{"id":396028,"date":"2026-03-23T11:37:35","date_gmt":"2026-03-23T04:37:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=396028"},"modified":"2026-03-24T07:52:47","modified_gmt":"2026-03-24T00:52:47","slug":"bekerja-sampai-lelah-tidak-pernah-sepadan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bekerja-sampai-lelah-tidak-pernah-sepadan\/","title":{"rendered":"Bekerja Sampai Lelah Tidak Pernah Sepadan, tapi Berhenti Bekerja Tidak Membawa Damai"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ceritanya, saya baru dapat cuti setelah cukup lama bekerja sampai tanpa jeda secara harfiah. Cuti ini sudah saya ajukan jauh-jauh hari ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wanita-menikah-sulit-dapat-kerja-hrd-cari-karyawan-apa-calon-mantu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">HRD<\/a>, dan juga saya koordinasikan dengan atasan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam satu kesempatan, Mbak Swa (Head HRD kantor saya) sempat bertanya. Apa yang paling ingin saya lakukan saat punya waktu sendiri setelah berhenti sementara dari rutinitas kehidupan dewasa ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawaban saya sederhana. Minum kopi, baca buku, nulis. Kalau bisa di tempat yang banyak hijau-hijaunya, dengan tenang, tanpa gangguan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya saya menikmati cuti itu di kota hujan, Bogor. Setelah beberapa hari membaca buku fiksi dan nonfiksi, sekadar menyeimbangkan kepala, saya malah teringat diri saya beberapa tahun ke belakang. Saya yang bekerja sampai seperti mesin diesel, jarang berhenti.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<\/strong>: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/percayalah-jakarta-selatan-bukan-tempat-yang-ideal-bagi-perantau-miskin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Percayalah, Jakarta Selatan Bukan Tempat yang Ideal bagi Perantau yang Mulai dari Nol, Hidupmu Bakal Sengsara di Sini!<\/a><\/p>\n<h2><b>Untuk apa bekerja sampai seperti ini?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situ, satu pertanyaan eksistensial langsung terpantik. Sudah sekian tahun bekerja sampai seperti ini di ibu kota, sebenarnya untuk apa? Kenapa saya mau sejauh ini capek bekerja? Buat apa saya memilih sakit karena kerja, bukan sakit karena hal lain yang lebih \u201cnyaman\u201d tanpa harus bekerja?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara teoritis, selalu ada jalan lain. Misalnya, menikah dengan orang berduit, hidup dari harta warisan orang tua, atau cukup pasrah pada keberuntungan semata. Tapi, semakin kita belajar, baik lewat pendidikan formal maupun informal, semakin terasa bahwa tidak melakukan apa-apa itu sama saja dengan mati perlahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekerja sampai lelah sering kita pahami sebagai jalan paling masuk akal untuk hidup. Bangun pagi, berangkat, lelah, pulang membawa uang. Sederhana di atas kertas. Di praktiknya, tidak pernah sesederhana itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara meeting-meeting yang menyita waktu. Deadline yang menggerus tidur dan jam-jam santai. Belum lagi malam-malam ketika pulang, ada yang sengaja mampir sebentar ke Indomaret. Duduk di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/indomaret-core-2025-kasir-paling-sabar-layaknya-psikolog\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kursi besi<\/a>, minum kopi Golda, menunda waktu untuk pulang ke rumah. Atau menyetel musik sepanjang jalan, berharap suara itu cukup keras untuk menenggelamkan skenario terburuk tentang masa depan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Apakah semua ini sepadan?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bekerja di industri kreatif. Industri yang katanya dinamis, segar, penuh ide. Dan sebagai mana industri lain, ia akan diam-diam mencuri umur dengan cepat tanpa kita sadari. Selalu ada manusia-manusia baru yang lebih muda dan enerjik, lebih lapar akan ide-ide segar dan lebih haus dengan validasi dan bentuk promosi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, setelah ini saya mau ke mana? Ketika ide saya sudah tak lagi segesit dulu, ketika stamina dan gairah tak lagi sama, ketika cara berfikir saya tak lagi lagi relevan dan selera pasar yang cepat berubah, apakah saya akan tergantikan begitu saja?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah bekerja seperti ini memang sepadan? Semua stres, cemas, kurang tidur, bahkan bagi sebagian orang, menangis hampir saban malam, adalah harga wajar untuk sesuatu yang kita sebut \u201cbekerja sampai lelah\u201d? Lalu, bekerja punya garis finis, atau kita hanya terus berlari sampai tubuh atau usia yang akhirnya menghentikan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buku-buku pengembangan diri dan filsafat populer sering menawarkan ketenangan: fokus pada proses, mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti yang ditulis Henry Manampiring dalam \u201c<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Filosofi_Teras\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Filosofi Teras<\/a>\u201d, atau membangun kebiasaan-kebiasaan kecil ala James Clear lewat \u201cAtomic Habits\u201d. Semua itu cukup membantu, namun hanya sampai pada beberapa aspek tertentu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bekerja sampai lelah bukan semata soal uang. Benarkah?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegelisahan ini memantik rasa penasaran saya. Saya coba iseng berkeliling dengan membaca forum diskusi di Facebook, X, sampai Reddit. Dari sana saya sadar, pertanyaan tentang bekerja sampai lelah ini ternyata bukan kegelisahan pribadi semata.