{"id":399214,"date":"2026-04-17T12:01:37","date_gmt":"2026-04-17T05:01:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=399214"},"modified":"2026-04-17T12:01:37","modified_gmt":"2026-04-17T05:01:37","slug":"slow-living-magelang-adalah-keputusan-orang-kota-paling-bijak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/slow-living-magelang-adalah-keputusan-orang-kota-paling-bijak\/","title":{"rendered":"Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak"},"content":{"rendered":"<p><em>Magelang tempat slow living paling pas.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan saya banyak melihat komentar netizen yang menghujat gaya hidup slow living. Katanya, slow living itu cuma mitos dan akal-akalan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/influencer-melahirkan-ketimpangan-sosial-dan-saatnya-berhenti-memakluminya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">influencer<\/a> untuk engagement. Ada pula yang komentar slow living di desa malah kena mental karena tetangga ngeselin. Tidak sedikit pula yang menganggap gaya hidup ini cuma cocok untuk orang tajir yang gajinya sudah aman tujuh turunan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membaca keluhan itu saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Pertama, kemungkinan besar mereka salah kaprah soal slow living. Kedua, mereka mungkin salah pilih tempat untuk slow living.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komentar slow living di desa bikin kena mental benar-benar di luar nalar saya. Konon katanya, tetangga yang kepo dan terlalu ikut campur menjadi penyebabnya. Saya hanya bisa ngebatin kalau itulah risiko dari pilihan slow living di desa. Karakter orang kota dan desa jelas berbeda. Itu mengapa, sebelum pindah slow living di desa sebaiknya persiapkan juga soal adaptasi sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, jangan salah kaprah dengan menganggap hidup slow living itu selalu enak, banyak pula tantangannya. Namun, semua itu terbayar kalau kalian bisa memilih tempat slow living yang tepat seperti Magelang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Magelang adalah paket komplet untuk slow living<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bukan orang asli Magelang, tapi saya pernah <a href=\"https:\/\/campus.quipper.com\/kampuspedia\/praktik-pengalaman-lapangan-ppl\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)<\/a> agak lama di sana. Saya juga sering main ke rumah kawan saya yang ada di daerah dengan julukan Kota Sejuta Bunga itu. Tiap kali kembali ke Magelang, saya jadi tersadar alasan orang-orang kota memilih menepi ke daerah ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama soal kondisi tanahnya. Tanah di Magelang itu mayoritas subur. Kalian mau menanam apa saja pasti jadi. Menanam buah-buahan hingga sayuran untuk kebutuhan dapur pun bisa. Itu mengapa, kalau kalian berharap bisa slow living dan hidup dari hasil kebun yang di tanah sendiri, Magelang adalah pilihan yang tepat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain tanah yang subur, Magelang yang berada di bawah kaki gunung punya udara sejuk. Bahkan, di beberapa daerah seperti Kaliangkrik, Ngablak, atau Grabag bisa bikin kalian lupa kalau Magelang masih berada di Indonesia yang merupakan negara tropis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu soal air, jangan ditanya. Magelang itu sumbernya air jernih dan bersih. Kalian bisa mandi tanpa khawatir kulit jadi kering atau alergi. Beda banget dengan air di kota-kota besar seperti di Jakarta misal.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Harga makanan yang ramah di kantong<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang bikin saya jatuh hati dengan Magelang adalah makanan dan harganya. Saya ingat betul saat masih PPL di sana sering jajan di sebuah warung pecel. Satu porsi makanan di sana harganya Rp8.000 hingga Rp10.000 saja. Itu pecel lengkap yang sayurnya banyak, bumbu kacangnya meresap, kerupuknya renyah. Bukan pecel yang alakadarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya sayur pecel, makanan lain pun relatif ramah di kantong dibanding makanan yang di jual di kota-kota besar lain yang kebanyakan sudah tembus di atas Rp20.000. Itu baru makanan, padahal biaya hidup lain Magelang yang terjangkau.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan kalian dengan tabungan dari gaji kerja di kota besar hidup kemudian tinggal di sana. Hidup akan jauh lebih aman karena biaya hidup yang relatif terjangkau.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Sepi, tapi tidak kesepian<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya PPL dulu, yang paling berkesan adalah suasana sore hingga malam hari. Menjelang maghrib, suara azan bersahutan dari masjid ke masjid. Warga berjalan pelan menuju masjid terdekat, beberapa bahkan pakai sarung sambil jalan karena baru selesai mandi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah maghrib, suasana jadi tenang. Bukan sepi yang mencekam kayak di film horor, tapi tenang yang bikin pikiran terasa lebih ringan. Subuh pun begitu. Jamaah masjid terasa hangat, bukan karena orangnya banyak, tapi karena ayemnya itu loh yang sulit ditemukan di kota besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini yang saya kira dicari orang-orang ketika mereka bilang ingin slow living. Bukan sekadar rumah dengan view sawah di Instagram, tapi suasana spiritual dan sosial yang membuat hati tidak terus-terusan terburu-buru.<\/span><\/p>\n<h2><b>Magelang menanti<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Magelang itu hadir dengan semua prasyarat yang orang-orang idamkan dari slow living: tanah subur, udara sejuk, air bersih, makanan murah, dan komunitas yang hangat. Yang dibutuhkan cuma satu, kesediaan untuk tidak jadi orang kota lagi. Kesediaan untuk menyapa tetangga, ikut pengajian, bantu gotong royong kalau ada kerja bakti, dan sesekali nongkrong di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warkop-bulungan-satu-lagi-tempat-viral-di-blok-m-yang-bikin-kecewa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">warkop<\/a> sambil ngobrol soal harga pupuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kesediaan itu ada, Magelang adalah jawabannya. Kalau tidak ada, mungkin masalahnya memang bukan di kota tempat Anda tinggal. Mungkin masalahnya di ekspektasi kalian tentang slow living yang terlalu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ndekem<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan anti-tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Magelang sudah siap. Kebun sudah menunggu. Harga rumahnya juga masih masuk akal. Tinggal Anda-nya yang perlu memutuskan, mau benar-benar pelan atau cuma pengen terlihat pelan di Instagram saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Daviq Nuruzzuhal<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/magelang-kota-paling-ideal-untuk-orang-yang-sedang-jatuh-cinta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta.<\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Slow Living di Magelang adalah keputusan orang kota paling bijak karena di sana bisa berkebun, biaya hidup murah, dan sepi. <\/p>\n","protected":false},"author":3238,"featured_media":399257,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[11955,5880,8599,2581,23282],"class_list":["post-399214","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bijak","tag-kota","tag-magelang","tag-orang-kota","tag-slow-living"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/399214","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3238"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=399214"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/399214\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":399259,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/399214\/revisions\/399259"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/399257"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=399214"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=399214"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=399214"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}