{"id":395898,"date":"2026-03-20T17:23:27","date_gmt":"2026-03-20T10:23:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=395898"},"modified":"2026-03-21T18:19:09","modified_gmt":"2026-03-21T11:19:09","slug":"5-suguhan-lebaran-khas-jogja-yang-mulai-langka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-suguhan-lebaran-khas-jogja-yang-mulai-langka\/","title":{"rendered":"5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota"},"content":{"rendered":"<p><em>Suguhan Lebaran khas Jogja di bawah ini ada yang jadi favorit kalian?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/idul-fitri-bukan-hari-kemenangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">umat muslim<\/a>, Lebaran adalah perayaan penuh sukacita. Pada hari tersebut orang-orang bersilaturahmi dan saling memaafkan. Semua itu kurang afdal kalau tidak diiringi makanan maupun camilan yang biasanya muncul pas Lebaran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya suka mengamati macam-macam suguhan saat Lebaran. Bukannya kurang kerjaaan, saya hanya merasa unik dengan kekompakan orang-orang. Bayangkan, di saat bersamaan, mereka bisa menyuguhkan makanan atau camilan yang jarang muncul sehari-hari. Makanan atau camilannya mirip-mirip lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ada pergeseran tren suguhan. Di tengah gempuran <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nastar-ingatkan-pada-masa-lalu-pahit-cuma-cicipi-pas-lebaran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nastar<\/a> dan kue-kue kering lain, suguhan Lebaran khas Jogja ini mulai jarang ditemukan. Mungkin di daerah desa masih banyak, tapi di rumah-rumah kota, suguhan Lebaran khas Jogja ini mulai jarang ditemukan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Ampyang suguhan Lebaran untuk mereka yang suka manis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ampyang adalah makanan yang terbuat dari kacang tanah dan gula merah. Bentuknya seperti peyek tapi rasanya manis dan teksturnya lebih keras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jajanan ini kurang cocok bagi orang yang tidak menyukai rasa manis. Karena rasa manisnya yang dominan. Mirip seperti karamel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ampyang merupakan jajanan tradisional khas Jawa yang populer di Jogja. Rasa manisnya sudah menggambarkan ciri khas orang Jogja. Yang terkenal tidak bisa jauh dari makanan bercita rasa manis.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Yangko, mochi jawa yang ditunggu-tunggu tamu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yangko adalah makanan yang terbuat dari tepung ketan, gula, dan santan. Teksturnya kenyal dan lembut. Mirip mochi. Banyak orang menyebut yangko dengan sebutan \u201cmochi jawa\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya yangko berbentuk kotak kecil dan memiliki warna-warna menarik. Seperti putih, merah muda, hijau, atau kuning. Di dalamnya berisi kacang tanah yang telah dihaluskan.\u00a0 Sehingga membuat rasanya manis dan gurih dari kacang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, yangko adalah camilan yang mengenyangkan. Karena yangko termasuk dalam kategori kue. Rasa-rasanya jika makan yangko tidak seperti ngemil, melainkan mengganjal perut.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Tape ketan suguhan Lebaran yang sempurna, apalagi dipadukan dengan emping<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/radarjogja.jawapos.com\/weekend\/65756650\/lebaran-jadi-camilan-wajib-sendoknya-pakai-emping-melinjo\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tape ketan<\/a> berasal dari beras ketan yang difermentasi dengan ragi. Biasanya tape ketan dibungkus dengan daun pisang. Namun ada juga yang menggunakan cup plastik sebagai wadah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya orang makan tape ketan ditemani dengan emping. Cara makannya: tape diciduk dengan emping, kemudian disantap secara bersamaan. Kombinasi rasa segar dan gurih dari emping menghasilkan perpaduan yang cocok.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-suguhan-lebaran-khas-jogja-yang-mulai-langka\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Baca halaman selanjutnya: #4 Keripik belut &#8230;<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>#4 Keripik belut, suguhan dari sisi barat Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keripik belut adalah camilan renyah yang terbuat dari belut goreng berbalut tepung. Rasanya gurih dan teksturnya renyah. Camilan ini cocok dimakan sambil ngobrol dengan saudara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang tidak suka ikan mungkin kurang suka dengan makanan ini. Karena aroma dan cita rasanya mirip ikan. Walaupun menurut saya keripik belut itu tidak amis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan ini selain cocok sebagai camilan, juga cocok digunakan lauk makan. Rasanya yang gurih dapat menjadi pelengkap makan seperti kerupuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keripik belut lebih mudah ditemui saat berlebaran ke Jogja bagian barat. Seperti daerah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-tinggal-di-gamping-sleman-yang-jarang-dibicarakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gamping<\/a>, Seyegan, Minggir dan Godean. Sebab keripik belut memang makanan khas Godean. Daerah yang terkenal sebagai sentra keripik belut di Jogja.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Keripik bayam, camilan sederhana yang bikin kangen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama seperti keripik belut, makanan ini juga menggunakan balutan tepung. Bedanya jika keripik bayam yang dibalut tepung adalah bayam. Bukan belut, atau malah lele.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara pembuatannya juga cukup simpel. Daun bayam segar, diberi balutan tepung berbumbu, kemudian digoreng hingga renyah. Keripik bayam bentuknya tipis mengikuti bentuk daun bayam aslinya. Rasanya gurih dan tekstur renyah. Membuat orang sulit berhenti untuk mencamilnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya selalu menemui keripik bayam saat Lebaran di rumah kakek saya. Dan saat dihadapkan dengan keripik bayam, tangan saya seperti terhipnotis. Lalu mengambilnya dan memakannya tanpa henti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah suguhan Lebaran khas Jogja yang mulai sulit ditemukan terutama di daerah kota dan keluarga-keluarga modern. Bukannya ingin judgemental atau berniat buruk, ini sekadar pengamatan saja. Pengamatan yang kadang berubah jadi kangen masa lalu kalau suguhan itu tidak muncul di meja tamu. Kalau di daerah kalian, suguhan apa yang mulai hilang?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Ubaidillah Hanan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0 <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-turki-hangat-dan-baik-hari-bikin-homesick-lebaran-terobati\/\"><b><i>Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Suguhan Lebaran khas Jogja ada yang mulai langka, terutama di rumah-rumah kota dan keluarga modern, misal ampyang hingga keripik bayam. <\/p>\n","protected":false},"author":2956,"featured_media":395911,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[32908,32907,32906,115,32911,32910,342,29705,32909,13808],"class_list":["post-395898","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-ampyang","tag-camilan-jogja","tag-camilan-lebaran","tag-jogja","tag-keripik-bayem","tag-keripik-belut","tag-lebaran","tag-makanan-jogja","tag-tape-ketan","tag-yangko"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395898","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2956"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=395898"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395898\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":395955,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395898\/revisions\/395955"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/395911"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=395898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=395898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=395898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}