{"id":398775,"date":"2026-04-13T11:07:31","date_gmt":"2026-04-13T04:07:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=398775"},"modified":"2026-04-13T11:31:10","modified_gmt":"2026-04-13T04:31:10","slug":"jurusan-pendidikan-dihapus-adalah-usul-terbodoh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-pendidikan-dihapus-adalah-usul-terbodoh\/","title":{"rendered":"Hanya karena Sudah Ada PPG, Tidak Berarti Jurusan Pendidikan Lantas Dihapus, Logika Macam Apa Itu?"},"content":{"rendered":"<p><em>Masih mau kekeuh juga dengan bilang jurusan pendidikan sebaiknya dihapus saja hanya karena ada PPG? Apa sih sebenarnya argumenmu?<\/em><\/p>\n<p>Namanya PPG. Singkatan dari Pendidikan Profesi Guru. PPG mulai diperkenalkan secara resmi setelah terbitnya UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Implementasinya sendiri mulai berjalan sekitar tahun 2009\u20132010. Sebelum ada PPG, ada yang namanya PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). Beda nama, tapi dua program itu punya tujuan yang sama. Yaitu, meningkatkan profesionalisme profesi guru.<\/p>\n<p>Program PPG menyasar dua kelompok utama. Pertama, lulusan S1 yang belum menjadi guru. Kelompok ini masuk ke dalam program PPG Prajabatan. Lalu, kelompok kedua, bagi guru yang sudah aktif mengajar, tapi belum memiliki sertifikat pendidik. Kelompok ini ikutnya PPG Dalam Jabatan (PPG Daljab). Sederhananya, PPG ini semacam sekolah profesi bagi calon guru dan guru.<\/p>\n<p>Nah, gara-gara PPG mirip sekolah profesi inilah, muncul gejolak. Beberapa pihak merasa <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/DSCmwE7AUbs\/\">\u2018Hapuskan saja jurusan pendidikan. Kan sudah ada PPG!\u2019<\/a>.<\/p>\n<p>Batin saya, \u201cSorry, ye. Tidak semudah itu, Kisanak.\u201d<\/p>\n<h2><strong>Awal mula kekisruhan<\/strong><\/h2>\n<p>Sebagaimana pepatah yang menyebut tak ada api kalau tak ada asap, saya meyakini bahwa ide menghapuskan jurusan pendidikan tentu lahir bukan tanpa sebab. Agaknya, ide tersebut keluar karena adanya keresahan, kegelisahan, bahkan kemarahan.<\/p>\n<p>Ada yang resah karena proses belajar 4 tahun di kampus ternyata tidak cukup jadi modal untuk dianggap sebagai guru yang profesional. Ada yang gelisah karena tidak kunjung mendapat panggilan PPG, padahal sudah mengabdi selama puluhan tahun. Dan ada pula yang marah karena melihat kenyataan di lapangan bahwa S1 Non Pendidikan+Sertifikat PPG lebih diakui sebagai pendidik profesional dibanding S1 Sarjana Pendidikan murni tapi belum punya sertifikat PPG.<\/p>\n<p>Kalau kalian bertanya-tanya, memangnya bisa ya sarjana non pendidikan ikut PPG?<\/p>\n<p>Jawabannya adalah BISA. Dengan syarat, mereka sudah mengajar di sekolah dan mengampu mata pelajaran (mapel) yang linier dengan PPG. Contoh, seorang guru mapel Informatika berlatar belakang S.Kom, bisa ikut PPG bidang studi Informatika untuk dapat predikat \u2018Guru Profesional\u2019. Guru mapel ekonomi dengan latar belakang Sarjana Akuntansi, bisa ikut PPG Pendidikan Akuntansi, dsb.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyesal-kuliah-jurusan-pendidikan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Menyesal Kuliah Jurusan Pendidikan, Tiga Tahun Mengajar di Sekolah Nggak Kuat, Sekolah Menjadi Ladang Bisnis Berkedok Agama<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><strong>Menghapus jurusan pendidikan bukan solusi<\/strong><\/h2>\n<p>Meski PPG membuat S1 Non Pendidikan + Sertifikat PPG lebih diakui sebagai pendidik profesional dibanding S1 Sarjana Pendidikan tapi belum punya sertifikat PPG, bukan berarti menghapus jurusan pendidikan jadi sebuah solusi.<\/p>\n<p>Secara logis, menghapus jurusan pendidikan hanya akan membuat kita kehilangan \u201cdapur\u201d yang memikirkan cara mengajar yang lebih baik dari hari ke hari. Sekarang, jika dapurnya ditutup, dari mana kita akan mendapatkan resep-resep pendidikan yang segar untuk generasi mendatang? Apakah kita rela masa depan pendidikan kita hanya dikelola secara administratif tanpa riset yang mendalam? Kan nggak, to?<\/p>\n<p>Sederhananya lagi, menutup jurusan pendidikan karena ada PPG itu ibarat\u00a0nyuruh orang berhenti cuci muka dan pakai skincare karena merasa sudah ada filter Instagram yang bikin cakep.<\/p>\n<p>Iya sih kelihatan cakep. Tapi, apa cakepnya asli?