{"id":401061,"date":"2026-04-30T10:31:57","date_gmt":"2026-04-30T03:31:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=401061"},"modified":"2026-04-30T10:31:57","modified_gmt":"2026-04-30T03:31:57","slug":"hal-hal-aneh-bagi-orang-lamongan-ketika-mengunjungi-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-hal-aneh-bagi-orang-lamongan-ketika-mengunjungi-jakarta\/","title":{"rendered":"Hal-Hal Aneh Bagi Orang Lamongan Ketika Mengunjungi Jakarta"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Kabupaten Lamongan, sudah agak lama saya pengin ke Jakarta sendiri. Sekadar ke Perpusnas dan muter-muter naik Transportasi umum sudah cukup, pikir saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, tahun ini, keinginan saya kesampaian juga. Saya lolos pelatihan di Jakarta, yang acaranya di Perpusnas. Hidup ini memang penuh misteri. Tentu saja kesempatan itu tidak saya sia-siakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya benar-benar coba mengelilingi Jakarta dengan naik <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dilemanya-naik-trans-jakarta-berdiri-capek-duduk-merasa-bersalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">transportasi umum<\/a>. Dan benar saja, saya cukup gembira ketika melintasi gedung-gedung tinggi itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski demikian, setelah beberapa hari menghirup polusi di kota metropolitan, ada beberapa hal yang membuat anak Kabupaten Lamongan seperti saya ini merasa janggal.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-di-jakarta-lebih-masuk-akal-ketimbang-di-jogja-dan-malang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang<\/a><\/p>\n<h2><b>#1 Transportasi umum Jakarta yang terlalu introvert bagi anak Lamongan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama kali naik <a href=\"https:\/\/www.jakartamrt.co.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MRT<\/a> dan LRT, saya merasa tidak sedang berada di dalam ruang publik. Sebab, semuanya terasa hening.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua orang sibuk dengan ponsel, memakai earphone, atau sekadar menatap kosong ke jendela. Saya jarang menemui orang mengobrol, apalagi mendengar suara orang tertawa terbahak-bahak. Ini benar-benar surga bagi kaum introvert, pikir saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beda jauh kalau naik Trans Jatim di Lamongan. Di sana, suasana transportasi umum itu sangat komunal. Selalu saja ada penumpang yang menonton video TikTok dengan volume tinggi, ibu-ibu yang seru banget ngobrol dengan teman di sampingnya, atau bapak-bapak yang menelepon dengan suara keras, seolah-olah sedang sendirian. Di Jakarta, saya tidak menemukan itu, atau barangkali belum.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Jakarta pagi hari sudah macet, sedangkan warga Lamongan masih ngopi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sangat familiar dengan istilah ngopag atau ngopi pagi. Semacam kegiatan memulai aktivitas dengan \u201cmosok iyo ora ngopi\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun ketika di Jakarta, ekosistemnya berbeda. Masih pukul enam pagi, mereka sudah tancap gas. Alhasil, macet di mana-mana, wajah-wajah tegang mengejar presensi kantor sudah jadi pemandangan biasa. Dan saya cuma bisa membatin, &#8220;Hidup ini mau cari apa, sih? Mbok, ya, ngopi-ngopi dulu.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau membandingkannya dengan ritme hidup di Lamongan, rasanya sangat kontras. Di tempat saya, pukul enam atau tujuh pagi, warung kopi masih penuh. Urusan duniawi bisa menunggu setelah gelas kopi pertama benar-benar hanya tertinggal ampasnya saja.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Terlalu bagus jalannya, terlalu melimpah bahan konten duniawinya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, Jakarta itu terlalu bagus jalannya dan terlalu melimpah bahan kontennya. Di sini, setiap sudut bisa jadi bahan Instagram Story. Bahkan ada kafe yang &#8220;view&#8221;-nya kereta lewat. Sederhana banget, tapi terlihat estetis sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, untuk mencapai taraf &#8220;kekinian&#8221; di Jakarta itu mudah sekali, tinggal jalan dikit ketemu spot foto ciamik. Sementara di Lamongan, kita harus berjuang lebih keras untuk urusan konten. Ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kafe-kalcer-di-lamongan-jelas-bukan-hal-buruk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kafe paling bagus<\/a> saja kadang suasananya masih terasa biasa saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, di Jakarta ada banyak public space gratisan. Hutan kota GBK misalnya. Kita cuma perlu datang, foto, dan konten duniawi sudah selesai didapat. Mudah sekali mendapat atensi.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebagai-warga-asli-lamongan-saya-risih-ketika-ada-yang-menyebut-lamongan-kota\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sebagai Warga Asli Lamongan, Saya Risih ketika Ada yang Menyebut Lamongan Kota<\/a><\/p>\n<h2><b>#4 Orang Jakarta terlalu buru-buru, terlalu kelihatan punya tujuan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini yang paling aneh bagi saya. Di Jakarta, semua orang terlihat punya tujuan yang jelas. Keluar dari pintu stasiun, mereka jalan cepat menuju tujuannya masing-masing sesuai waktu yang direncanakan. Presisi sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan, di Lamongan, saya lebih banyak menemukan &#8220;orang bingung&#8221;. Iya, banyak orang jalan (atau naik motor) ya pokoknya jalan saja, nggak jelas mau ke mana, tiba-tiba <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mudik-ke-jogja-itu-bukan-liburan-tapi-kunjungan-kerja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">berhenti di pinggir jalan<\/a> buat beli rokok, atau sekadar duduk melihat kendaraan berlalu-lalang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jakarta, sepertinya kita harus punya tujuan yang harus segera dikejar. Bahkan saya baru tahu ketika naik eskalator harus menyediakan ruang kosong untuk sisi kanan agar yang buru-buru bisa naik eskalator sambil jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya, eskalator kan sudah berjalan, ngapain lagi masih ditambah dengan jalan. kek buru-buru banget. Ini kalau di warga kabupaten ketemu orang kayak gini mesti banyak yang maido, \u201cgupuh budal wingi\u201d (kalau terburu-buru, berangkat kemarin saja).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, meski demikian, saya cukup kerasan di Jakarta. Tiap-tiap kota memang akan selalu menyenangkan ketika dikunjungi. Jika sudah ditinggali, itu persoalan lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M. Afiqul Adib<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-soal-lamongan-yang-jarang-dibahas-banyak-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Hal Soal Lamongan yang Jarang Dibahas Banyak Orang<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah beberapa hari menghirup polusi di Jakarta, ada beberapa hal yang membuat anak Lamongan seperti saya ini merasa janggal.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":401259,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[33356,529,20552,23848,2250,23403,5685],"class_list":["post-401061","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bus-way","tag-jakarta","tag-kabupaten-lamongan","tag-kota-jakarta","tag-lamongan","tag-perpusnas","tag-trans-jakarta"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401061","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=401061"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401061\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":401261,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/401061\/revisions\/401261"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/401259"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=401061"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=401061"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=401061"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}