{"id":398763,"date":"2026-04-15T14:50:42","date_gmt":"2026-04-15T07:50:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=398763"},"modified":"2026-04-15T14:50:42","modified_gmt":"2026-04-15T07:50:42","slug":"bantul-tidak-butuh-mall-untuk-bisa-disebut-beradab-dan-maju","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bantul-tidak-butuh-mall-untuk-bisa-disebut-beradab-dan-maju\/","title":{"rendered":"Bantul Tidak Butuh Mall untuk Bisa Disebut Beradab dan Maju, Standar Konyol kayak Gitu Wajib Dibuang!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bantul, yang juga sering disebut dengan Jogja Selatan alias Jogsel, sering dibilang sebagai kabupaten yang ketinggalan kalau dibandingkan dengan Jogja Kota dan Sleman. Meski masih mendingan daripada Gunungkidul dan Kulonprogo, Bantul kerap dianggap sebagai sebuah kabupaten yang tidak \u201cngota\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalannya sederhana: Bantul tidak seramai Jogja Kota dan Sleman, terlebih lagi tidak ada mall yang kata orang-orang sebagai standar suatu daerah yang sudah \u201cngota\u201d, \u201cberperadaban\u201d, atau \u201ctidak ndeso.\u201d Standar yang aneh, memang. Sudah aneh, dipegang begitu erat lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, bagaimanapun kondisinya, Bantul sebenarnya tidak butuh mall. Buat apa mall kalau banyak mall pun sekarang sudah sepi pengunjung?<\/span><\/p>\n<h2><b>Mall sepi, live streaming ramai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, mall adalah lambang kemajuan yang paling mudah dikenali. Bangunannya besar, lampunya terang, dan yang paling penting: penuh. Orang datang bukan hanya untuk belanja, tapi juga untuk sekadar terlihat punya rencana hidup.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bantul-penghasil-utama-gondes-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Bantul, Sentra Industri UMKM sekaligus Penghasil Utama Gondes di Jogja<\/strong><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, coba datang ke mall di hari biasa. Bahkan di akhir pekan pun, tidak semua sudutnya seramai yang kita bayangkan. Beberapa toko di dalamnya tutup, beberapa lainnya bertahan dengan diskon yang semakin kreatif. Ada yang tetap hidup, tentu saja, tapi auranya sudah tidak segarang dulu. Sementara itu, di waktu yang sama, ribuan orang justru berkumpul di dunia maya yang tidak punya pintu otomatis: live streaming Shopee dan TikTok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sana, orang tidak perlu parkir, tidak perlu jalan kaki dari lantai ke lantai, dan yang paling penting: tidak perlu menjaga gengsi. Tinggal rebahan, lihat diskon, dengar teriakan \u201ccheckout sekarang!\u201d, lalu transaksi selesai bahkan sebelum sempat berpikir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau pola belanja sudah bergeser seperti ini, pertanyaannya sederhana: buat apa membangun mall baru?<\/span><\/p>\n<h2><b>Banguntapan saja sudah cukup, itu pun nyaris bukan Bantul<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau jujur, satu-satunya wilayah di Bantul yang \u201cnyaris cocok\u201d untuk dibangun mall adalah <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Banguntapan,_Bantul\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banguntapan.<\/a> Itu pun bukan karena Bantulnya, tapi karena lokasinya yang mepet dengan Jogja Kota. Di sekitar sana ada Jogja Expo Center, akses jalan relatif ramai, dan yang paling menentukan: dekat dengan Plaza Ambarrukmo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di titik ini, logikanya jadi agak lucu. Kalau di perbatasan saja sudah ada mall besar yang mapan, lalu untuk apa membangun yang baru di wilayah yang karakternya berbeda? Mau bersaing? Terlalu dekat. Mau beda konsep? Ujung-ujungnya tetap jualan hal yang sama.<\/span><\/p>\n<h2><b>Daya beli warga Bantul: antara realitas dan harapan developer<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mall butuh satu hal yang tidak bisa ditawar: daya beli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, daya beli masyarakat Bantul tidak selalu sejalan dengan bayangan developer yang mungkin terlalu optimis. Bukan berarti tidak ada yang mampu belanja, tapi mayoritas tidak menjadikan mall sebagai tujuan utama. Belanja, iya. Tapi tidak harus di tempat yang lampunya terang dan musiknya terlalu semangat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada prioritas lain yang lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Ada pertimbangan yang lebih realistis daripada sekadar \u201cjalan-jalan ke mall\u201d. Dan yang paling penting, ada kesadaran bahwa harga di mall sering kali datang dengan tambahan biaya yang tidak tertulis: parkir, pajak, dan kadang gengsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di titik ini, mall bukan lagi tempat yang praktis. Ia lebih mirip pengalaman\u2014yang sayangnya tidak semua orang merasa perlu mengalaminya secara rutin.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketika petani tidak butuh eskalator<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu hal yang sering dilupakan ketika membicarakan pembangunan: siapa yang sebenarnya akan menggunakan fasilitas itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Bantul, sebagian besar masyarakatnya masih punya kedekatan dengan dunia pertanian. Ritme hidupnya berbeda, kebutuhannya juga tidak selalu selaras dengan gaya hidup yang ditawarkan mall. Bagi banyak orang, mall itu bukan kebutuhan mendesak. Tidak ada urgensi untuk menghabiskan waktu di sana, apalagi menjadikannya bagian dari rutinitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katakanlah kalian tidak setuju Bantul itu begitu dekat dengan pertanian. Pertanyaannya jadi makin sederhana: seberapa butuh mall bagi orang Bantul, ketika mall yang ada saja bisa ditempuh dengan begitu mudah meski beda kabupaten?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian pasti sudah tahu jawabannya. Ya, Bantul tidak (begitu butuh) mall, setidaknya untuk sekarang. Masih banyak hal yang lebih urgent untuk dipenuhi. Misal, peningkatan daya beli, infrastruktur yang lebih memadai, dan sebagainya, dan sebagainya. Jadi, lupakan standar lucu macam daerah yang maju itu harus punya mall.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang betul itu sebenarnya satu: daerah yang daya belinya besar, baru bisa punya mall. Pertanyaannya, Bantul gimana?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Supriyadi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bantul-tidak-memiliki-mal-karena-alasan-alasan-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menerka Alasan Bantul Tidak Kunjung Memiliki Mal<\/a><\/b><\/p>\n<p><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i> ya.<\/i><\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ya, Bantul tidak (begitu butuh) mall, setidaknya untuk sekarang. Masih banyak hal yang lebih urgent untuk dipenuhi.<\/p>\n","protected":false},"author":3187,"featured_media":355593,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[33207,5766,25382,26988],"class_list":["post-398763","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banguntapan-bantul","tag-bantul","tag-di-yogyakarta","tag-mall-di-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398763","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3187"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=398763"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398763\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":399123,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398763\/revisions\/399123"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/355593"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=398763"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=398763"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=398763"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}