{"id":397077,"date":"2026-03-30T08:30:16","date_gmt":"2026-03-30T01:30:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=397077"},"modified":"2026-03-29T22:33:50","modified_gmt":"2026-03-29T15:33:50","slug":"jakarta-timur-keras-penyewa-kontrakan-bisa-diusir-kapan-aja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jakarta-timur-keras-penyewa-kontrakan-bisa-diusir-kapan-aja\/","title":{"rendered":"Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah empat kali saya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pindah-rumah-itu-berat-biar-aku-saja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pindah hunian<\/a>. Belum punya rumah membuat saya harus mengontrak dari satu tempat ke tempat lain. Bagi banyak orang, mereka bisa mendiami suatu rumah kontrakan selama bertahun-tahun. Namun, hal itu tidak terjadi pada saya dan keluarga ketika ngontrak di Jakarta Timur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa alasan yang membuat saya dan keluarga kerap pindah kontrakan. Mulai dari biaya sewa naik seenak jidat pemilik hingga tidak kerasan dengan lingkungan rumah jadi beberapa alasan. Namun, alasan yang paling menyesakkan adalah diusir oleh pemilik padahal kami sudah jadi penyewa yang tertib membayar.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Ngontrak di Jakarta Timur nggak kerasan, tapi terpaksa bertahan demi keadaan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai pertengahan kelas I SMA, saya dan keluarga tinggal di rumah kakek yang berada di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bekasi-planet-lain-yang-indah-yang-akan-membuatmu-betah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bekasi<\/a>. Bersama ibu, kami berdua lalu pindah ke Jakarta Timur dan mengontrak rumah. Itu menjadi pengalaman mengontrak pertama yang bisa saya ingat jelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami mengontrak di rumah tiga petak dengan harga sewa sekitar Rp700.000 pada kisaran 2014. Pengalaman tinggal di rumah komplek yang cukup luas kemudian tinggal di rumah petak bikin saya lumayan syok. Satu hal yang paling saya ingat adalah keberadaan tikus yang banyak dan mengganggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rupanya, terdapat bolongan loteng yang memang sengaja dibiarkan terbuka. Entah ada sambungan kabel apa di sana. Namun sialnya, menjadi jalan tikus bebas keluar masuk unit kontrakan kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tikus bukan satu-satunya alasan saya nggak kerasan. Lingkungan berisik dan tetangga semena-mena menjadi alasan tambahan. Meski terasa pahit, kondisi ekonomi yang sulit membuat saya dan ibu terpaksa bertahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh pemilik kontrakan, kami sempat ditawarkan membuat kanopi agar jemuran bisa terlindungi saat hujan. Ibu saya menolak. Kami heran. Padahal kontrakan tersebut bukan milik kami, tapi anehnya, beban renovasi harus kami yang menanggung.<\/span><\/p>\n<h2><b>Diminta pindah, meski nggak menunggak sewa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2016, saya dan ibu diminta pindah secara mendadak. Katanya, pemilik kontrakan ingin memberikan unit yang kami sewa ke saudaranya. Beliau juga mengatakan kalau ibu saya kerap menunggak bayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, semua hanya salah paham akibat sistem pencatatan si empunya kontrakan yang buruk. Untungnya, ibu saya menyimpan kuitansi pembayaran. Sehingga, tuduhan tersebut terbantah. Meski kerap telat beberapa hari membayar, kami nggak pernah menunggak sewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami tetap tidak bisa berkutik dan akhirnya pindah ke kontrakan baru di kampung yang sama di Jakarta Timur, letaknya nggak jauh dari tempat sebelumnya. Kami masih tinggal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/punya-usaha-kontrakan-ternyata-nggak-seindah-yang-dibayangkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kontrakan petak,<\/a> tapi lebih kecil dan murah. Saya dan ibu sih nggak masalah, toh pada saat itu tinggal berdua tidak memerlukan unit yang besar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena masih tinggal di perkampungan yang sama, kami melihat bukti nyata kecurangan pemilik kontrakan sebelumnya terhadap kami. Ternyata yang menggantikan kami bukan keluarga si pemilik kontrakan. Melainkan orang lain yang mengiming-imingi beliau dengan <a href=\"https:\/\/muliaceramics.com\/article_detail\/277\/cara_praktis_mengganti_keramik_lama_tanpa_membongkarnya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mengganti ubin<\/a> dan memasang kanopi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terasa sesak, tapi kami anggap sudah jalan Tuhan. Toh, kami jadi dapat kontrakan dengan sewa lebih murah. Dan, tang terpenting, bebas tikus.