{"id":397860,"date":"2026-04-06T15:15:18","date_gmt":"2026-04-06T08:15:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=397860"},"modified":"2026-04-06T15:24:45","modified_gmt":"2026-04-06T08:24:45","slug":"warga-pasar-minggu-jaksel-adabnya-nol-besar-di-jalanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warga-pasar-minggu-jaksel-adabnya-nol-besar-di-jalanan\/","title":{"rendered":"Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berhadapan dengan pengendara yang egois dan tidak taat aturan lalu lintas sangatlah menyebalkan. Ini sudah jadi persoalan klasik di berbagai daerah. Tapi, kalau boleh saya berpendapat, warga Pasar Minggu <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Administrasi_Jakarta_Selatan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta Selatan (Jaksel)<\/a>, bisa jadi orang yang paling pantas menyandang gelar paling nggak taat aturan lalu lintas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penilaian itu bukan tanpa alasan. Sudah kurang lebih 20 tahun saya tinggal di Pasar Minggu. Di tempat ini saya menyaksikan sendiri bagaimana pengendara bertindak semena-mena di jalan. Dan, ini membuat pendatang baru kaget ketika mampir ke Pasar Minggu pertama kali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada terus berbasa-basi, langsung saja saya jelaskan mengapa warga Pasar Minggu pantas menyandang gelar masyarakat paling tidak taat aturan lalu lintas di Indonesia. Mari kita simak sama-sama..<\/span><\/p>\n<h2><b>Warga Pasar Minggu nggak bisa liat celah nganggur, langsung dipakai untuk lawan arah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyakit pengendara motor di Pasar Minggu yang sulit disembuhkan adalah kebiasaannya untuk lawan arah. Bila mereka melihat sedikit celah di jalan untuk lawan arah maka mereka akan melakukannya agar cepat sampai tujuan. Tidak peduli apakah perbuatannya mengganggu laju jalur yang dilawannya. Tidak peduli bila kita memasang tatapan sinis kepada pelawan arah itu, mereka tetap saja lawan arah dengan ekspresi muka yang datar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, saking terbiasanya menghadapi pengendara motor seperti itu di Pasar Minggu, saya malah jadi menormalisasinya. Contohnya gini, tidak jarang bila sedang berkendara dan ada pengendara motor di jalur saya yang lawan arah, saya malah berhenti sejenak agar pengendara tersebut bisa lewat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal mah saya bisa saja tidak peduli dan tetap melaju tanpa memberikan mereka kesempatan untuk lewat. Kan itu memang hak saya untuk melewati jalur tersebut, bukan mereka. Tapi, entah mengapa saya malah sering berhenti ketika menghadapi keadaan seperti itu di Pasar Minggu. Rasanya hal ini sudah menjadi bagian hidup ketika tinggal di sini.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><b>Lampu lalu lintas tidak terlalu berguna<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kapan-kapan coba kalian amati lampu lalu lintas yang terletak di sekitar pasar tradisional Pasar Minggu. Dan, silakan nilai sendiri seberapa tidak bergunanya lampu lalu lintas tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi pengendara di Pasar Minggu, lampu merah bukan berarti harus berhenti, melainkan boleh saja jalan asal jalanan di depannya memang kosong dan tidak ada yang lewat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Logika semacam itu tetap saja sangat berbahaya. Bila ada kendaraan yang ngebut, bisa jadi orang yang menerobos lampu merah itu ketabrak. Namun, potensi bahaya tersebut seringkali diabaikan. Entah apa yang mereka cari dan kejar sehingga harus buru-buru sampai tujuan dengan cara-cara yang berbahaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini juga berlaku pada pelican crossing di Jalan Raya Pasar Minggu. Meskipun pejalan kaki sudah memencet tombol agar lampu merah menyala dan bisa menyeberang, tetap saja banyak pengendara yang ngebut dan menerobos.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Trotoar bukan hanya milik pejalan kaki<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keadaan pejalan kaki di Pasar Minggu memang tidak terlalu aman. Mereka tidak diberi ruang spesial di sini. Bukannya ada trotoar yang dibuat khusus untuk pejalan kaki? Oh iya memang ada. Tapi, seringkali trotoar juga dipakai kendaraan bermotor untuk menghindari macet yang panjang. Hal ini sering terjadi di Jalan Raya Ragunan menuju Jalan Warung Jati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang betul tidak semua warga Pasar Minggu seperti itu. Masih ada kok yang punya adab di jalanan dan patuh, tapi ya segelintir saja. Sementara hal-hal yang saya sebutkan di atas dapat disaksikan setiap harinya di Pasar Minggu. Yidak hanya sekali atau dua kali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ditanya solusinya apa agar warga Pasar Minggu tobat dan taat aturan lalu lintas, saya pun bingung jawabannya. Pada area di mana banyak pengendara lawan arah sudah sering diadakan razia oleh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/curhat-polisi-lalu-lintas-target-tilang-itu-benar-adanya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Polantas<\/a>. Tapi, bila razia itu sudah selesai, para pengendara akan kembali melawan arah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin memang warga Pasar Minggu harus selalu diawasi 24 jam oleh polantas, tapi sepertinya itu tidak mungkin dilakukan karena akan membuat polisi kita kerepotan. Bukannya polisi kita tidak mau dibuat repot? Eh, maaf maksudnya oknum polisi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Mohammad Rafatta Umar<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>\u00a0BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tpu-jakarta-timur-mirip-tempat-piknik-ziarah-jadi-gak-khusyuk\/\"><b><i>TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk<\/i><\/b><\/a><b><i>.\u00a0<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Warga Pasar Minggu Jaksel adabnya nol besar di jalanan, egois dan tidak taat lalu lintas. Pantas menyandang gelar paling nggak taat aturan. <\/p>\n","protected":false},"author":3140,"featured_media":397939,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[529,33094,2211,21440,33095],"class_list":["post-397860","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jakarta","tag-jakarta-selatann","tag-jaksel","tag-pasar-minggu","tag-pasar-minggu-jakarta"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/397860","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3140"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=397860"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/397860\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":397942,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/397860\/revisions\/397942"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/397939"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=397860"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=397860"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=397860"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}