jawa. Deres artinya deras, yang mana frekuensi hujannya sangat sering. \u201cUdane ket mau deresmen yo,\u201d yang artinya, \u201cHujannya dari tadi deras banget ya.\u201d Contoh penggunaan kata deres tersebut digunakan untuk lawan bicara yang seumuran atau untuk yang lebih muda.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-istilah-bahasa-jawa-yang-orang-jawa-sendiri-salah-paham\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Baca juga 8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham.<\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>#4 Kremun istilah untuk hujan rintik-rintik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hujan rintik-rintik dengan frekuensi rendah dinamakan kremun. Air hujan yang jatuh saat kremun halus. Jika terkena kepala atau kulit tidak sakit seperti saat terkena air hujan deras.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Kepyur, hujan rintik-rintik yang bikin tetap bikin basah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih sama dengan hujan rintik-rintik, tapi kepyur ini menunjukkan hujan kecil, tapi frekuensinya sering. Jadi, meskipun air tetesannya kecil, tapi hujan macam ini tetap bisa bikin basah baju. \u201cAku mau seko pasar wis kepyur-kepyur,\u201d contoh kalimat tersebut yang artinya, \u201cAku tadi dari pasar sudah hujan rintik-rintik.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Kethek ngilo istilah paling absurd\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang ada fenomena, hujan tapi disertai panas. Kalau dalam bahasa Jawa namanya kethek ngilo. Entah alasan apa yang mendasari penamaan jenis hujan ini cukup unik. Namun, dinamakan kethek ngilo karena perumpamaan seperti monyet yang sedang bercermin memantulkan cahaya dari cermin yang digunakan untuk mengaca.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Blebah sebutan untuk hujan di pagi hari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sadar atau tidak di pagi hari justru jarang sekali hujan. Kalau pagi hari tiba-tiba, hujan bisa bikin <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mood<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> langsung hancur. Soalnya repot, harus berangkat kerja atau sekolah dengan kondisi yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nggak-usah-sok-sokan-cuci-motor-sendiri-kalau-cuma-bikin-jalan-jadi-becek\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">becek<\/a>. Kerennya lagi nenek moyang di Jawa zaman dulu kok bisa kepikiran menciptakan istilah hujan di pagi hari, yaitu istilahnya blebah. \u201cWah, iseh blebah iki, penakke mapan turu meneh,\u201d kalimat tersebut merupakan contoh jika istilah ini digunakan dalam dialog, yang artinya, \u201cWah, masih hujan pagi, enaknya tidur lagi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-yang-baik-dan-benar-mulai-dilupakan-orang-jawa\/\"><em>Baca juga Mempertanyakan Orang Jawa Tulen yang Masih Bingung dengan Istilah Bahasa Jawa \u201cSelawe\u201d, \u201cSeket\u201d, dan \u201cSewidak\u201d.<\/em><\/a><\/p>\n<h2><b>#8 Udan wiwitan penanda musim penghujan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Jawa sangat titen, artinya mampu menghafal dengan baik. Bahkan, mereka juga ingat hujan pertama di musim penghujan. Namanya udan wiwitan, yang menandakan hujan pertama di musim penghujan tersebut. Khususnya mereka para petani pasti hafal dengan waktu hujan. \u201cWit-witan pinggir kali ketok seger amarga bar udan wiwitan,\u201d kalimat tersebut bermakna, \u201cPohon di pinggir sungai terlihat segar karena habis tersiram hujan pertama di musim penghujan.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#9 Ngrecih, istilah bahasa Jawa untuk hujan yang tak kunjung reda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menggambarkan suasana hujan yang nggak pernah berhenti disebut ngrecih. \u201cUdane ket mau ngrecih ket awan tekan wengi,\u201d yang maknanya, \u201cHujannya dari tadi pagi sampai malam.\u201d Kalimat tersebut sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<h2><b>#10 Kebo-keboan sebutan untuk hujan deras<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Jawa menyebut kebo-keboan untuk menggambarkan hujan deras yang disertai angin kencang. Konon katanya, kata <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/derita-ibu-kos-bebas-dipakai-kumpul-kebo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kebo<\/a> yang besar pas untuk menggambar hujan seperti ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#11 Hujan yang &#8220;labil&#8221; disebut dengan trenceng dalam bahasa Jawa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jenis hujan yang paling menyebalkan adalah hujan yang reda, kemudian hujan lagi. Kalau dalam bahasa Jawa, namanya trenceng, untuk menggambarkan hujan yang sudah reda, kemudian hujan lagi. \u201cAku ket mau nggowo mantol, amarga trenceng terus,\u201d yang maknanya kurang lebih, \u201cAku dari tadi pakai mantel, soalnya dari tadi hujannya nggak jelas.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#12 Makbres istilah dalam bahasa Jawa untuk hujan yang tiba-tiba deras<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hujan juga kadang jatuh tiba-tiba, dalam bahasa Jawa namanya makbres. Maknanya hujan yang datang mendadak dan deras banget. Tipe hujan ini biasanya tidak akan lama, hanya beberapa menit saja tapi deras sekali. Contoh jika digunakan dalam dialog, \u201cUdane langsung makbres, pemeane durung sido diangkat,\u201d yang artinya \u201chujannya mendadak, jemurannya belum sempat diangkat.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak sekali ternyata istilah yang digunakan untuk mengungkapkan hujan dalam bahasa Jawa. Beberapa istilah bahkan aneh dan terdengar nggak masuk akal. Namun, justru di situlah letak kekayaan bahasa daerah yang satu ini sehingga patut dilestarikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hujan-itu-nggak-romantis-dan-pengendara-motor-tahu-persis-alasannya\/\"><b><i>Hujan Itu Nggak Romantis dan Pengendara Motor Tahu Persis Alasannya.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada setidaknya 12 kata untuk mengatakan hujan dalam bahasa Jawa, mulai dari \u201cTlenik-Tlenik\u201d hingga \u201cKethek Ngilo\u201d.<\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":401263,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[761,2519,1164,763,5083,33351,623],"class_list":["post-401150","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-bahasa-daerah","tag-bahasa-indonesia","tag-bahasa-jawa","tag-hujan","tag-hujan-deras","tag-jawa"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401150","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=401150"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401150\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":401215,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401150\/revisions\/401215"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/401263"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=401150"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=401150"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=401150"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}