{"id":398928,"date":"2026-04-15T13:17:01","date_gmt":"2026-04-15T06:17:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=398928"},"modified":"2026-04-15T13:17:01","modified_gmt":"2026-04-15T06:17:01","slug":"kenapa-bakmi-jogja-susah-bertahan-di-tegal-tapi-gudeg-bisa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-bakmi-jogja-susah-bertahan-di-tegal-tapi-gudeg-bisa\/","title":{"rendered":"Kenapa Bakmi Jogja Susah Bertahan di Tegal, tapi Gudeg Bisa?"},"content":{"rendered":"<p><em>Kenapa bakmi Jogja gagal total di Tegal, tapi gudeg, yang justru dianggap tidak enak, malah bisa survive?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekspansi makanan khas suatu daerah ke wilayah lain itu lumrah. Bahkan, dengan adanya ekspansi ini, para perantau bisa sedikit mengobati kerinduan mereka akan makanan khas kampung halaman. Meski, seringkali kalau sudah pindah daerah, rasanya sudah tidak otentik lagi. Bisa karena menyesuaikan dengan lidah lokal, bahan baku yang susah ditemukan, atau karena tukang masaknya memang bukan orang asli daerah tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Tegal sendiri, kita bisa dengan mudah menemukan makanan dengan embel-embel kedaerahan. Ada soto boyolali, sate madura, soto mie bogor, dll. Nasi padang nggak usah ditanya. Menemukan warung makan padang di Tegal itu sudah semudah menemukan warteg. Hebatnya, meski makanan-makanan tersebut berasal dari daerah lain, tapi rata-rata tempat makan ini berumur panjang, bahkan punya pelanggan setia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecuali satu: Bakmi Jogja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Satu per satu tutup warung bakmi Jogja tutup<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu saya jalan-jalan ke Tegal. Maksudnya, Kota Tegal, ya, bukan Kabupaten Tegal. Kan yang banyak hiburan itu Kotanya. Kotanya sih kecil, tapi urusan nguras dompet,<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tegal-kota-yang-tepat-untuk-menghabiskan-uang\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Kota Tegal juaranya.<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alangkah terkejutnya saya ketika lewat di Jalan Semeru arah stasiun Tegal. Bangunan yang terletak persis sebelum Stasiun Tegal, yang semula warung Bakmi Jogja, sekarang berubah jadi salon. Entah sejak kapan warung bakmi Jogja tersebut tutup. Yang jelas, tutupnya warung ini menambah deret panjang warung Bakmi Jogja yang gulung tikar di Tegal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kalau dipikir-pikir, orang Tegal itu sebetulnya doyan banget makan, loh. Buktinya, sejak pagi buta, bahkan saat matahari belum muncul, penjual sarapan sudah berderet rapi di pinggir jalan. Dan mereka ini bukan penjual yang buka warung makan 24 jam, ya. Tapi, mereka memang penjual sarapan yang habis subuh langsung membuka lapak, lalu beres-beres sekitar jam 10.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukti lain orang Tegal doyan makan itu ada pada kondisi tempat makan yang selalu ramai. Pun ketika ada kumpulan rapat RT, arisan, pengajian, pasti ada acara makan-makannya. Dengan kata lain, orang Tegal itu nomor wahid kalau soal badogan alias urusan makanan. Dengan karakter yang pemakan segalanya begini, sungguh jadi misteri besar kenapa Bakmi Jogja seolah nggak laku dan susah bertahan lama. Padahal, gudeg bisa.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-bakmi-jawa-enak-di-jogja-yang-cocok-di-lidah-wisatawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: 5 Rekomendasi Bakmi Jawa Enak di Jogja yang Cocok di Lidah Wisatawan<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Efek telur bebek<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski sama-sama berasal di Jogjakarta, nasib gudeg dan bakmi jogja memang berbeda 180 derajat. Bisa jadi, gudeg jogja lebih diterima karena menyesuaikan dengan lidah lokal. Yaitu, dengan menyediakan sambal yang pedasnya sesuai selera orang Tegal. Bahkan, ada penjual gudeg yang menambahkan oseng kacang panjang di gudeg racikannya. Bayangkan, oseng kacang panjang dalam sebuah gudeg!! Nggak usah kalian yang orang Jogja asli deh, saya yang orang Tegal aja speechless pas beli nasi gudeg jebul ada oseng kacang panjangnya. Alamak, ini mah <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Nasi_campur\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nasi campur<\/a>!!!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, bakmi jogja di Tegal masih setia dengan pakemnya. Rasanya gurih, creamy, dengan semripit aroma bumbu yang ditumis. Penggunaan telur bebek juga masih dipertahankan. Namun setelah saya pikir-pikir, bisa jadi campuran telur bebek inilah yang menjadi penyebab bakmi Jogja kurang bisa diterima di lidah orang Tegal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini. Bagi warga lokal, kalau bicara olahan mie-miean, ya pasangannya telur ayam. Soalnya, telur bebek di mata orang Tegal itu sudah punya tempat eksklusifnya sendiri. Kalau nggak jadi martabak telur, ya berakhir jadi telur asin. Sehingga, ketika telur bebek itu dikocok dan dimasukkan ke dalam kuali Bakmi Jogja, sensor rasa orang Tegal mungkin langsung memberikan sinyal aneh.<\/span><\/p>\n<h2><b>Warna pucat bukan kelasnya orang Tegal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya itu saja. Dugaan saya, bakmi Jogja ini susah diterima oleh orang Tegal karena penampakannya yang cenderung pucat. Ini saya ngomong bakmi Jogja yang versi kuah, ya. Masalahnya gini, orang Tegal itu kalau masak bumbunya ora pera-pere, alias nggak tanggung-tanggung. Hampir semua bumbu di dapur harus keluar kalau masak sesuatu. Ditambah, orang Tegal ini cinta banget dengan warna merah. Banyak masakan orang Tegal yang diolah dengan bumbu dasar merah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, merah ini tidak harus selalu pedas, ya. Orang Tegal sering kali rela mengeluarkan biji dari cabainya, hanya diambil kulit luarnya saja, demi bisa menghasilkan warna masakan yang tetap merah, tapi pedasnya masih bisa dikondisikan. Maka, ketika bertemu dengan Bakmi Jogja yang secara tampilan saja sudah terlihat pucat, jelas tidak menggugah selera warga lokal. Akhirnya, Bakmi Jogja pun pelan-pelan tersisih, kalah saing dengan warung mie lokal atau bakso yang bumbunya lebih berani menantang lidah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di tempatmu, ada warung bakmi Jogja nggak? Ramai nggak di sana?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/bakmi-jawa-jogja-tidak-semuanya-enak-wisatawan-perlu-cermat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bakmi Jawa di Jogja Tidak Semuanya Memuaskan, Wisatawan Sebaiknya Bisa Bedakan yang Enak dan Biasa Saja<\/a><\/b><\/p>\n<p><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenapa bakmi Jogja gagal total di Tegal, tapi gudeg, yang justru dianggap tidak enak, malah bisa survive di kota ini?<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":351907,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[33204,18085,33205,2857,3343],"class_list":["post-398928","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bakmi-jogja","tag-gudeg-jogja","tag-makanan-di-tegal","tag-tegal","tag-warteg"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398928","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=398928"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398928\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":399030,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398928\/revisions\/399030"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/351907"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=398928"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=398928"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=398928"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}