{"id":396858,"date":"2026-03-28T14:44:58","date_gmt":"2026-03-28T07:44:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=396858"},"modified":"2026-03-28T14:44:58","modified_gmt":"2026-03-28T07:44:58","slug":"mewakili-warga-tegal-saya-ingin-menyampaikan-permintaan-maaf-kepada-pemudik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mewakili-warga-tegal-saya-ingin-menyampaikan-permintaan-maaf-kepada-pemudik\/","title":{"rendered":"Mewakili Warga Tegal, Saya Ingin Menyampaikan Permintaan Maaf kepada Pemudik"},"content":{"rendered":"<p><em>Saya sebagai warga Tegal, mau minta maaf atas hal-hal tidak menyenangkan yang kalian rasakan di kota ini<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini sudah hari ketujuh pasca Lebaran. Kawan saya hari ini masih sibuk nyadran atau silaturahmi sana-sini. Pagi ke sini, siang ke situ, sore lanjut lagi. Kalau saya, sudah balik pakai seragam lagi. Kembali ke mode default: kerja, pulang, kerja lagi. Begitulah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengingat beberapa perkantoran, terutama kantor pemerintahan sudah mulai efektif, harusnya sih suasana sudah kembali normal, ya. Tapi, di Tegal masih saja ramai. Masih banyak kendaraan plat luar kota yang mengaspal di Tegal. Mereka masih mudik rupanya. Entah kapan bakal balik lagi ke perantauan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomong-ngomong soal mudik, ada nggak yang tahun ini mudik ke Tegal? Kalau ada, mumpung masih suasana Hari Raya, saya\u2014mewakili warga Tegal\u2014mau minta maaf ke kalian.<\/span><\/p>\n<h2><b>Permintaan maaf pertama: lalu lintas yang bikin emosi jiwa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, saya ingin minta maaf soal kondisi lalu lintas di Tegal. Maaf ya kalau jalanan di sini bikin kalian kaget. Bukan soal banyaknya lubang di jalan, tapi soal pengendaranya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada motor tiba-tiba nyelip dari kiri, ada yang srugal-srugul main trabas, ada yang maksa potong jalur padahal lagi padat-padatnya, ada pula yang lampu masih kuning sudah maen klakson saja. Belum lagi banyak pula pengendara motor yang motornya terlalu nengah, tapi begitu diklakson supaya minggir, malah santuy nengok ke belakang. Mukanya kayak mau bilang, \u201cApe lu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wkwkwk. Riil ini, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, sebagai warga Tegal asli, saya juga malu. Soalnya, cerita tentang betapa liarnya lalu lintas di sini bukan lagi barang baru. Sudah sering saya dengar orang luar kota kaget perihal satu ini. Mau dibilang karakter, kok ya agak gimana? Cuma, fakta di lapangan memang begitu. Banyakin istighfar aja pokoknya kalau berkendara di Tegal. Ati-ati juga mobilmu kegores.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-orang-tegal-itu-berat-tapi-saya-tidak-menyesal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Orang Tegal Sering Dianggap Ndeso dan Diolok-olok Logatnya, tapi Saya Tetap Bangga<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Permintaan maaf kedua: macet yang nggak ada ampun<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, masih soal jalan. Maaf ya kalau waktu kalian jadi banyak habis di jalan gara-gara macet. Tapi, saya kasih tahu ya, di hari biasa Tegal itu nggak sepadat ini. Serius. Macet parahnya memang muncul pas musim mudik seperti sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan, kami tidak sedang menuduh kalian sebagai biang kerok kemacetan. Meski\u2026 ya, kalian juga berkontribusi. Tapi, ini bukan sepenuhnya salah kalian, Gaes. Kemaceten di Tegal itu selain karena volume kendaraan yang naik drastis, juga terjadi karena kantong parkir yang tidak siku dengan banyaknya spot menarik di Tegal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh paling nyata: Jalan utama dari Kota ke Kabupaten, atau biasa dikenal dengan nama \u2018Jalan satu\u2019. Kemacetan terparah ada di Talang, Adiwerna. Soalnya, di sini ada deretan soto talang yang enaknya sudah melegenda, sehingga bikin semua orang ingin makan di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, warung-warung soto ini nggak punya kantong parkir yang memadai. Akhirnya, numpuklah mobil-mobil ini di bahu jalan. Ya, jelas macet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misal