{"id":400798,"date":"2026-04-26T16:59:54","date_gmt":"2026-04-26T09:59:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=400798"},"modified":"2026-04-26T16:59:54","modified_gmt":"2026-04-26T09:59:54","slug":"tegal-layak-jadi-10-besar-kota-paling-toleran-bukan-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tegal-layak-jadi-10-besar-kota-paling-toleran-bukan-jogja\/","title":{"rendered":"Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat sedang asik scroll Instagram, mata saya tertahan pada rilis terbaru<\/span><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/DXc9w7dEh5_\/?igsh=djJseG9lN2hidWJq\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Indeks Kota Toleran (IKT) 2025<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dikeluarkan oleh Setara Institute. Ada sepuluh kota yang dinobatkan sebagai jawara toleransi oleh lembaga ini. Salatiga di posisi puncak, disusul Singkawang, Semarang, hingga Ambon di peringkat ke-10. Yang bikin saya hampir tersedak adalah saat melihat peringkat ke-9: Kota Tegal.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Harikling! Temenan kie?<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Kotane nyong, Jon!<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat kota kelahiran saya nangkring di urutan ke-9 sebagai kota paling toleran se-Indonesia, jelas ada rasa perasaan bangga. Capaian ini semakin memperpanjang daftar istimewa tentang Tegal. Kota Bahari iya, gudangnya warteg iya, bahasa ngapak yang khas iya, sampai kota yang punya sate kambing dengan cita rasa yang juara. Komplit!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, sejurus kemudian muncul pertanyaan jahil di kepala. &#8220;Jogja mana? Bukannya<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-kota-pelajar-yang-mengajarkan-saya-ikhlas-menderita\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Jogja ini Kota Pelajar<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dan salah satu pusat budaya? Kok malah absen dari daftar sepuluh besar kota paling toleran di Indonesia?\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Indikator kota paling toleran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini saya bukan lagi ngeledek Jogja, ya. Saestu mboten. Saya hanya sedang tidak habis pikir. Maksud saya begini. Umumnya kalau kita bicara tentang Tegal, satu hal yang orang ingat adalah<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-orang-tegal-itu-berat-tapi-saya-tidak-menyesal\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">logat ngapaknya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Kata pendatang, orang Tegal itu kalau ngomong kayak orang berantem. Ngomongnya cepet, merepet, dengan nada yang high voltage<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">pula. Ditambah, bahasa kasar juga acap kali keluar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lain dengan Jogja. Bak bumi dan langit, tutur kata orang Jogja itu alus, pelan, berirama, dan sangat menjaga perasaan lawan bicara. Sudah seperti perwujudan dari tata krama yang luruh pokoknya. Ibaratnya, kalau orang Tegal itu &#8216;gas pol&#8217;, orang Jogja itu &#8216;nderek langkung&#8217;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi nyatanya? Yang masuk sebagai 10 besar kota paling toleran bukan Jogja, melainkan Tegal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum menyalahkan hasil survey. Mari kita lihat dulu, apa sebenarnya indikator yang digunakan Setara Institute untuk penilaian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan rilis berita, Setara Institute memiliki empat variabel utama yang dihitung. Yaitu, regulasi pemerintah kota (apakah ada Perda yang diskriminatif?), tindakan pemerintah (bagaimana respon wali kotanya kalau ada konflik?), regulasi sosial (tingkat gesekan di masyarakat), dan demografi agama.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lalu, kenapa Jogja tidak masuk?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini bagian yang agak pahit tapi perlu dibahas. Pernah dengar istilah The Paradox of Expectations?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, menurut riset psikologi sosial, semakin tinggi tuntutan untuk tampil sempurna secara moral (citra luar), seringkali semakin besar pula tekanan internalnya. Akhirnya, sistem di dalamnya justru rapuh dan semrawut. Kondisi inilah yang kemudian menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai Expectation-Reality Gap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja, karena sudah terlalu lama menyandang predikat sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya, akhirnya malah terjebak sendiri. Sibuk menjaga imej sehingga isu-isu sensitif di akar rumput, seperti intoleransi laten, malah sering terselip atau sengaja ditutupi. Demi apa? Ya, demi menjaga marwah yang selama ini sudah kadung melekat. Akhirnya, yang muncul justru perilaku defensif yang menghambat penyelesaian konflik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tegal layak masuk dalam peringkat 10 besar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Tegal? Luarnya terlihat kasar. Ngomongnya saja pakai \u2018asu\u2019 dan \u2018raimu\u2019. Tapi soal toleransi? Jangan tanya lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tegal punya Kelenteng Tek Hay Kiong yang berdiri megah, gereja-gereja tua, dan masjid yang tersebar. Di tiap festival budaya pun, warga guyup rukun. Mau itu warga lokal, Tionghoa, pendatang, semua kumpul bareng. Tidak pernah ada gesekan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi ingat Natal tahun lalu, Pemerintah menyulap jalanan dengan lampu hias model pohon natal. Bahkan, di depan gedung lama Universitas Pancasakti, ada pohon natal raksasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan itu belum ada apa-apa, ya. Yang paling memorable tentu ketika Pemkot Tegal membuat acara pengajian dan dangdutan di waktu yang bersamaan, di tempat yang jaraknya hanya sepelemparan batu. Gokil banget pancen. Tapi, itulah<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengajian-dan-dangdutan-di-waktu-yang-sama-cara-wali-kota-tegal-mencintai-warganya\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">cara Pemerintah Kota Tegal mencintai warganya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Yaitu, dengan merawat harmoni antara kegembiraan duniawi dan kebutuhan rohani sebagai bentuk toleransi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fix. Tegal memang layak banget untuk duduk di posisi 9, bukan Jogja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tegal dari posisi 39 ke posisi 9<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan kalian tahu tidak, sebelum nangkring di posisi 9, Tegal ada di posisi 39.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aslinya, nih. Kalau mau, Tegal itu bisa banget mendapat peringkat\u00a0 yang lebih tinggi. Peringkat 7, bahkan mungkin masuk 3 besar. Tapi ya itu, ada satu ganjalan besar yang akhirnya bikin skor toleransi Tegal jadi merosot. Yaitu: perilaku berkendaranya. Buset deh, nggak ada toleransinya sama sekali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam benak saya, kayaknya tim penilai langsung ngelus dada ketika melihat<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mewakili-warga-tegal-saya-ingin-menyampaikan-permintaan-maaf-kepada-pemudik\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">gaya berkendara orang Tegal<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang ajaib. Ada motor tiba-tiba nyelip dari kiri, ada yang srugal-srugul main trabas, ada yang maksa potong jalur padahal lagi padat-padatnya, ada pula yang lampu lalu lintas masih kuning sudah main klakson saja. Belum lagi banyak pula pengendara motor yang motornya terlalu nengah. Begitu diklakson supaya minggir, malah santuy nengok ke belakang sambil pasang muka ngajak gelut. Wkwkwk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, begitulah. Memang tak ada gading yang tak retak. Setidaknya, lumayan ya, bisa naik 30 peringkat jadi nomor 9.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dyan Arfyana Ayu Puspita<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-yang-wajar-di-tegal-tapi-nggak-lazim-bagi-pendatang\/\"><b><i>4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tegal memang pantas masuk jajaran kota paling toleran 2025, mengungguli Jogja yang selama ini hanya pencitraan saja. <\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":400806,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,33319,2857,33318,229],"class_list":["post-400798","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-kota-toleran","tag-tegal","tag-toleran","tag-toleransi"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400798","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=400798"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400798\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":400811,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400798\/revisions\/400811"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/400806"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=400798"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=400798"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=400798"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}