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kontrakan baru berarti tantangan baru walau masih sama-sama di Jakarta Timur\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kontrakan baru, suka dukanya pun baru. Kami nggak bisa menghindari bocor dan mesin air yang sering bermasalah. Tapi, enaknya, saya tidak harus menghadapi tikus-tikus menyeramkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih sama seperti kontrakan lama, kami bayar sewa perbulan. Tetangga kanan saya membayar per tahun. Unit kiri saya akhirnya diisi oleh saudara si empunya kontrakan. Saya nggak tahu persis soal pembayaran sewa yang saudaranya, tapi pastinya berdasar asas kekeluargaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dan ibu menjadi satu-satunya penyewa yang bayar per bulan. Kami tidak pernah macet bayar, tapi kerap diminta membayar sewa 2 bulan sekaligus. Berat, tapi nggak ada pilihan lain. Saat pemilik kontrakan lagi nggak ada duit, kami pasti diminta membayar dua bulan langsung. Hal itu nggak terjadi sekali dua kali.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dan terjadi lagi&#8230;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah berkali-kali diminta bayar sewa dua bulan sekaligus, pada pertengahan 2019, kami diminta pindah setelah 3 tahunan mengontrak di sana. Alasannya sama, mau dipakai keluarga yang akan pindah ke Jakarta Timur. Meski menyebalkan, tapi saya tahu kalau si pemilik kontrakan ke-2 saya ini nggak berbohong. Anaknya memang baru <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/harian\/nikah-di-gedung-lebih-murah-dan-praktis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menikah<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya, opsi &#8220;mengusir&#8221; kami menjadi satu-satunya pilihan dan terpaksa dilakukan. Empunya kontrakan nggak mungkin mengusir saudaranya dan nggak bisa meminta pindah penyewa yang sudah bayar setahun ke depan. Sisanya, ya hanya ada saya dan ibu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang kami ada niatan pindah ke tempat yang lebih layak karena ekonomi membaik. Tapi, diminta pindah meski nggak menunggak dan sering disuruh bayar sewa dua bulan sekaligus, rasanya perih. Apalagi, kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam rentang kisaran 3 tahun sekali, di sebuah perkampungan di Jakarta Timur, dengan alasan yang sama, kami diusir. Meski merasa terzalimi, kami berusaha tegar. Senggaknya, pemilik kontrakan yang ke-2 nggak berbohong. Jadi, kami berusaha ikhlas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diminta pindah atau bahasa kasarnya &#8220;diusir&#8221; dua kali berturut-turut, membuat saya dan keluarga lebih antisipatif. Dalam kepala ini, kami bisa diminta pindah kapan saja. Namanya juga bukan rumah sendiri, kemungkinan diusir akan selalu ada. Jelas ngontrak di lingkungan Jakarta Timur seperti ini perlu mental baja dan kesabaran seluas samudera.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Arsyindah Farhan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><em><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/pekerja-jakarta-syok-budaya-pekewuh-jogja-bikin-lambat-kerjaan\/\">Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan.<\/a><\/em><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta Timur jelas bukan tempat hidup bagi orang lembek. Penyewa kontrakan bisa diusir kapan saja dengan alasan palsu. <\/p>\n","protected":false},"author":3185,"featured_media":397105,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2409,529,14802,5592,32027,22608,33008,33009],"class_list":["post-397077","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-dki-jakarta","tag-jakarta","tag-jakarta-timur","tag-kontrakan","tag-ngontrak","tag-penyewa","tag-penyewa-kontrakan","tag-rumah-jakarta"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/397077","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3185"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=397077"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/397077\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":397107,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/397077\/revisions\/397107"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/397105"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=397077"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=397077"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=397077"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}