{"id":400255,"date":"2026-04-22T14:18:42","date_gmt":"2026-04-22T07:18:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=400255"},"modified":"2026-04-22T14:18:42","modified_gmt":"2026-04-22T07:18:42","slug":"derita-orang-pasar-rebo-jauh-dari-jakarta-bagian-mana-pun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-orang-pasar-rebo-jauh-dari-jakarta-bagian-mana-pun\/","title":{"rendered":"Derita Orang Pasar Rebo, Jauh dari Jakarta Bagian Mana pun, Malah Lebih Dekat ke Depok!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin, kalian pernah dengar Pasar Rebo, tapi tak tahu dalam-dalam tentang daerah ini. Wajar, terlebih jika kalian tidak tinggal di Jabodetabek. Yang tinggal aja belum tentu tahu, apalagi kalian orang luar ye kan. Pasar Rebo ini salah kecamatan di Jakarta Timur.. Luasnya kurang lebih\u00a0 1.294 hektare dan berada di daerah yang cukup aman karena berdekatan dengan Markas Besar Kopassus, kurang lebih untuk orang-orang yang tinggal di sini lah ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Populasinya juga lumayan, sekitar 230 ribu jiwa lebih, yang menandakan kawasan ini sangat strategis untuk pemukiman. Tapi ada satu fakta menarik yang akan dibahas di sini. Percaya tidak percaya, orang Pasar Rebo lebih sering main ke daerah Depok dibanding daerah Jakarta lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dilihat di Google Maps, Kecamatan Pasar Rebo adalah salah satu kecamatan terakhir di daerah Timur Jakarta yang berbatasan langsung dengan Kota Depok dan sudah berdomisili provinsi lain (Jawa Barat). Hal ini menyebabkan banyak orang daerah Pasar Rebo bermain ke area Depok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini pertanyaanya\u00a0 mengapa orang Pasar Rebo lebih cenderung berekreasi ke daerah Depok (Margonda) dibanding sesama kecamatan di Jakarta Timur lainnya? Mengapa tidak bermain ke area Selatan yang jelas-jelas satu Provinsi dan sama-sama dekat?<\/span><\/p>\n<h2><b>Macet!\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang diketahui para warga Jabodetabek, salah satu jalan termacet di Jakarta adalah Jalan Arteri T.B. Simatupang. Jalan yang membentang dari Cilandak hingga Pasar Rebo ini adalah jalan utama bagi masyarakat Jaktim menuju Jaksel. Masalahnya adalah jalan arterinya tak seberapa lebar, sebab di tengahnya dibangun tol menuju dalam kota.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah jalannya tak seberapa lebar, masih sering diodol-odol atau diperbaiki oleh pemerintah provinsi (yang ga jelas kapan selesainya).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan ini macetnya juga tak kenal waktu. Jadi, ya jelas bikin orang males ke sana. Udah paham dikit kan kenapa orang Pasar Rebo nggak main ke Jaksel?<\/span><\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jakarta-timur-sering-diledek-jakarta-coret-gara-gara-keliatan-paling-beda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BACA JUGA: Jakarta Timur: Sering Diledek Jakarta Coret Gara-gara Keliatan Paling Beda, padahal Itu Cuma Perkara Mindset<\/a><\/strong><\/p>\n<h2><b>Dari Pasar Rebo ke Jaktim bagian utara? Nggak dulu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang bilang tempat ternikmat untuk melepas penat di Jaktim adalah daerah Rawamangun. Padahal faktanya itu hanya berlaku untuk mereka yang tinggal di Jakarta Timur bagian atas alias Utara. Oh, kalau kalian bingung kenapa ada Jaktim Utara segala, perlu kalian tahu, Jaktim adalah Kota Terluas di Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak perlu pakai angka untuk mendeskripsikan, tetapi coba bayangkan dari ujung Cakung Penggilingan sampai Pasar Rebo itu adalah daerah Jakarta Timur. Dengan daerah seluas itu agaknya sulit apabila orang Pasar Rebo ingin melepas penat ke daerah \u201cTebet van Oost\u201d alias Rawamangun. Untuk berangkat ke sananya saja sudah kena macet duluan di pasar Kramat Jati, lalu dilanjut daerah UKI Cawang, lalu Bypass Rawamangun deket Pisangan. Bukannya melepas penat, yang ada malah nambah pikiran.<\/span><\/p>\n<h2><b>Main ke daerah Jakarta lain? Ah sudahlah!