{"id":399325,"date":"2026-04-18T13:06:43","date_gmt":"2026-04-18T06:06:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=399325"},"modified":"2026-04-18T13:30:30","modified_gmt":"2026-04-18T06:30:30","slug":"berwisata-ke-curug-cimahi-justru-bikin-tambah-stres","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berwisata-ke-curug-cimahi-justru-bikin-tambah-stres\/","title":{"rendered":"Bukannya Menghilangkan Penat, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang bilang main ke air terjun adalah cara paling ampuh untuk mengobati stres. Opini itu emang benar sih, tapi, kalau destinasi air terjun yang dituju adalah Curug Cimahi, maka saya sulit untuk setuju. Bukannya healing yang didapat, tapi malah kadar stresnya makin meningkat. Dan saya nggak bercanda perkara ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang betul, pesona air terjun setinggi 87 meter\u2014termasuk curug tertinggi di Jawa Barat\u2014ini punya daya tarik pemandangan yang megah tiada tara, apalagi kalau malam hari tiba-tiba muncul dengan lampu warna-warninya. Tapi di balik keindahannya itu, Curug Cimahi punya cara sendiri untuk menyeleksi siapa saja yang layak menginjakkan kaki di dasarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum Anda dan para wisatawan telanjur beli tiket dan menyesal di tengah jalan, sebaiknya urungkan niat kalau kalian termasuk dalam 3 tipe manusia berikut ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kaum mager yang dengkulnya gampang tremor jelas hancur di Curug Cimahi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah yang membedakan wisatawan tangguh dengan pengunjung yang cuma modal nekat demi konten mencapai curug. Untuk menyentuh dasar Curug Cimahi, para wisatawan harus menaklukkan sekitar 587 anak tangga terlebih dahulu. Angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah simulasi siksa kaki dengan tingkat kemiringan yang tidak main-main.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat turun menuju Curug, gravitasi memang membantu, tapi jangan senang dulu. Lutut Anda akan dipaksa bekerja ekstra menahan beban tubuh dan tas bawaan agar tidak menggelinding. Namun, ujian sesungguhnya adalah saat perjalanan pulang. Menanjak kembali dengan ratusan anak tangga yang seolah memanjang sendiri akan membuat napas berubah menjadi &#8220;hah-heh-hoh&#8221; alias ngos-ngosan tingkat dewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan kaget kalau melihat pengunjung lain yang kakinya mengalami tremor alias gemetar hebat bak tersengat listrik di tengah jalan. Bahkan, fenomena pengunjung pingsan dan harus digotong petugas ke atas adalah pemandangan yang lumrah.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/desa-kertawangi-pesona-desa-wisata-di-cisarua\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Desa Kertawangi: Pesona Desa Wisata di Cisarua yang Belum Diketahui Orang Banyak<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>#2 Orang yang punya trauma atau fobia monyet<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu melewati gerbang tiket Curug Cimahi, para wisatawan resmi memasuki teritorial kawanan monyet ekor panjang. Mereka adalah &#8220;penguasa&#8221; yang tidak segan mengawasi setiap gerak-gerik wisatawan mulai dari pagar pembatas atau dahan pohon dengan tatapan penuh curiga, karena kita dianggap mengganggu teritorial mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang fobia monyet, perjalanan ini akan berubah menjadi ujian nyata. Monyet di sini punya sikap agresif melihat bawaan pengunjung seperti plastik makanan atau botol minuman. Sedikit saja Anda lengah, minuman yang belum sempat membasahi kerongkongan bisa langsung &#8220;dirampok&#8221; dengan gesit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan skenarionya seperti ini, udah mah fisik cape, napas pendek, kaki gemetar saat nanjak pulang, lalu tiba-tiba kawanan primata ini muncul menghadang di pagar pembatas seolah menagih upeti berupa makanan yang pengunjung bawa.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Penderita alergi dingin yang tubuhnya sensitif terhadap kelembaban ekstrem<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang perlu diluruskan agar Anda tidak tersesat berkunjung ke sana. meski namanya Curug Cimahi, lokasinya justru ada di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Cisarua,_Bandung_Barat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kecamatan Cisarua<\/a>, Kabupaten Bandung Barat. Berada di ketinggian 1.050 mdpl, suhu di sini tidak mengenal kata kompromi. Dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena letak Curug-nya di bawah dan terhimpit tebing curam, sinar matahari punya jadwal yang sangat terbatas untuk menembus dasar curug. Hasilnya? Suhu bisa turun drastis tanpa permisi, diperparah uap air terjun yang terus-menerus membasahi udara hingga menciptakan atmosfer yang sangat lembap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjelang sore, kabut raksasa biasanya datang menyergap. Bagi penderita asma atau pengunjung yang alergi udara lembab, bernapas di bawah sana akan terasa sangat berat. Kalau nekat datang tanpa jaket tebal siap-siap saja pulang membawa &#8220;oleh-oleh&#8221; berupa meriang sampe tulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah tiga tipe orang yang sebaiknya menghapus Curug Cimahi dari daftar destinasi liburan kalian. Daripada sudah jauh-jauh datang, lalu pulang-pulang malah misuh-misuh mengumpat soal dinginnya yang nggak ngotak, monyet yang suka mengganggu atau anak tangga yang jumlahnya ratusan, lebih baik cari tempat lain yang lebih ramah buat kaum mageran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah saya ingatkan, lho. Curug Cimahi butuh fisik yang prima dan mental yang sekuat baja. Kalau tidak punya keduanya, lebih baik rebahan di rumah sambil melihat fotonya saja.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Acep Saepulloh<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/serba-serbi-cimahi-kota-mungil-di-tengah-tengah-bandung-raya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Serba-serbi Cimahi, Kota Mungil di Tengah-tengah Bandung Raya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Curug Cimahi butuh fisik yang prima dan mental yang sekuat baja. Kalau tidak punya keduanya, lebih baik rebahan di rumah saja.<\/p>\n","protected":false},"author":2577,"featured_media":399356,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8439,141,5912,16665,33226],"class_list":["post-399325","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-air-terjun","tag-bandung","tag-cimahi","tag-cisarua","tag-curug-cimahi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/399325","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2577"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=399325"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/399325\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":399360,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/399325\/revisions\/399360"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/399356"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=399325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=399325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=399325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}