{"id":399219,"date":"2026-04-17T13:23:44","date_gmt":"2026-04-17T06:23:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=399219"},"modified":"2026-04-17T13:23:44","modified_gmt":"2026-04-17T06:23:44","slug":"anak-bungsu-dilema-antara-kejar-cita-cita-atau-jaga-ortu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/anak-bungsu-dilema-antara-kejar-cita-cita-atau-jaga-ortu\/","title":{"rendered":"Di Balik Cap Manja, Anak Bungsu Sebenarnya Dilema antara Kejar Cita-cita atau Jaga Ortu karena Kakak-kakak Sudah Berumah Tangga\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang bilang anak bungsu itu selalu dimanja, sehingga hidupnya tak seberat kakak-kakak mereka. Usia mereka pun paling muda jadi mereka paling disayang oleh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/harian\/orang-tua-kerja-keras-tapi-kesepian-di-masa-tua\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang tuanya<\/a>. Mau sebesar apapun fisik anak bungsu, orang tua akan tetap menganggap mereka anak paling kecil. Jadinya, saudara yang lain selalu diminta untuk mengalah pada mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terdengar istimewa, tapi sebetulnya di dalam hatinya penuh perasaan dilema.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara, saya mengamini narasi di atas. Saya kerap merasa dianggap anak kecil oleh orang tua saya. Tapi, hal itu bukan berarti hidup kami, para anak bungsu ini, penuh bahagia tanpa depresi. Kami selalu dihantui oleh perasaan ketakutan tak bisa membalas jasa orang tua kita. Apalagi di usia kami yang menyentuh 25, orang tua kami pun sudah masuk usia senja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ditinggal saudara dan dituntut membahagiakan orang tua<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat anak bungsu masuk usia 25 tahun hal yang paling mungkin terjadi yakni saudara mereka telah berkeluarga. Bukan hanya punya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/menikah-untuk-saling-melengkapi-indah-tapi-bullshit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pasangan<\/a>, tapi masing-masing dari mereka sudah punya anak yang membutuhkan kasih sayangnya. Maka, hal demikian sudah maklum kalau perhatian mereka akan terpecah. Hidup tak bisa lagi sepenuhnya untuk orang tua, apalagi adiknya. Tentu, kasih sayang yang paling utama adalah untuk anaknya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tak perlu memungkiri hal ini, setiap orang pasti punya prioritas masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dari kondisi tersebut siapa lagi yang bisa diharapkan harus selalu ada untuk orang tua selain anak bungsu. Anak bungsu adalah komposisi paling ideal untuk menemani orang tua. Katanya, masih muda, jalannya masih panjang, hanya buang-buang waktu kalau cuma buat senang-senang di luar. Lebih baik menemani orang tua saja di rumah!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, hal tersebut memang betul. Tapi, ketika kakak-kakak kita sudah pindah, pastilah rumah terasa sangat berubah. Terasa sepi dan sunyi!<\/span><\/p>\n<h2><b>Ingin berkontribusi, tapi belum jadi apa-apa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak bungsu bukan tidak mau membantu dan membahagiakan orang tua, tapi apa yang bisa diharapkan dari manusia berusia 25 tahun. Di usia itu, anak bungsu baru saja meniti karir. Gajinya nggak seberapa, bahkan\u00a0 banyak yang masih jauh dari <a href=\"https:\/\/www.megasyariah.co.id\/id\/artikel\/edukasi-tips\/simpanan\/apa-itu-umr\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UMR<\/a>. Berbeda kalau sudah menyentuh usia 30an, mungkin finansial mereka sudah agak stabil dan mapan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sebut mungkin ya karena sebetulnya sulit juga untuk mencapainya!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, katanya, orang tua hanya butuh tinggal bersama anaknya, bukan duitnya. Tapi, kami sebagai anaknya juga membatin, \u201capakah kita cuma jadi beban saja di keluarga?\u201d Di sisi lain, memang hanya anak bungsu yang jadi harapan terakhir orang tua. Sebab sekali lagi, kakak-kakak mereka sudah berkeluarga semua.<\/span><\/p>\n<h2><b>Anak bungsu harus menggeser dulu cita-cita<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon katanya, manusia itu akan terus hidup jika punya harapan dan cita-cita. Dengan cita-cita, kita akan memiliki rencana yang harus dilakukan, mana yang perlu dikejar, dan jalan mana yang akan kita lewatkan. Intinya, akan lebih tersusun. Tapi, bagi anak bungsu, harapan dan cita-cita itu kadang harus digeser dulu. Ya, nanti-nanti dulu aja kali ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini bukan karena anak bungsu itu santai, malas, atau manja, tetapi karena cita-cita mereka berada pada orang tuanya. Yang paling utama adalah bagaimana orang tua mereka bahagia. Sebab, melihat usia orang tua yang semakin senja seperti tidak ada waktu lain untuk mengejar cita-cita. Demikianlah nasib anak bungsu yang penuh dilema. Luarnya saja terlihat seperti anak kecil, padahal di dalamnya mereka juga pusing!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah maka dari itu, mewakili para anak bungsu di dunia, saya ingin berpesan kepada kakak-kakak sekalian sebelum tulisan ini ditutup. Tengoklah sejenak adik dan orang tua kalian. Pasti mereka merasa sepi. Terkadang kasih sayang bukan cuma tentang uang kok, tapi juga kehadiran yang tulus dari orang-orang tersayang!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Abdur Rohman<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tuntutan-sosial-pns-di-desa-tinggi-dikira-mapan-dan-serba-bisa\/\"><b>J<\/b><b><i>adi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di balik stigma anak bungsu manja, mereka dilema antara kejar cita-cita atau jaga ortu yang tua sementara kakak-kakak sudah berumah tangga. <\/p>\n","protected":false},"author":2507,"featured_media":399266,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[1248,633,200,33219,7454],"class_list":["post-399219","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-anak-bungsu","tag-bungsu","tag-orang-tua","tag-ortu","tag-saudara"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/399219","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2507"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=399219"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/399219\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":399270,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/399219\/revisions\/399270"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/399266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=399219"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=399219"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=399219"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}