{"id":400685,"date":"2026-04-25T15:25:17","date_gmt":"2026-04-25T08:25:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=400685"},"modified":"2026-04-25T15:25:17","modified_gmt":"2026-04-25T08:25:17","slug":"mengenal-nasi-buuk-menu-tradisional-bondowoso-yang-kini-dilupakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-nasi-buuk-menu-tradisional-bondowoso-yang-kini-dilupakan\/","title":{"rendered":"Mengenal Nasi Bu\u2019uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, nasi bu\u2019uk itu lebih seperti nostalgia masa lalu. Mengingat perjalanan keluarga yang dulunya tidak semakmur hari ini<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Situbondo yang kemudian menikah dan tinggal di Bondowoso, ada banyak sekali penyesuaian\u00a0 yang perlu saya lakukan. salah satunya adalah menyesuaikan selera makan yang sangat berbeda. Biasa makan dengan menu pesisir dengan cita rasa gurih, asin, dan olahan-olahan ikan, saya mau tidak mau harus mentolerir perbedaan cita rasa di Bondowoso.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai wilayah yang berada di dataran tinggi dan tidak punya lautan, cita rasa makanan Bondowoso didominasi oleh rempah beraroma kuat dan bahan segar hasil bumi yang kebanyakan masih dimasak menggunakan tomang (tungku kayu bakar).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, apakah saya kemudian tidak mau makan karena perbedaan cita rasa itu dan lebih sering beli makan di luar? Tentu saja saya tetap makan di rumah. Selain untuk menghemat pengeluaran pribadi, makanan Bondowoso dengan cita rasa khasnya itu sebenarnya tidak asing-asing banget bagi lidah saya. Di antara berbagai menu khas yang pernah saya coba setelah menikah, ada satu yang cukup menarik perhatian. Nasi Bu\u2019uk namanya.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/belajar-dari-kecerdasan-bondowoso\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Belajar dari Bondowoso: Tidak Punya Laut, tapi Menjadi Pusat Ikan Pindang Jawa Timur<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Nasi Bu\u2019uk, kuliner unik dari bekatul jagung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dilihat dari cara masaknya, Nasi Bu\u2019uk cenderung lebih layak disebut makanan pokok daripada menu tersendiri. Meskipun ada yang menikmati nasi bu\u2019uk tanpa lauk tambahan, umumnya menu ini tetap disantap dengan tambahan lauk lain untuk melengkapinya. Mau itu sayur, sambal, kuah, apa pun itu sesuai selera.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun sama terbuat dari jagung, nasi bu\u2019uk dan nasi jagung sebenarnya berbeda. Nasi jagung itu terbuat dari beras yang dicampur dengan jagung pipil kering yang kemudian dihaluskan. Sementara nasi bu\u2019uk berasal dari beras yang dimasak bersama bekatul\u2014bu\u2019uk adalah istilah lokalnya\u2014dan kemudian dicampur setelah matang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekatul sendiri adalah produk sampingan hasil penggilingan jagung yang kaya serat dan nutrisi. <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bekatul\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bekatul<\/a> juga sering digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak karena kandungan nutrisinya. Namun, bekatul juga bisa dan sering dijadikan bahan makanan seperti nasi bu\u2019uk.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sejarah singkat nasi bu\u2019uk<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbekal rasa penasaran, saya kemudian bertanya tentang sejarah nasi bu\u2019uk pada mbah istri saya yang alhamdulillah masih hidup meskipun sudah tergolong cukup sepuh. Beliau juga masih cukup komunikatif dan seru diajak ngobrol. Alhasil, saya pun berhasil mengetahui beberapa kepingan sejarah singkat tentang nasi bu\u2019uk.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan penjelasan beliau, nasi bu\u2019uk hadir sebagai variasi dari nasi jagung. Karena kondisi ekonomi yang tidak merata, tidak semua orang bisa menikmati nasi jagung. Hanya mereka yang punya tanah dan ladang saja yang mampu menikmati nasi jagung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, bekatul atau bu\u2019uk yang menjadi produk sampingan penggilingan jagung seringkali diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat. Karena diberikan secara cuma-cuma itu, bekatul kemudian dimasak bersama nasi dan menjadi nasi bu\u2019uk yang dikenal hari ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau orang dulu yang penting dicuci kemudian dimasak sampai matang itu sudah dibilang sehat dan enak. Kadang ada juga yang pakai bekatul padi kalau sedang tidak musim jagung, tapi sekarang sudah banyak yang tidak mau karena bau pakan ternak dan alhamdulillah sudah tidak sesusah dulu hidupnya.\u201d terang mbah istri saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Punya cita rasa gurih dan nutty yang khas, tapi baunya belum tentu disukai semua orang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau soal rasa, nasi bu\u2019uk punya hint yang mirip dengan nasi jagung\u2014karena terinspirasi dari nasi jagung\u2014yang punya sedikit rasa manis, gurih, dan nutty seperti kacang. Bedanya, nasi bu\u2019uk terasa lebih ringan karena bentuknya lebih halus dibandingkan nasi jagung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara kandungan gizi, nasi bu\u2019uk banyak disukai\u2014khususnya oleh generasi sepuh\u2014karena harganya murah, penuh nutrisi dari jagung, dan memberikan rasa unik pada nasi putih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kendati demikian, kuliner ini punya aroma yang mungkin tidak disukai oleh semua orang. Karena berbahan dasar bekatul yang sering dijadikan pakan ternak, nasi bu\u2019uk juga memiliki aroma yang serupa. Tetapi, bau itu terasa sedikit samar karena sudah dimasak dan bercampur dengan aroma nasi yang punya aroma harum lembut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, nasi bu\u2019uk itu lebih seperti nostalgia masa lalu. Mengingat perjalanan keluarga yang dulunya tidak semakmur hari ini. Pengingat bahwa dulu diri ini pernah berada di titik rendah dan tidak setinggi hari ini. Bahwa sepiring nasi itu adalah hasil dari perjuangan keras dan seharusnya dihabiskan sampai tidak bersisa sebagai bentuk mensyukurinya..<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Agus Miftahorrahman<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nase-sodu-sajian-nasi-dengan-kuah-lodeh-khas-situbondo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nase\u2019 Sodu: Sajian Nasi dengan Kuah Lodeh Khas Situbondo<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi saya, nasi bu\u2019uk itu lebih seperti nostalgia masa lalu. Mengingat perjalanan keluarga yang dulunya tidak semakmur hari ini.<\/p>\n","protected":false},"author":2155,"featured_media":400722,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[33310,33312,33311,33309],"class_list":["post-400685","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bekatul","tag-makanan-khas-bondowoso","tag-makanan-khas-situbondo","tag-nasi-buuk"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400685","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2155"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=400685"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400685\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":400724,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400685\/revisions\/400724"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/400722"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=400685"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=400685"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=400685"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}