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ke Jakarta Timur bagian utara saja orang Pasar Rebo sudah malas, apalagi ke Jakarta Utara, Pusat, Barat, dan Selatan, jelas makin males. Pasti mikir dua kali. Apalagi kalau diajak main ke Taman Anggrek atau PIK, jelas saya tolak mentah-mentah. Ada gila-gilanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan menuju <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Mal_Taman_Anggrek\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Taman Anggrek<\/a>, misal dari Pasar Rebo sudah memakan waktu sekitar 1 jam bila tidak macet. Bagi kami orang Pasar Rebo, dengan jarak segini sudah bisa muterin Margonda City sampai pusing tujuh keliling. Toh isinya juga tak jauh beda. Ke Utara pun sama. Bayangkan jika harus main-main ke area Kelapa Gading atau PIK, serasa ujung ketemu ujung bila berangkat dari Pasar Rebo. Toh juga saya tak terbiasa bila bermain ke daerah Utara Jakarta (lebih-lebih soal pengeluaran)<\/span><\/p>\n<h2><b>Depok lebih baik, lebih mudah dijangkau orang Pasar Rebo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah tepat jika orang Pasar Rebo memilih Kota Depok sebagai tempat tujuan main,\u00a0 lebih-lebih di sekitar Margonda Raya, walaupun macetnya gila di Akses UI. Ke Margonda dari Pasar Rebo ini hanya butuh kurang lebih 20 menit, apalagi sudah ada jalan tikus yang menuju kesana (lewat Kalisari samping Setu).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang momok paling menakutkan untuk pergi ke Depok adalah Jalan Akses UI hingga depan Margonda City yang jalannya lebar, tetapi frekuensi kendaraannya juga tinggi. Depan Akses UI misal yang ada percabangan antara dari Jakarta Timur (Gang yang arah komplek paspampres) dan ke arah Margonda Raya Gunadarma. Di situ sering kali terjadi penumpukan kendaraan akibat pengaturan lampu merah yang kurang dan jalan yang kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Margonda City pun tak kalah lengkap soal urusan hiburan dan tempat perbelanjaan. Official Store dari merek merek kenamaan terdapat di sana. Restoran pun juga tak kalah lengkap, dan yang lebih penting adalah desain mallnya yang sangat amat bagus, bila dibandingkan Mall Cijantung yang ada di Pasar Rebo. Terkadang banyak event-event ternama yang diadakan di sana yang pastinya dijadikan ajang untuk meet and greet dengan artis idola. Tapi, entah sekarang masih sering atau tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain Margo City, juga ada tempat makan di sekitarnya. seperti Gacoan yang ramainya nggak berhenti-henti ataupun coffee shop yang berjejeran di pinggir Jalan Raya Margonda. Kalau nyari warkop agak blusuk ke arah Kukusan, yang mayoritas diisi anak-anak UI yang sedang nugas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, sudah jelas ya kenapa warga Pasar Rebo malah lebih milih ke Depok. Sebab ya, entah kenapa, daerah ini tercerabut dari Jakarta yang lain. Pokoknya, hidup Depok!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Michael Ugrasena<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"http:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/jakarta-timur-kawasan-penuh-ironi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta Timur, Kawasan \u201cPenuh Ironi\u201d yang Sebaiknya Jangan Ditinggali, Kecuali Kalau Nyawamu Sembilan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi, sudah jelas ya kenapa warga Pasar Rebo malah lebih milih ke Depok. Sebab ya, entah kenapa, terasing dari Jakarta yang lain.<\/p>\n","protected":false},"author":3244,"featured_media":395691,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[1715,2652,14802,23997,33280],"class_list":["post-400255","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-depok","tag-jakarta-selatan","tag-jakarta-timur","tag-margonda","tag-pasar-rebo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400255","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3244"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=400255"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400255\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":400345,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/400255\/revisions\/400345"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/395691"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=400255"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=400255"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=400255"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}