{"id":400465,"date":"2026-04-23T10:42:49","date_gmt":"2026-04-23T03:42:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=400465"},"modified":"2026-04-23T10:42:49","modified_gmt":"2026-04-23T03:42:49","slug":"film-horor-songko-memberi-kesegaran-yang-menakutkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-horor-songko-memberi-kesegaran-yang-menakutkan\/","title":{"rendered":"Film Horor \u201cSongko\u201d Memberi Kesegaran yang Menakutkan dari Cerita Rakyat Minahasa dan Membebaskan Kita dari Kebosanan Horor Jawa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika tembang \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lagu-lingsir-wengi-dan-kaitannya-terhadap-kemunculan-kuntilanak-di-penginapan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lingsir Wengi<\/a>\u201d terdengar di telinga, masih ada perasaan semriwing yang menjalar. Rasa takut seakan-akan di belakang kita ada sesosok hantu perempuan berambut panjang, dengan pakaian putih kusam, yang siap meneror dengan suara tawanya yang mengerikan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Semua itu karena film horor \u201cKuntilanak\u201d (2006) yang disutradarai oleh Rizal Mantovani. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di film tersebut, tembang \u201cLingsir Wengi\u201d yang dinyanyikan oleh Samantha (Julie Estelle) menjadi semacam lagu untuk memanggil kuntilanak.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Film horor tersebut seakan \u201csukses\u201d menjadikan tembang \u201cLingsir Wengi\u201d sebagai tembang mistis. Ini membuat tembang \u201cLingsir Wengi\u201d benar-benar berubah dari makna dan esensi asalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Miris, tapi ya mau gimana lagi. Kami, sebagai orang Jawa, juga bingung. Sebab film horor dan budaya Jawa ini memang seakan-akan selalu melekat. Daya tariknya juga kuat, terlihat dari jumlah penonton yang membeli tiket dan hadir di bioskop.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-fakta-lagu-lingsir-wengi-yang-sering-bikin-kalian-takut-nggak-jelas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Fakta Lagu Lingsir Wengi yang Sering Bikin Kalian Takut Nggak Jelas<\/a><\/p>\n<h2><b>Daya tarik budaya Jawa sebagai latar cerita film horor<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tembang \u201cLingsir Wengi\u201d dan film Kuntilanak hanyalah secuil contoh dari betapa menariknya budaya Jawa sebagai latar cerita film horor. Sebab ada buuaanyak banget film-film horor Indonesia yang mengangkat budaya Jawa sebagai latar belakang cerita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak era 80-an, film-film horor berlatar budaya (atau legenda) Jawa memang sudah banyak bermunculan. Beberapa film Suzzanna seperti \u201cBangunnya Nyi Roro Kidul\u201d dan \u201cNyi Blorong\u201d sama-sama menjadikan budaya dan legenda Jawa sebagai latar cerita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tren ini nyaris nggak pernah putus. Mulai dari trilogi \u201cKuntilanak\u201d, \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-horor-terbaik-dalam-10-tahun-terakhir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Keramat<\/a>\u201d, hingga yang masih cukup baru semacam \u201cMangkujiwo\u201d, \u201cSewu Dino\u201d, \u201cPrimbon\u201d, dan \u201cSengkolo: Petaka Satu Suro\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demi untung, budaya Jawa terus diperas, dieksploitasi lagi, bahkan diubah seenak udelnya sendiri. Asalkan keperluan mistisisme dalam layar lebar bisa terpenuhi. Maka nggak heran kalau ada kalimat, \u201cFilm horor Indonesia kalau mau untung, pakai saja budaya Jawa.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, penggunaan budaya Jawa sebagai latar cerita film horor ini makin ke sini makin berlebihan, bahkan makin ngawur. Apalagi di era 2000-an sampai sekarang, budaya Jawa seakan asal tempel saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal dapat horor dan mistisnya, nggak peduli dengan esensi aslinya. Yang penting latarnya rumah joglo, bahasanya medok, ada alunan gamelan, dan ada pemeran yang pakai setelan kebaya atau surjan lurik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Film horor \u201cSongko\u201d yang menyeramkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarin, saya baru menonton trailer salah satu film horor berjudul \u201cSongko\u201d. Film yang mengambil latar tanah <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/sumbagsel\/budaya\/d-8456335\/sinopsis-film-songko-teror-makhluk-misterius-dari-minahasa-yang-bawa-petaka\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Minahasa era akhir 80-an<\/a> ini menceritakan seorang perempuan bernama Mikha (Annette Edoarda) dan keluarganya. Mereka diusir oleh warga karena ibu tirinya, Helsye (Imelda Therinne), dituduh sebagai jelmaan Songko yang meneror warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tuduhan ini muncul setelah warga dikejutkan dengan kematian perempuan-perempuan muda secara misterius. Namun, setelah Mikha dan Helsye beserta keluarganya diusir keluar desa, warga nyatanya masih terus mendapatkan teror dari Songko. Terornya bahkan makin parah, dan makin luas. Warga nggak menemukan jalan keluar, dan situasinya makin runyam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Songko, dalam budaya orang Minahasa, adalah sosok menyeramkan yang meneror dan membunuh gadis remaja dengan cara menghisap darah mereka. Tujuannya beragam. Ada yang ingin menambah kekuatan atau ilmu, ada pula yang berdasar dendam. Dari trailer-nya saja, film ini menyeramkan. Bahkan sekilas lebih