<\/p>\n<h2><strong>Muncul permasalahan yang lain<\/strong><\/h2>\n<p>Kalau kalian masih saja bersikeras jurusan pendidikan harus dihapus karena sudah ada PPG, ya sudah, mari kita bayangkan bersama-sama apa jadinya jika keinginan itu terwujud.<\/p>\n<p>Dalam bayangan saya, ketika jurusan pendidikan dihapus, besar kemungkinan guru-guru masa depan hanya akan jadi mesin penyampai materi yang kaku karena kehilangan fondasi ilmu mendidik yang biasanya dipelajari bertahun-tahun di jurusan pendidikan. Ini, pernah diakui oleh salah satu kawan guru saya yang latar belakangnya bukan Sarjana Pendidikan. Menurutnya, cara mengajar guru dari jurusan pendidikan itu lebih kena di hati, daripada guru non Sarjana Pendidikan.<\/p>\n<p>Selain itu, jika jurusan pendidikan dihapus, profesi guru bisa kehilangan marwahnya. Orang akan merasa bahwa siapa saja bisa jadi guru. Alhasil, guru bukan lagi sebuah panggilan hati, tapi\u00a0sekadar alternatif pekerjaan. Daripada nganggur, pokoknya. Jadi ya, daftar guru saja, deh. Toh, semua sarjana bisa jadi jadi guru. Profesi guru beneran jadi nggak ada harganya.<\/p>\n<p>Nah, karena semua orang bisa jadi guru itulah, akhirnya, kualitas pengajaran di sekolah berisiko menurun. Pasalnya, guru-gurunya punya standar dasar yang tidak seragam.<\/p>\n<h2><strong>Jurusan pendidikan dan PPG adalah pelengkap<\/strong><\/h2>\n<p>Jika sampai di sini masih ada yang mau ngeyel dan bilang, \u201cKalau begitu, yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ppg-tak-perlu-lebih-baikfokus-pada-mahasiswa-s1\/\">dihapus PPG-nya saja.<\/a> Ngapain sih dobel-dobel? Sudah capek-capek kuliah 4 tahun, lha kok masih harus divalidasi lewat selembar sertifikat?\u201d<\/p>\n<p>Begini ya, wahai insan yang pikirannya sempit. Sejak kapan sih jurusan pendidikan dan PPG itu jadi dua hal yang ditarungkan? Keduanya bukan rival. Keduanya itu pelengkap. Bangku kuliah itu dapurnya, PPG itu tukang polesnya. Jadi, aslinya tuh nggak mashook kalau dua-duanya diadu untuk dicari siapa yang lebih unggul dan siapa yang harus mudur.<\/p>\n<p>Perkara kenapa guru dari sarjana pendidikan harus ikut PPG, itu bukan karena ilmu dari bangku kuliahnya nggak kepakai, ya. Tapi, ibarat baterai nih ya, ilmu itu harus di-charge dan disegarkan lagi. Jujur, saya merasakannya sendiri. Sebagai guru dengan latar belakang sarjana pendidikan yang pernah PPG, itu seperti pembaruan mindset. Hasilnya? Saya seperti lahir kembali dengan semangat dan amunisi baru yang lebih relevan dengan tantangan zaman.<\/p>\n<p>Sementara bagi guru dengan latar belakang non-pendidikan, PPG adalah jembatan untuk lebih menghayati peran sebagai pendidik. Maklum, selama kuliah mereka tidak terpapar materi pedagogik sama sekali. Jadi, PPG menjadi peluang emas bagi mereka untuk\u00a0menambal kekosongan ilmu tentang cara mengajar. Lewat PPG pula mereka akan sadar bahwa menjadi guru bukan cuma soal memindahkan isi buku ke otak siswa, tapi soal seni menyentuh hati dan mengelola kerumitan di dalam kelas.<\/p>\n<p>Klir, ya? Atau, masih mau kekeuh juga dengan bilang jurusan pendidikan sebaiknya dihapus saja? Apa sih sebenarnya argumenmu?<\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-pendidikan-itu-memang-gampang-dan-sepele\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jurusan Pendidikan Itu Memang Gampang dan Sepele kok, Beneran deh, Serius<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masih mau kekeuh juga dengan bilang jurusan pendidikan sebaiknya dihapus saja hanya karena ada PPG? Apa sih sebenarnya argumenmu?<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":369994,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[33189,32051,2093,6206],"class_list":["post-398775","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-biaya-ppg","tag-cara-daftar-ppg","tag-jurusan-pendidikan","tag-ppg"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398775","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=398775"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398775\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":398818,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398775\/revisions\/398818"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/369994"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=398775"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=398775"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=398775"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}