{"id":398197,"date":"2026-04-09T14:38:02","date_gmt":"2026-04-09T07:38:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=398197"},"modified":"2026-04-09T14:38:02","modified_gmt":"2026-04-09T07:38:02","slug":"stasiun-duri-lebih-bikin-stres-dari-manggarai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stasiun-duri-lebih-bikin-stres-dari-manggarai\/","title":{"rendered":"Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang mengira pusat kepadatan penumpang kereta di Jakarta hanya terjadi di Stasiun Manggarai. Stasiun besar itu memang terkenal sibuk, penuh perpindahan jalur, dan hampir tidak pernah benar-benar sepi. Namun bagi para commuter yang pernah transit di Stasiun Duri, pengalaman yang dirasakan justru sering lebih melelahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stasiun Duri seperti menyimpan tingkat stres tersendiri yang jarang dibahas orang. Hal pertama yang langsung terasa adalah keramaian yang tidak mengenal waktu. Anehnya, Stasiun Duri selalu ramai baik hari kerja maupun akhir pekan. Pagi penuh pekerja yang berangkat kantor, siang dipadati penumpang transit, sore hingga malam berubah menjadi lautan manusia yang pulang kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan di hari Sabtu dan Minggu, suasananya tetap padat seolah tidak ada jeda istirahat untuk Stasiun ini. Bagi penumpang yang baru pertama kali datang, kesannya sederhana stasiun ini kecil, tetapi jumlah orangnya terasa tidak proporsional.<\/span><\/p>\n<h2><b>Peron Stasiun Duri yang sempit bikin tempatnya terlihat kelewat padat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu penyebab utama stres di Stasiun Duri adalah ukuran peron yang relatif sempit. Ketika kereta datang bersamaan atau jadwal sedang padat, ruang gerak penumpang menjadi sangat terbatas. Orang berdiri rapat menunggu pintu kereta terbuka sambil menjaga keseimbangan agar tidak terdorong arus penumpang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situasi semakin menegangkan ketika dua arah penumpang bertemu sekaligus yang turun berusaha keluar, sementara yang naik sudah bersiap menyerbu masuk. Tidak ada ruang kompromi, semua bergerak cepat mengikuti ritme kereta komuter yang tidak bisa menunggu lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah berikutnya yang sering dikeluhkan adalah akses tangga yang minim. Dengan volume penumpang sebesar itu, jumlah tangga yang tersedia terasa tidak sebanding. Akibatnya, antrean naik dan turun tangga hampir selalu terjadi, terutama pada jam sibuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak penumpang harus berjalan pelan mengikuti arus manusia yang menumpuk. Jika terburu-buru mengejar kereta, kondisi ini bisa sangat membuat panik. Tangga yang seharusnya menjadi jalur mobilitas justru berubah menjadi titik kemacetan utama di dalam stasiun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak sedikit orang akhirnya memilih berdiri lama di peron karena khawatir tidak sempat turun atau naik tepat waktu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Interval kereta yang begitu lama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang memperparah situasi adalah interval kedatangan kereta yang terasa lama di beberapa jalur. Ketika kereta datang sekitar 20 hingga 30 menit sekali, penumpang otomatis menumpuk dalam jumlah besar. Begitu kereta akhirnya tiba, kepadatan langsung melonjak drastis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan stasiun besar yang memiliki banyak jalur alternatif, di Stasiun Duri pilihan penumpang sering kali terbatas. Tidak heran jika setiap kedatangan kereta terasa seperti momen \u201cperebutan kesempatan\u201d untuk bisa masuk dan mendapatkan ruang berdiri yang layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menarik, banyak commuter justru merasa tekanan di Stasiun Duri lebih terasa dibanding <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Stasiun_Manggarai\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Manggarai.<\/a> Jika Manggarai sibuk karena luas dan kompleks, Duri terasa padat karena ruangnya terbatas. Kombinasi peron sempit, tangga minim, dan jadwal kereta yang tidak terlalu rapat menciptakan pengalaman transit yang menguras energi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara psikologis, kepadatan di ruang kecil memang lebih melelahkan. Tubuh harus terus waspada terhadap dorongan orang lain, pikiran fokus pada posisi berdiri, dan waktu terasa berjalan lebih lambat saat menunggu kereta datang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Titik kumpul pekerja keras<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun di balik semua itu, Stasiun Duri tetap menjadi titik vital mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya. Ribuan orang setiap hari menggantungkan perjalanan mereka di stasiun ini\u2014mulai dari pekerja kantoran, pedagang, mahasiswa, hingga masyarakat yang sekadar bepergian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keramaian yang tidak pernah berhenti sebenarnya menjadi gambaran nyata betapa besar ketergantungan masyarakat terhadap transportasi kereta komuter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak penumpang berharap adanya peningkatan fasilitas, terutama pelebaran area peron, penambahan akses tangga atau eskalator, serta jadwal kereta yang lebih rapat agar penumpukan tidak terjadi terlalu lama. Karena pada akhirnya, kenyamanan stasiun bukan hanya soal bangunan modern, tetapi tentang bagaimana arus manusia bisa bergerak dengan aman dan manusiawi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stasiun Duri mungkin bukan stasiun terbesar di Jakarta, tetapi bagi para commuter, tempat ini adalah arena latihan kesabaran setiap hari. Di sinilah orang belajar berdiri lama, menunggu tanpa kepastian cepat, dan tetap berangkat bekerja meski perjalanan dimulai dengan sedikit stres.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab perjalanan menuju pekerjaan sering kali sudah menjadi perjuangan pertama sebelum hari benar-benar dimulai.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Intan Permata Putri<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebaik-baiknya-tas-ransel-adalah-tas-gratisan-asus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sebaik-baiknya Tas Ransel Adalah Tas Gratisan ASUS<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Stasiun Duri mungkin bukan stasiun terbesar di Jakarta, tetapi bagi para commuter, tempat ini adalah arena latihan kesabaran setiap hari.<\/p>\n","protected":false},"author":3172,"featured_media":359805,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[33134,30265,18273,33135],"class_list":["post-398197","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-stasiun-di-jakarta","tag-stasiun-duri","tag-stasiun-manggarai","tag-stasiun-paling-ramai-di-jakarta"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398197","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3172"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=398197"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398197\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":398238,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/398197\/revisions\/398238"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/359805"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=398197"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=398197"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=398197"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}