{"id":401086,"date":"2026-04-29T11:59:42","date_gmt":"2026-04-29T04:59:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=401086"},"modified":"2026-04-29T11:59:42","modified_gmt":"2026-04-29T04:59:42","slug":"stereotipe-mahasiswa-sumatera-yang-kuliah-di-jogja-dikira-kaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stereotipe-mahasiswa-sumatera-yang-kuliah-di-jogja-dikira-kaya\/","title":{"rendered":"Stereotipe Mahasiswa Sumatera yang Kuliah di Jogja: Dikira Anak Sawit dan Selalu Punya Duit Bejibun, padahal Kami Juga Sering Bokek!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja sering dipuji sebagai kota ramah mahasiswa. Biaya hidup relatif terjangkau, suasana santai, dan pilihan kampus yang beragam. Tapi di balik semua itu, Jogja juga punya satu kemampuan ajaib yang jarang dibahas: orang-orang di dalamnya yang menilai kondisi keuangan seseorang hanya dari asal daerahnya. Terutama orang Sumatera.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mahasiswa yang datang dari Sumatera, saya cukup sering mendapat respons yang polanya mirip. Baru kenalan, baru bilang asal daerah, lalu datanglah kalimat sakti itu: Oh, dari Sumatera? Enak dong, banyak sawit. Berarti banyak duit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya pikir itu cuma bercandaan. Tapi lama-lama, kok ya diulang terus. Dari tongkrongan ke tongkrongan, dari teman kelas sampai kenalan baru. Seolah-olah, Sumatera itu satu paket lengkap: sawit, lahan luas, dan rekening yang nggak pernah kosong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, ya\u2026 nggak gitu juga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sumatera itu luas, nggak semua punya sawit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sumatera itu luas. Sangat luas. Dan kehidupan orang-orang di sana juga beragam. Nggak semua orang punya kebun <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kelapa_sawit\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sawit,<\/a> apalagi sampai bisa disebut anak sultan. Saya sendiri termasuk yang sering bingung harus menjelaskan dari mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau bilang nggak punya sawit, nanti dikira merendah. Mau diam saja, malah dianggap mengiyakan.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Akhirnya, saya sering memilih untuk ketawa saja. Lebih gampang daripada harus menjelaskan realita yang mungkin nggak sesuai ekspektasi mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kenyataannya sederhana: orang tua saya memang bekerja keras, tapi bukan berarti kami hidup dalam kemewahan tanpa batas. Ada perhitungan, ada batasan, dan tentu saja\u2014ada momen ketika uang itu terasa pas-pasan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dari bercanda jadi ekspektasi sosial<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, stereotip ini nggak berhenti di level candaan. Lama-lama, dia berubah jadi ekspektasi sosial yang cukup memberatkan. Contohnya paling terasa waktu nongkrong bareng. Ada saja momen di mana saya secara halus or sometimes tidak halus sama sekali\u2014didorong untuk jadi penyelamat saat tagihan datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYaelah, kamu kan orang Sumatera\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat itu sering diucapkan dengan nada santai, tapi maknanya cukup dalam: kamu dianggap lebih mampu, jadi seharusnya lebih rela keluar uang. Lucunya, ketika saya nggak menawarkan diri, suasana jadi agak canggung. Seolah-olah saya melanggar peran yang sudah ditetapkan tanpa persetujuan saya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, jujur saja, saya juga sering menghitung pengeluaran sebelum memutuskan ikut nongkrong.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/uneg-uneg\/derita-mahasiswa-sumatera-makan-nasi-padang-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Derita Mahasiswa Sumatera Makan Nasi Padang di Jogja: Bukan Cuma karena Nasi Pulen dan Sambal yang Manis<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Ketika bokek dianggap bercanda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang cukup menggelitik adalah bagaimana kondisi nggak punya uang saya sering dianggap tidak nyata. Waktu saya bilang lagi bokek, responsnya hampir selalu sama:Ah, kamu mah pasti ada aja duitnya. Saya kadang pengen jawab, Kalau ada, dari tadi juga sudah saya pakai, bukan saya simpan buat koleksi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi lagi-lagi, saya cuma ketawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik itu, ada momen-momen yang sebenarnya cukup relate dengan mahasiswa lain: makan mi instan di akhir bulan, menunda beli sesuatu yang diinginkan, atau berharap ada kiriman tambahan dari orang tua. Bedanya, pengalaman itu sering tidak dianggap valid hanya karena saya berasal dari Sumatera.