mau ambil jalur alternatif alias jalan dua pun, sama saja. Di Ujungrusi, kemacetan itu bukan lagi mengular, tapi MENGULAR. Sumber kemacetannya ada pada deretan pusat oleh-oleh yang berseberangan dengan warung makan Pringcendani yang terkenal, ditambah ada pertigaan juga di dekatnya. Dan sekarang makin parah karena ada dua warung sate kambing. Definisi empat titik pemancing keramaian pokoknya. Maka, bisa dipastikan hanya orang-orang yang levelnya sudah advance saja yang bisa melalui jalan ini tanpa emosi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Permintaan maaf ketiga: panasnya Tegal nggak masuk akal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, saya juga mau minta maaf soal cuaca. Iya, iya, saya tahu lebaran tahun ini di Tegal panasnya nggak umum banget. Padahal, pas puasa kemarin adem loh. Sering hujan juga. Nggak tahu kenapa giliran lebaran malah panasnya cetar membahana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya memang sih, soal panas ini sebenarnya di luar kendali kami. Yang pegang remote bukan warga Tegal soalnya. Tapi tetap saja, rasanya saya perlu minta maaf.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maaf, ya\u2026<\/span><\/p>\n<h2><b>Permintaan maaf keempat: harga makanan di Tegal yang bikin kaget<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini yang paling penting. Gaes, maaf ya kalau selama kalian mudik di Tegal, kalian dibikin kaget dengan harga makanannya yang nggak ngotak. Dan mungkin gara-gara ini kalian jadi berpikir kalau harga makanan di Tegal itu murah-murah adalah mitos belaka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Huhuhu\u2026. Asline aku ya isin tau, Gaes. Masa ada kejadian beli<\/span><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/DWNO8zaE4ly\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">satu porsi lele harganya 40 ribu<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">? Lele nyerok dari Sungai Amazon apa gimana dah? Malu-maluin banget. Istilahnya, getok harga. Dan yang kena getok bukan cuma warga luar kota, ya. Tapi, warga lokal juga kena. Nggak pandang KTP pokoknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tuh, suami saya. Hari ini, dia beli sarapan nasi bungkus satu porsi, lauk oseng kacang, mie, plus telur dan gorengan. Umumnya nasi bungkus untuk sarapan lah ya. Tapi, kalian tahu berapa harganya? 17 ribu, Gaes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan dengan santainya si penjual bilang, \u201cRega badanan, Mas.\u201d Alias, \u201cHarga Lebaran.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ndasmu~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah. Ternyata, banyak juga ya yang harus kami mintakan maaf ke kalian. Kira-kira, dimaafkan nggak, nih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga kalian tidak kapok mudik ke Tegal, ya. Tapi, kalau kapok juga nggak apa-apa sih. Lumayan, jalanan bisa jadi lebih lengang tanpa kalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tegal-kota-yang-tepat-untuk-menghabiskan-uang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tegal: Kota yang Tepat untuk Menghabiskan Uang<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya sebagai warga Tegal, mau minta maaf atas hal-hal tidak menyenangkan yang kalian rasakan di kota ini. Dimaafin kan?<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":392551,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[32994,32992,31858,32993,2857],"class_list":["post-396858","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jalan-rusak-di-tegal","tag-lebaran-di-tegal","tag-makanan-khas-tegal","tag-mudik-ke-tegal","tag-tegal"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/396858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=396858"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/396858\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":396990,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/396858\/revisions\/396990"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/392551"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=396858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=396858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=396858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}