seram ketimbang beberapa film horor dengan latar budaya Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sosok ini diberi nama Songko karena tiap kemunculannya kerap mengenakan songkok atau penutup kepala, mirip peci. Wujudnya menyeramkan, kerap muncul memakai jubah panjang dan lusuh, serta berambut panjang. Posturnya tubuhnya bungkuk. Wajahnya juga nggak pernah jelas. Sekilas memang mirip kuntilanak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dalam menjalankan terornya, Songko ini kerap nangkring di pohon-pohon besar di waktu petang (magrib) hingga dini hari untuk mencari mangsa. Kalau sudah ketemu mangsanya, Songko ini bakal mengepakkan tangannya, sambil mengeluarkan suara \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">koook, koook\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (agak mirip suara gagak), lalu menyergap mangsanya dari belakang. Setelahnya, Songko bakal membawa mangsanya terbang, lalu menjatuhkannya dari ketinggian.<\/span><\/p>\n<h2><b>Angin segar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kisah teror seperti inilah yang bakal coba diangkat ke layar lebar. Songko nggak hanya sekadar bercerita soal hantu-hantuan saja. Songko juga mengangkat bagaimana sebuah kepercayaan satu masyarakat, bisa menjadi teror mencekam yang sangat mempengaruhi hubungan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/9yn6XvIU-RQ?si=WMvw-Yf5wVUbS0zS\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab di film horor ini, akan tergambar bagaimana pasca teror Songko, warga saling bermusuhan satu sama lain. Warga saling tuduh, saling nggak percaya. Hubungan antar warga hancur. Persaudaraan mereka putus. Kepercayaan hancur. Tentu saja semua ini hadir dalam balutan horor yang mencekam dan mengerikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendalami ceritanya, saya merasa bahwa hadirnya film \u201cSongko\u201d ini seakan jadi angin segar dalam dunia film horor Indonesia. Seperti kita tahu, dominasi budaya Jawa sudah membosankan, berlebihan, dan bahkan memuakkan.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-horor-indonesia-overdosis-eksploitasi-agama-islam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Film Horor Indonesia Overdosis Eksploitasi Agama Islam dan Jawa untuk Menakut-nakuti semata Biar Laku<\/a><\/p>\n<h2><b>Tersampaikan sesuai makna aslinya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika tulisan ini saya buat, film \u201cSongko\u201d memang belum tayang. Tapi saya punya cukup keyakinan bahwa film ini nantinya bakal tersampaikan dengan baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sutradara dan penulisnya adalah Gerald Mamahit, orang asli Minahasa. Risetnya juga mendalam, nggak main-main. Gerald dan tim produser bahkan sampai riset langsung ke masyarakat Minahasa di Manado dan Tomohon, termasuk ke tokoh-tokoh adat, untuk menulis cerita ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat keseriusan Gerald Mamahit dan tim, saya juga punya harapan bahwa film horor \u201cSongko\u201d ini nggak hanya tersampaikan dengan baik saja, tapi juga tersampaikan sesuai makna aslinya. Unsur kedaerahannya, dalam hal ini adat, budaya, dan kepercayaan masyarakat Minahasa, nggak perlu sampai dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi untuk alasan apapun. Termasuk untuk alasan horor atau mistisisme sekalipun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak mau nasibnya kayak budaya Jawa dalam film horor Indonesia. Budaya Jawanya diperas habis, ditambahi ini itu, dikurangi esensi dan makna utamanya (bahkan dibuang dan dilupakan), hanya untuk dapat kesan horor dan mistisnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya semoga harapan saya bisa terbayar dengan tuntas saat filmnya tayang 23 April. Semoga juga \u201cSongko\u201d ini bisa jadi bukti bahwa kalau mau bikin film horor dengan latar budaya daerah, elemen budayanya nggak perlu dimodifikasi, dan nggak perlu over eksplorasi. Sampaikan secara utuh dan apa adanya saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Iqbal AR<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-horor-mengeksploitasi-budaya-jawa-bikin-muak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Saya Muak dengan Industri Film Horor yang Hanya (Bisa) Mengeksploitasi Budaya Jawa Seolah-olah Seram dan Mistis<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Film horor &#8220;Songko&#8221; memberi angin segar yang menakutkan. Semoga film ini bisa menjadi penawar eksploitasi budaya Jawa yang bikin muak.<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":400466,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[1053,13249,33284,20,33283,21298,2734,3432,27194,33285,33286],"class_list":["post-400465","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-film-horor","tag-film-horor-indonesia","tag-film-horor-jawa","tag-film-indonesia","tag-film-songko","tag-horor-jawa","tag-kuntilanak","tag-lingsir-wengi","tag-minahasa","tag-songko","tag-tomohon"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400465","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=400465"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400465\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":400467,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400465\/revisions\/400467"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/400466"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=400465"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=400465"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=400465"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}