{"id":400630,"date":"2026-04-24T13:54:59","date_gmt":"2026-04-24T06:54:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=400630"},"modified":"2026-04-24T13:54:59","modified_gmt":"2026-04-24T06:54:59","slug":"pengeluaran-setelah-menikah-bikin-pusing-dan-hampir-berutang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengeluaran-setelah-menikah-bikin-pusing-dan-hampir-berutang\/","title":{"rendered":"Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu keuntungan jadi seorang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-pertanyaan-dan-nasihat-menjengkelkan-bagi-para-wanita-single\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">single<\/a>, tapi punya banyak teman yang sudah menikah adalah kita bisa belajar soal banyak hal dari mereka. Pelajaran tersebut bisa datang dari celotehan dan sambatan ketika nongkrong bersama. Apa yang mereka sambatkan bisa menjadi bekal untuk orang single seperti saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh jadi menikah itu begini. Oh harus siap menghadapi situasi seperti ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, apa yang mereka ceritakan adalah peta untuk saya supaya lebih siap menghadapi pernikahan. Pengetahuan dari pengalaman orang lain itu mahal bukan? Persoalan nikahnya kapan, urusan belakangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sekian banyak sambatan soal pernikahan, ada satu jenis persoalan yang disambatkan oleh salah satu teman saya. Dan, menurut saya sambatan ini penting untuk dijadikan panduan, yaitu tentang pengeluaran-pengeluaran tak terduga selama awal pernikahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi teman saya ini mengeluh kalau dalam kurun waktu kurang lebih 2 tahun pernikahannya, banyak muncul pengeluaran tak terduga yang bikin dia pening dan hampir saja berutang. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pengeluaran itu bukan karena dia dan istrinya boros atau gak punya dana darurat. Tapi, memang ada saja yang harus dibayarkan. Padahal, setahu saya nih, istri teman saya ini lulusan dari jurusan keuangan dan paham betul soal perencanaan keuangan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pengeluaran-pengeluaran kecil setelah menikah lama-lama terasa besar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, peralatan rumah tangga kecil yang ternyata tidak ada habisnya. Ini terjadi ketika awal-awal pernikahan. Awalnya teman saya mengira setelah menikah, kebutuhan rumah ya hanya seputar kasur, lemari, kompor, kulkas, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-saya-bertahan-dengan-mesin-cuci-2-tabung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mesin cuci<\/a>, sama piring. Sudah. Ternyata tidak. Ketika istri ngasih list apa saja yang dibutuhkan, teman saya baru sadar kalau rumah tangga itu butuh banyak barang kecil yang sebelumnya nggak kepikiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah barang receh kayak ember, gayung, keset, gantungan baju, tempat sampah, lap, rak piring, wadah beras, penjepit jemuran, stopkontak, sikat kamar mandi, gunting dapur, pisau, parang, dan lain sebagainya. Seluruh barang-barang tersebut pada akhirnya mengurangi jatah biaya mereka untuk bulan madu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi biaya kebutuhan dapur yang kadang sudah dibelanjakan tiap awal bulan ketika gajian, tetap saja kurang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kebersihan dan perawatan tempat tinggal ternyata menguras budget\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, kebersihan dan perawatan tempat tinggal. Jadi kebetulan teman saya ngontrak di kawasan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/tinggal-di-perumahan-bisa-slow-living-frugal-living-ketimbang-di-desa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">perumahan<\/a>. Dan, ketika awal menikah, teman saya agak menyepelekan soal pengeluaran untuk angkut sampah tiap rumah yang biasanya biayanya bisa mencapai ratusan ribu. Teman saya sudah diinfokan soal itu biaya angkut sampahnya, tapi salahnya, dia nggak memastikan berapa nominalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika datang tagihan kebersihan sampah, ternyata biayanya mencapai Rp160.000. Tentu saja angka ratusan ribu yang ditagihkan saat belum gajian rasanya seperti ditampar pake kayu triplek. Sakit sekali rasanya. Uang yang awalnya direncanakan untuk malam mingguan dengan istri di luar rumah, akhirnya digunakan untuk membayar iuran sampah itu. Sudah begitu, dia disemprot sama istrinya karena nggak memastikan soal nominalnya ditambah mereka yang nggak jadi pacaran di luar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, biaya yang lain terkait dengan tempat tinggal adalah perbaikan. Misalnya memperbaiki genteng yang bocor, saluran air yang mampet, keran air yang bermasalah, dan lain sebagainya. Sebetulnya semua itu bisa diperbaiki sendiri, tapi adakalanya itu terjadi secara mendadak sementara posisi teman saya sedang bekerja, akhirnya harus bayar jasa tukang untuk memperbaikinya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Biaya keamanan yang tak pernah terbayang setelah menikah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, biaya keamanan dan kenyamanan. Jadi