{"id":400612,"date":"2026-04-25T17:08:52","date_gmt":"2026-04-25T10:08:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=400612"},"modified":"2026-04-25T17:08:52","modified_gmt":"2026-04-25T10:08:52","slug":"normalisasi-tanya-pengantin-sebelum-memberi-kado-pernikahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/normalisasi-tanya-pengantin-sebelum-memberi-kado-pernikahan\/","title":{"rendered":"Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu kebiasaan banyak orang yang sudah sejak lama ingin saya ubah yaitu memberi kado pernikahan. Sebab, di banyak kasus, kado-kado hanya menumpuk dan berakhir sia-sia. Memang tidak semua kado pernikahan ujungnya nggak terpakai. Namun, kebanyakan kado sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/dilema-isi-amplop-nikahan-fresh-graduate-di-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pengantin<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, sebagian besar kado itu dikirimkan sebagai wujud ungkapan berbahagia. Walau tidak menutup kemungkinan, ada juga beberapa kado pernikahan dikirimkan dengan nada pekewuh atau nggak enak saja sudah diundang. Merasa tidak enak hati, bahkan cenderung malu, jika datang hanya membawa<a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/menulis-nama-di-amplop-kondangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> amplop<\/a> dengan nominal yang &#8220;terlihat sedikit&#8221;.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Memberi kado pernikahan hanya karena pekewuh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa pekewuh tadi kemudian ditutupi dengan membeli kado berukuran besar sebagai tameng harga diri agar tidak dianggap pelit. Kita lebih takut dianggap tidak sopan karena amplop yang tipis daripada merasa berdosa karena telah mengirimkan barang yang hanya akan mempersempit ruang hidup teman sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, rasa pekewuh ini adalah bentuk egoisme terselubung. Kita lebih peduli pada citra diri sendiri di hadapan penerima tamu daripada memikirkan beban logistik yang harus ditanggung si pengantin baru. Kita merasa &#8220;sudah memberi&#8221; hanya karena tangan kita menenteng kotak besar, tanpa peduli apakah barang itu akan dipakai atau justru langsung dipindahkan ke gudang. Di titik ini, kado bukan lagi simbol doa, melainkan instrumen untuk menenangkan kegelisahan sosial kita sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Normalisasi tanya kebutuhan pengantin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kado-kado demi menutupi rasa nggak enak atau pakewuh ini sebenarnya bisa selesai dengan cara mudah: tanya ke pengantin. Saya rasa, tanya kepada pengantin perlu dinormalisasi agar kado tidak menumpuk. Kalau memang ogah tanya, memberi ungkapan berbahagia dalam bentuk cash atau tunai adalah yang paling tepat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Herannya, ada saja orang enggan memberi<a href=\"https:\/\/islam.nu.or.id\/syariah\/uang-amplop-dari-tamu-resepsi-pernikahan-milik-siapa-Q1Mui\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> amplop<\/a>, tapi juga nggak enak tanya langsung ke pengantin kebutuhan mereka.\u00a0 Orang-orang memilih jalan instan dengan membeli barang yang paling mudah ditemukan di rak toko. Ada yang sengaja memilih ukuran besar agar &#8220;berbekas&#8221; secara visual. Padahal ujung-ujungnya tidak dibutuhkan atau tidak pas dengan selera pengantin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kejadian-kejadian semacam ini perlu dikurangi demi kebaikan bersama. Sudah saatnya kita mengubah paradigma. Jika memang uang yang kita miliki terbatas, maka berikanlah secara tunai tanpa perlu merasa rendah diri. Uang seratus ribu dalam amplop jauh lebih mulia dan fungsional daripada setrika atau barang lain yang kualitasnya ringkih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat, silaturahmi itu dibangun dengan ketulusan dan empati, bukan dengan sekadar menambah kado murah tak bermanfaat yang hanya akan memenuhi rumah orang lain dengan berdebu.\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mari berhenti memberikan &#8220;sampah&#8221; kepada pengantin baru hanya karena kita tidak sanggup melawan rasa pekewuh yang tidak perlu. Jika kita benar-benar peduli pada masa depan mereka, bantulah dengan sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk membayar tagihan listrik atau membeli beras. Jangan biarkan persahabatan kita hanya diwakili oleh tumpukan benda mati yang bahkan tidak akan pernah mereka nyalakan sampai mereka berkali-kali merayakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/merayakan-ulang-tahun-bukan-budaya-kita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ulang tahun pernikahan<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Riko Prihandoyo<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengeluaran-setelah-menikah-bikin-pusing-dan-hampir-berutang\/\"><b>Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebaiknya memberi kado pernikahan yang dibutuhkan pengantin baru dengan bertanya langsung kebutuhannya atau beri uang tunai saja. <\/p>\n","protected":false},"author":3072,"featured_media":400733,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[6763,12113,26992,11033,365],"class_list":["post-400612","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-kado","tag-kado-pernikahan","tag-pengantin","tag-pengantin-baru","tag-pernikahan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3072"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=400612"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400612\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":400735,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400612\/revisions\/400735"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/400733"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=400612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=400612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=400612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}