<\/span><\/p>\n<h2><b>Soal pinjam uang dan salah kaprah kepemilikan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang paling sering terjadi,teman-teman merasa lebih aman meminjam uang ke saya.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Alasannya sederhana dan lagi-lagi kembali ke stereotip yang sama. Padahal, ada satu hal penting yang sering dilupakan: uang yang saya pakai itu bukan uang saya sepenuhnya. Itu uang orang tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga ada di posisi yang sebenarnya nggak selalu nyaman: masih bergantung secara finansial, masih harus mengatur agar kiriman cukup sampai akhir bulan, dan kadang juga merasa nggak enak kalau harus terus meminta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ketika ada yang meminjam uang, situasinya jadi serba salah. Mau menolak, takut dianggap pelit. Mau mengiyakan, saya sendiri juga harus berpikir dua kali. Karena pada akhirnya, ini bukan soal saya punya atau tidak. Tapi soal tanggung jawab atas uang yang bukan sepenuhnya milik saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Beban mahasiswa Sumatera yang jarang terlihat dari luar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin yang terlihat bahwa mahasiswa rantau dari Sumatera, kuliah di Jogja, hidup cukup.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Tapi dari dalam, ada beban yang jarang terlihat. Ada rasa tanggung jawab karena masih dibiayai orang tua. Ada keinginan untuk tidak merepotkan mereka. Juga, ada tekanan untuk mengelola uang dengan baik, supaya tidak harus minta tambahan di tengah bulan. Dan jujur saja, itu bukan sesuatu yang selalu mudah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, ketika ada anggapan bahwa saya enak karena dianggap punya banyak uang, rasanya agak\u2026 tidak tepat. Bukan karena saya ingin dikasihani, ataupun terkesan merendah, tapi karena realitanya memang lebih kompleks dari itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Antara stereotip dan realitas mahasiswa Sumatera<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">stereotip seperti ini mungkin akan selalu ada. Sama seperti daerah lain yang juga punya label masing-masing. Tapi bukan berarti stereotip itu harus selalu dipercaya tanpa dipertanyakan. Tidak semua mahasiswa Sumatera adalah anak sawit. Dan tidak semua yang dianggap punya banyak uang benar-benar hidup tanpa kekhawatiran finansial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik label itu, ada cerita yang lebih beragam. Ada yang benar-benar berkecukupan, ada juga yang biasa saja, dan ada yang harus berjuang lebih keras dari yang terlihat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau kamu punya teman dari Sumatera, mungkin boleh sedikit menahan asumsi. Nggak semua dari kami punya kebun sawit. Nggak semua dari kami punya uang lebih. Dan yang paling penting, kami juga manusia biasa yang bisa kehabisan uang di tanggal tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau bercanda, silakan. Tapi kalau sudah sampai jadi ekspektasi, mungkin perlu dipikirkan lagi.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Karena pada akhirnya, yang orang lain bayangkan tentang sawit itu sering kali hanya ada di kepala mereka. Sementara kami, tetap harus berhadapan dengan realitas dompet sendiri.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Helma Winda<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kampus\/gengsi-bikin-mahasiswa-medan-sengsara-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mahasiswa Medan Tertipu Biaya Hidup Murah Jogja, Gadaikan Laptop demi Nongkrong di Coffee Shop<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai mahasiswa asal Sumatera yang kuliah di Jogja, saya sering dikira banyak duit dari sawit. Padahal mah, boro-boro!<\/p>\n","protected":false},"author":3249,"featured_media":401118,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,9780,33348],"class_list":["post-401086","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-kuliah-di-jogja","tag-mahasiswa-sumatera"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401086","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3249"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=401086"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401086\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":401122,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401086\/revisions\/401122"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/401118"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=401086"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=401086"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=401086"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}