pengeluaran soal ini nggak melulu hanya soal kunci tambahan, gembok, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/manfaat-memasang-cctv-di-rumah-yang-tak-disadari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">CCTV kecil<\/a>, atau lampu penerangan. Tapi mencakup biaya iuran keamanan yang harus ditanggung teman saya setiap bulannya. Belum lagi kalau soal kenyamanan, ada biaya seperti beli obat anti rayap, semprotan serangga, jasa fogging, dan kasa nyamuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat masih bujang, banyak aspek keamanan dan kenyamanan itu hadir ala kadarnya. Setelah menikah, semua komponen biaya di atas harus dipertimbangkan dan teman saya nggak memperhitungkan biaya tersebut ketika awal menikah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Biaya sosial sebagai pasangan ikut meningkat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat, biaya sosial sebagai pasangan. Di sini maksudnya adalah pengeluaran yang terjadi karena adanya acara di kerabat atau teman. Misalnya ketika menikah, ya amplop bisa diisi seadanya dan sepantasnya. Nah kalau sudah menikah, datangnya kan bisa jadi sering berdua nih. Tentu amplopnya juga jadi beda. Mosok pasangan suami istri isi amplop cuma Rp100.000. Jangan dong. Kita jaga marwah pasangan di hadapan teman atau saudara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi kalau acara keluarga seperti takziah, syukuran atau selamatan, aqiqah, atau ulang tahun keponakan. Masak ya nggak mau ikut urunan atau merayakan dengan bantu ini itu. Sekali lagi, jangan dong. Kita harus jaga marwah pasangan di hadapan keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah biaya sosial ini, menurut teman saya adalah yang paling gak terkontrol karena datang dari luar. Awalnya, biaya ini menggerogoti pos<a href=\"https:\/\/mediakeuangan.kemenkeu.go.id\/article\/show\/dana-darurat-apakah-penting\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> dana darurat<\/a> mereka. Tapi, akhirnya mereka langsung menyiasati dengan menganggarkannya ketika menerima gaji. Dia menyebutnya anggaran sedulur. Pokoknya sisihkan untuk kebutuhan yang sifatnya untuk sosial dan keluarga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Konflik-konflik kecil setelah menikah ternyata menyita kantong<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelima adalah pengeluaran terhadap biaya konflik kecil. Dalam rumah tangga, memang kehidupan di awalnya terasa manis, tapi hanya bertahan beberapa bulan, setelahnya akan muncul konflik-konflik yang bikin bertengkar dan ujung-ujungnya canggung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara mencairkan kondisi tersebut ya biasanya dengan membeli makanan atau ngajak keluar pasangan. Nah saat seperti ini, tentu harus mengeluarkan biaya. Dan biaya ini masuk kategori pengeluaran yang tidak terprediksi. Makanya teman saya selalu mengupayakan semaksimal mungkin untuk menjaga mood pasangannya. Berusaha agar mood pasangan tidak berubah segarang macan yang lapar. Sebab kalau mood jelek, maka harus berkorban biaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tinggal pilih mau rumah hawanya panas kayak neraka terus tapi uang aman atau rumah hawanya jadi sejuk tapi uang ludes? Nah menentukan seperti ini butuh kebijaksanaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat segala kisah pengeluaran tak kasat mata dari teman saya membuat saya sedikit bersyukur dengan status single. Sebab, ketika uang saya habis, saya tahu pelakunya saya sendiri. Sementara kalau sudah menikah, gaji bisa menghilang dengan cara yang tak terduga dan menyakitkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa jadi menikah memang membuka pintu rezeki, tapi dari kisah teman saya, saya tahu bahwa pintu pengeluarannya juga banyak yang ikutan terbuka. Bahkan lebih lebar, lebih sering, dan acapkali bikin kepala pening.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pekerjaan-rumah-tangga-mengubah-pandangan-saya-terhadap-perempuan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Pekerjaan Rumah Tangga Mengubah Pandangan Saya terhadap Perempuan.<\/em><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengeluaran setelah menikah ternyata lebih besar dari yang dibayangkan bikin pusing dan kalau tidak mengelola uang bisa berutang. <\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":400636,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[14,766,536,17653,365],"class_list":["post-400630","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-menikah","tag-pasangan","tag-pasangan-baru","tag-pasangan-muda","tag-pernikahan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400630","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=400630"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400630\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":400639,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400630\/revisions\/400639"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/400636"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=400630"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=400630"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=400630"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}