{"id":398199,"date":"2026-04-10T10:36:35","date_gmt":"2026-04-10T03:36:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=398199"},"modified":"2026-04-10T10:36:35","modified_gmt":"2026-04-10T03:36:35","slug":"purwokerto-memang-penuh-cerita-dan-keresahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/purwokerto-memang-penuh-cerita-dan-keresahan\/","title":{"rendered":"Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu terakhir, saya mulai sering menemukan komentar yang nadanya kurang lebih begini: \u201cAh, artikel soal Purwokerto lagi. Bosen. Jangan diangkat terus lah, nanti makin viral, makin banyak pendatang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, sebagai orang Purwokerto asli, saya membaca itu dengan perasaan yang agak campur aduk. Di satu sisi, saya mengangguk setuju. Memang benar, tidak semua hal harus viral. Tidak semua tempat harus jadi tujuan semua orang. Ada kalanya sebuah kota cukup dinikmati oleh orang-orang yang sudah ada di dalamnya, tanpa harus kebanjiran perhatian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi di sisi lain, entah kenapa komentar seperti itu justru menggoda saya untuk melakukan sesuatu yang sedikit nakal: menulis satu artikel lagi tentang Purwokerto.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kedekatan yang sulit dihindari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau jujur-jujuran, alasan paling sederhana kenapa Purwokerto sering muncul di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu bukan karena ada agenda besar atau konspirasi editorial. Lebih sederhana dari itu: karena yang nulis banyak yang orang Purwokerto. Termasuk saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, waktu kuliah, ada satu konsep seputar ilmu komunikasi yang cukup nempel di kepala, namanya asas kedekatan atau proximity. Intinya, orang akan lebih tertarik, lebih paham, dan lebih mudah berkomunikasi tentang sesuatu yang dekat dengan dirinya baik secara geografis, emosional, maupun pengalaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau diterjemahkan ke dunia tulis-menulis, ya wajar saja kalau saya lebih lancar menulis tentang Purwokerto dibandingkan, misalnya, tentang Balikpapan atau <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Manado\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Manado.<\/a> Bukan karena kota-kota itu tidak menarik, tapi karena saya tidak hidup di sana. Saya tidak merasakan ritmenya, tidak tahu keresahan kecil warganya, dan tidak punya bahan cerita yang relate dengan keseharian masyarakatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Purwokerto? Tinggal buka jendela (atau minimal, buka ingatan), sudah ada cerita. Jadi kalau ada yang bertanya kenapa artikel tentang Purwokerto banyak, jawabannya sederhana: karena penulisnya dekat dengan Purwokerto. Sesederhana itu.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/purwokerto-adalah-daerah-paling-aneh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Purwokerto Adalah Daerah Paling Aneh karena Bukan Kota, Kurang Pas Disebut Kabupaten, Apalagi Menjadi Kecamatan. Maunya Apa, sih?<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Purwokerto memang lagi ramai saja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain faktor kedekatan, ada alasan lain yang tidak kalah penting: Purwokerto memang lagi happening.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah sejak kapan, tapi belakangan ini Purwokerto seperti menemukan momentumnya sendiri. Mulai dari cerita-cerita tentang kehidupan warganya, rekomendasi tempat makan, sampai keresahan-keresahan khas kota \u201cyang katanya kecil tapi rasanya kok lengkap\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika satu-dua artikel tentang Purwokerto mulai ramai, penulis lain pun ikut tertarik. Ada yang ingin berbagi pengalaman, ada yang ingin mengomentari fenomena, ada juga yang sekadar ikut nimbrung karena merasa relate saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya terbentuk semacam efek bola salju. Satu artikel memancing artikel lain. Satu keresahan melahirkan keresahan berikutnya. Dan tahu-tahu, Purwokerto jadi salah satu \u201ctokoh utama\u201d yang cukup sering muncul di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan-jangan bukan kebanyakan tulisan tentang Purwokerto, tapi kurang variasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini bagian yang jarang dibahas. Bagaimana kalau sebenarnya masalahnya bukan karena artikel tentang Purwokerto terlalu banyak, tapi karena artikel tentang daerah lain masih terlalu sedikit?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba bayangkan kalau setiap daerah punya penulis yang sama aktifnya. Ada yang rutin menulis tentang kehidupan di Makassar, keresahan di Pekanbaru, dinamika di Kupang, atau cerita-cerita unik dari Pontianak. Pasti lini masa kita akan lebih berwarna. Purwokerto tidak akan terasa \u201cmendominasi\u201d karena ada banyak suara lain yang ikut berbicara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, tidak semua orang merasa cukup percaya diri atau cukup terdorong untuk menulis tentang daerahnya sendiri. Padahal, justru di situlah kekuatan tulisan-tulisan seperti di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">: pada pengalaman yang spesifik, lokal, dan jujur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, mungkin solusinya bukan menyuruh orang Purwokerto berhenti menulis, tapi mengajak orang dari daerah lain untuk mulai menulis juga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Daripada protes, mending ikutan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya paham kok, rasa bosan itu valid. Saya sendiri mungkin akan merasa hal yang sama kalau setiap hari disuguhi topik yang itu-itu saja. Tapi daripada hanya mengeluh, kenapa tidak sekalian ambil bagian?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu orang Jogja, tulislah Jogja versimu. Bukan yang klise, tapi yang benar-benar kamu rasakan. Kalau kamu dari Medan, ceritakan Medan dari sudut pandangmu. Kalau kamu dari kota kecil yang bahkan jarang disebut orang, justru itu yang menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya, sebagai orang Purwokerto, juga sebenarnya tidak keberatan kalau \u201cjatah tampil\u201d kota ini sedikit berkurang. Toh, saya juga ingin membaca cerita dari tempat lain. Ingin tahu apa yang sedang ramai di sana, apa yang bikin warganya geleng-geleng kepala, dan apa yang diam-diam mereka banggakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ya, untuk sekarang, maaf kalau saya masih menambah satu artikel lagi tentang Purwokerto.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Wahyu Tri Utami<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/purwokerto-itu-kecamatan-bukan-kota\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagaimana kalau sebenarnya masalahnya bukan karena artikel tentang Purwokerto terlalu banyak, tapi karena artikel tentang daerah lain masih terlalu sedikit?<\/p>\n","protected":false},"author":2727,"featured_media":397382,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[33139,33141,33140,8526],"class_list":["post-398199","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-artikel-tentang-purwokerto","tag-gaji-di-purwokerto","tag-harga-rumah-di-purwokerto","tag-purwokerto"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398199","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2727"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=398199"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398199\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":398289,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398199\/revisions\/398289"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/397382"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=398199"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=398199"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=398199"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}