{"id":400435,"date":"2026-04-23T11:53:28","date_gmt":"2026-04-23T04:53:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=400435"},"modified":"2026-04-23T11:53:28","modified_gmt":"2026-04-23T04:53:28","slug":"ironi-jawa-timur-bupatinya-banyak-jadi-tersangka-korupsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-jawa-timur-bupatinya-banyak-jadi-tersangka-korupsi\/","title":{"rendered":"Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi warga Jawa Timur itu memang berat. Kamu belum tentu kuat. Bukan hanya karena harus menghadapi nyinyiran warganet imbas sound horeg yang selalu dikaitkan dengan SDM rendah dengan embel embel Jatimpur. Tapi juga karena warga Jatim dipaksa punya stok kesabaran yang nggak boleh setipis tisu untuk melihat tingkah polah para pemimpin daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum genap empat bulan tahun 2026 berjalan, saya sebagai warga Jawa Timur malu bukan kepalang. Sebab provinsi ini sudah sukses mencetak hat-trick untuk Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang bikin warganya geleng-geleng kepala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan yang berkelindan di benak saya tentu saja: ini memang Jawa Timur yang subur koruptor, atau KPK-nya yang lagi rajin-rajinnya &#8220;belanja&#8221; di sini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabar terbaru yang paling hangat dan ramai di media sosial datang dari Tulungagung. Bupati Tulungagung, <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/hukum-dan-kriminal\/d-8456274\/lagi-kpk-periksa-9-pejabat-tulungagung-terkait-korupsi-bupati-gatut\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gatut Sunu Wibowo<\/a> terjaring operasi senyap bersama belasan orang lainnya. Tuduhannya klasik tapi menyakitkan warga: dugaan pemerasan. Bayangkan, seorang kepala daerah yang seharusnya sibuk memikirkan bagaimana caranya mensejahterakan rakyat, malah melakukan pemerasan ke Kepala SKPD dengan memotong anggaran proyek demi kepentingan sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang bakatnya memeras, mungkin beliau lebih cocok buka usaha kedai peras tebu daripada jadi Bupati. Lebih halal dan nggak perlu takut didatangi orang pakai rompi merah bertuliskan penyidik KPK RI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, bukan itu saja yang mau saya bicarakan. Ada hal mengerikan yang perlu kita bahas terkait korupsi di Jawa Timur.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kasus Bupati Tulungagung bukan yang pertama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya kasus yang menjerat Gatut Sunu ini hanyalah puncak gunung es. Sudah ada beberapa kepala daerah yang \u201cdisikat\u201d KPK. Sebelumnya, Wali Kota Madiun tercokok Januari lalu. Setelahnya, Bupati Ponorogo juga kena sikat KPK terkara suap promosi jabatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu masih belum ngomongin yang sebelum-sebelumnya, kayak Sidoarjo, yang langganan banget kena KPK.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/sidoarjo-harus-belajar-dari-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Sidoarjo 25 Tahun dalam Kebobrokan, Sudah Seharusnya Belajar pada Surabaya<\/strong><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Jawa Timur melihat seperti ada kompetisi internal antar-kabupaten: siapa yang paling cepat masuk berita TV dengan tangan terborgol, dialah pemenangnya. Sebab melihat rentetan kasus itu, saya jadi sadar bahwa jabatan kepala daerah di Jawa Timur seolah-olah bukan lagi soal pengabdian, melainkan soal bagaimana caranya mengembalikan modal kampanye dengan cara yang paling instan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Modusnya pun semakin beragam dan kreatif. Ada yang main cantik lewat gratifikasi, ada yang main kasar pakai pemerasan, sampai ada yang menjual kursi jabatan seperti jualan kacang goreng. Padahal, rakyat di bawah sudah jungkir balik bayar pajak dan retribusi. Tapi di atas sana, uangnya justru jadi bahan bancakan untuk mempertebal dompet pribadi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Luka warga Jawa Timur dan pemimpin yang tak tahu diri\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Harusnya, hal ini dipahami oleh para pemimpin di Jawa Timur sebelum mereka melakukan korupsi. Tapi ya urusan uang selalu membutakan mata. Dan yang kena efeknya, siapa lagi kalau bukan warga?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sebagai warga Jawa Timur akhirnya cuma bisa menonton dari layar TV para pemimpin yang tidak tahu diri itu digelandang oleh petugas KPK. Oleh karena terjadi berulang-ulang dengan aktor yang berbeda-beda, ini bak menjadi luka kolektif bagi warga. Bahkan sejumlah kolega saya sudah sampai pada tahap apatis yang akut. Melihat bupati atau Wali Kota kena OTT sudah bukan lagi berita mengejutkan. Melainkan sekadar informasi rutin seperti prakiraan cuaca dari BMKG.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Oalah, kena lagi?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSelanjutnya siapa ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa yang sana juga bisa di OTT juga?\u201d<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga saja rentetan OTT KPK mulai di Madiun, Ponorogo, hingga Tulungagung bisa membuat pejabat korup lain di Jawa Timur meriang atau setidaknya susah tidur. Tapi ya entahlah, mungkin mereka yang masih bisa tidur pulas merasa punya &#8220;jimat keramat&#8221; atau koneksi yang lebih sakti dari penguasa negeri. Padahal, rompi oranye itu ukurannya all size, muat untuk siapa saja yang merasa punya kuasa tapi lupa daratan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, saya sebagai warga Jawa Timur cuma bisa berharap agar di sisa tahun 2026 ini, Jawa Timur dikenal karena prestasi atletnya, keindahan pariwisatanya, atau kemajuan ekonominya. Bukan karena rajinnya para pemimpin kita mendaftarkan diri jadi penghuni rutan KPK di Gedung Merah Putih Jakarta. Malu sama rakyat, Pak!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ferika Sandra<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-situbondo-kotanya-sepi-bupatinya-jadi-tersangka-korupsi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ironi Situbondo: Kotanya Sepi, Bupatinya Jadi Tersangka Korupsi<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semoga saja rentetan OTT KPK mulai di Madiun, Ponorogo, hingga Tulungagung bisa membuat pejabat korup lain di Jawa Timur susah tidur.<\/p>\n","protected":false},"author":1810,"featured_media":400479,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[33293,33295,2501,4549,33292,33294],"class_list":["post-400435","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bupati-ponorogo","tag-bupati-tulungagung","tag-jawa-timur","tag-ott-kpk","tag-tersangka-korupsi-di-jawa-timur","tag-wali-kota-madiun"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400435","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1810"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=400435"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400435\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":400480,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400435\/revisions\/400480"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/400479"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=400435"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=400435"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=400435"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}