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia muncul di banyak ruang dan ditulis oleh banyak orang. Mulai dari filsuf, peneliti, sampai penulis esai. Mereka sama-sama mencoba menjawab satu hal. Kenapa manusia tetap bekerja, bahkan ketika kerja itu melelahkan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang menyebut bahwa bekerja sampai lelah itu bukan cuma soal cari uang, tapi soal bentuk aktualisasi diri. Ruang itu menjadi tempat seseorang menguji kapasitasnya, merawat keterampilannya, dan merasa dirinya tidak sepenuhnya terbuang dari peradaban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun paradoksnya, setiap upaya untuk mengaktualisasikan diri hampir selalu berisiko bersinggungan dengan orang lain. Gesekan, konflik, salah paham. Semuanya ikut jadi satu paket. Apakah bekerja sampai lelah itu memang sepadan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Bekerja tidak selalu soal hasil akhir<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Albert Camus, lewat \u201cThe Myth of Sisyphus\u201d, menulis tentang manusia yang terus mendorong batu ke atas bukit. Bukan karena batunya akan sampai, tapi karena kesadaran akan dorongan itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak tahu apakah Camus sedang bicara soal kerja seperti yang kita kenal hari ini, tapi gagasannya cukup relevan, sih. Kerja tidak selalu dibenarkan oleh hasil akhirnya, melainkan oleh sikap kita saat menjalaninya. Bukan karena ia menyelesaikan segalanya, tapi karena ia membuat kita tetap bergerak di saat dunia terasa sedang melawan kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, bekerja sampai lelah juga bukan ibadah karena hasilnya. Dalam \u201cRobohnya Surau Kami\u201d, AA Navis justru menyinggung manusia yang melarikan diri dari tanggung jawab duniawi dengan berlindung sepenuhnya pada ibadah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tokohnya tekun berdoa, tapi lupa bahwa hidup juga menuntut adanya usaha. Dari situ, bekerja tidak ditempatkan sebagai lawan iman, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia di dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya pikir lagi, mungkin pertanyaannya bukan lagi soal \u201capakah bekerja sampai lelah itu sepadan\u201d, tapi lelah atau sakit mana yang sanggup kita tanggung. Karena nyatanya, hampir setiap aspek hidup menuntut tenaga. Ada lelah mencari uang, ada lelah menjaga relasi, ada lelah berkarya tanpa kepastian, dan ada juga lelah yang datang dari tidak melakukan apa-apa.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<\/strong>: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-pekerjaan-di-jogja-yang-bisa-mendatangkan-kekayaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Pekerjaan yang Bisa Bikin Kamu Kaya di Jogja Tanpa Jadi Budak Freelance<\/a><\/p>\n<h2><b>Tidak ada posisi yang benar-benar bebas dari beban<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang ada hanya transaksi. Bekerja sampai capek memang melelahkan, tapi berhenti bergerak juga tidak otomatis membawa damai. Mungkin itu sebabnya banyak orang memilih bercanda dengan imannya sendiri. Biar lelah jadi lillah, katanya. Selalu ada cara manusia untuk memberi makna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, bekerja sampai lelah memang bukan soal mencapai sesuatu yang final. Ini bukan vonis telak dari hakim, dan juga bukan pembenaran moral. Lebih ke soal memilih untuk tetap bergerak meski sambil mengeluh, capek, sesekali berhenti minum kopi di kursi besi depan Indomaret. Lalu meneguhkan ulang dan menguat-nguatkan diri sendiri: \u201csampai di sini dulu capeknya, nanti kita lanjut lagi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sisanya, seperti biasa, waktu yang akan menjawab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">PS: Jujur, tulisan ini tidak disponsori oleh Indomaret, maupun <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/harga-kopi-golda-di-indomaret-naik-tapi-tetap-jadi-kopi-botolan-terbaik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Golda<\/a>. Kalau mau menenangkan diri, pilih air mineral atau kopi hitam tanpa gula. Setidaknya stres tidak disertai dengan kehadiran penyakit diabetes, King.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Firmansyah Yedico Putra<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/pekerja-jakarta-syok-budaya-pekewuh-jogja-bikin-lambat-kerjaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bekerja sampai lelah memang bukan soal mencapai sesuatu yang final. Ini lebih ke soal memilih untuk tetap bergerak meski sambil mengeluh.<\/p>\n","protected":false},"author":3228,"featured_media":396052,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[4642,32936,16801,3235,529,3207,4403],"class_list":["post-396028","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-bekerja","tag-bekerja-sampai","tag-hustle-culture","tag-ibu-kota","tag-jakarta","tag-kerja","tag-kerja-keras"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/396028","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3228"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=396028"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/396028\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":396099,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/396028\/revisions\/396099"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/396052"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=396028"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=396028"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=396028"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}