{"id":398349,"date":"2026-04-11T07:35:19","date_gmt":"2026-04-11T00:35:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=398349"},"modified":"2026-04-11T07:35:19","modified_gmt":"2026-04-11T00:35:19","slug":"4-dosa-pedagang-sate-maranggi-yang-bikin-pembeli-kapok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-dosa-pedagang-sate-maranggi-yang-bikin-pembeli-kapok\/","title":{"rendered":"4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok"},"content":{"rendered":"<p><em>Inilah 4 dosa pedagang sate maranggi, yang bikin pembeli kapok untuk datang lagi. Saya tulis supaya kamu bisa bedain mana yang enak beneran.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tuhan memberkati orang Indonesia dengan makanan-makanan yang enak dan variasinya nggak habis-habis. Kita punya soto dengan beragam isi dan cara penyajiannya serta <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-sepele-tapi-sukses-membuat-penjual-nasi-goreng-sedih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nasi goreng<\/a> yang bahkan mengundang rasa penasaran orang-orang dari luar negeri untuk mencicipinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, di Indonesia juga ada sate dengan berbagai ragam. Selain sate Madura, sate Padang, atau sate lilit, kita juga punya sate maranggi yang ikut menyemarakkan khazanah kuliner sedap khas Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate maranggi yang berasal dari <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sate_maranggi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Purwakarta<\/a> ini punya cita rasa perpaduan manis dan gurih dengan tekstur daging yang empuk. Sate ini juga dikenal dengan bumbunya yang meresap sampai ke dalam dan selalu ada potongan gajih di setiap tusuknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa sumber menyebutkan bahwa kuliner ini awalnya menggunakan daging domba. Tapi, pada perkembangannya, ada pula inovasi penggunaan daging sapi atau kambing. Ada pula pembaruan-pembaruan dari setiap kecamatan di Purwakarta. Namun, apapun dagingnya, sate maranggi tetap bikin siapa saja yang mencicipinya jatuh hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sama seperti makanan lain, nggak semua sate maranggi itu enak. Semua tergantung pada penjualnya. Ada pula penjual yang berdosa karena membuat pembelinya kapok melalui hal-hal berikut ini.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alasan-yang-membuat-saya-tetap-makan-sate-kelinci-meski-dicap-psikopat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Alasan yang Membuat Saya Tetap Makan Sate Kelinci, meski Dicap Psikopat<\/a><\/p>\n<h2><b>#1 Nggak bisa mengolah daging dengan benar, jadinya alot dan keras<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dagingnya itu harus empuk. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Irvan Setiawan dengan judul \u201cSate Maranggi: Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta\u201d, pembuatan sate ini memang nggak boleh asal-asalan. Ada tahap-tahap yang harus dilalui.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate maranggi bisa punya tekstur yang empuk karena ada proses pengempukan daging. Kita melakukannya dengan cara membungkus seluruh irisan daging dengan daun pepaya dan mendiamkannya selama kurang lebih tiga jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau penjual nggak tahu cara yang benar untuk mengempukkan daging atau nggak melewati tahap ini dengan baik, sudah pasti dagingnya akan alot dan keras. Dalam kamus sate maranggi, nggak ada tuh daging yang kalau kita menggigit dan mengunyah, malah kayak makan karet.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Bumbu sate maranggi kurang meresap sehingga rasanya hambar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah proses pengempukan daging, tambahkan bumbu berupa gula merah dan garam yang sudah dilumatkan. Setelah itu, masuklah ke dalam proses menusukkan irisan daging ke tusukan satu per satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gula merah ini merupakan bagian yang nggak boleh terlewat. Kalau nggak pakai gula merah dan proses pemberian bumbunya nggak sempurna, alhasil bumbu nggak akan meresap sampai ke dalam. Dan sudah pasti, rasa satenya pasti hambar sehingga bikin pembeli jera.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Sambal tomatnya sudah nggak segar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri khas lain dari kuliner ini adalah keberadaan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kasta-sambal-waroeng-ss\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sambal tomat<\/a>. Konon, sambal tomat ini juga termasuk bentuk inovasi karena dulu hanya ada di Warung Hj. Yetty di Cibungur. Sekarang, sudah ada di banyak tempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosa penjual sate maranggi adalah menyajikan sambal tomat yang sudah nggak segar. Daya tahan tomat itu sebentar sehingga idealnya sambal tomat disiapkan jika ada pesanan. Tomat merah akan dipotong kasar bersama gerusan cabe rawit, garam, dan gula putih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, penjual yang antara ingin menghemat waktu atau malas malah menyiapkan sambal tomatnya sebelum ada pesanan. Alhasil ketika sampai di meja pembeli, tomatnya sudah pada layu.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/akal-akalan-penjual-sate-ayam-demi-cuan-bikin-pembeli-rugi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Akal-akalan Penjual Sate Ayam demi Meraup Cuan Besar, tapi Merugikan Pembeli<\/a><\/p>\n<h2><b>#4 Gajih sate maranggi yang masih terasa amis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada setiap tusuk sate maranggi, biasanya ada 1-2 <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penjual-daging-sapi-banyak-yang-curang-selama-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gajih<\/a> yang ikut disertakan. Gajih ini membuat cita rasa sate lebih gurih. Mengingat gajih ini adalah lemak, maka proses pengolahannya harus lebih hati-hati agar nggak bikin rasa amisnya tetap tinggal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, penjual yang belum ahli atau lalai akan membuat gajih tetap terasa amis. Alhasil, untuk mengakali rasa amis ini, pembeli yang mencicipi harus menutupinya dengan acar atau sambal. Padahal sejatinya, sate maranggi yang enak itu nggak pakai tambahan saja sudah lezat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate Maranggi memang terkenal enak. Tapi sayangnya, nggak semua warung sate maranggi bisa menyajikan hidangan yang layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menemukan penjual yang enak itu memang tricky. Begitu salah satu dari keempat hal yang sudah disebutkan di atas itu kamu jumpai, sudah pasti penjualnya berdosa kepadamu karena pasti bikin kamu kapok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kampung-sate-maranggi-wisata-kuliner-unik-di-kabupaten-purwakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kampung Sate Maranggi, Wisata Kuliner Unik di Kabupaten Purwakarta<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Inilah 4 dosa pedagang sate maranggi, yang bikin pembeli kapok untuk datang lagi. Saya tulis supaya kamu bisa bedain mana yang enak beneran.<\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":398350,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[33156,33154,16551,33153,19727,33155,33152],"class_list":["post-398349","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-cara-bikin-daging-sate-maranggi-empuk","tag-kuliner-sate-maranggi","tag-purwakarta","tag-rekomendasi-sate-maranggi","tag-sate-maranggi","tag-sate-maranggi-hj-yetty","tag-sate-maranggi-purwakarta"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398349","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=398349"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398349\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":398351,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398349\/revisions\/398351"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/398350"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=398349"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=398349"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=398349"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}