{"id":395867,"date":"2026-03-22T15:05:48","date_gmt":"2026-03-22T08:05:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=395867"},"modified":"2026-03-22T15:05:48","modified_gmt":"2026-03-22T08:05:48","slug":"alasan-saya-memilih-tugas-akhir-skripsi-meski-pilihan-lain-terlihat-lebih-waras","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-saya-memilih-tugas-akhir-skripsi-meski-pilihan-lain-terlihat-lebih-waras\/","title":{"rendered":"Alasan Saya Memilih Tugas Akhir Skripsi meski Pilihan Lain Terlihat Lebih \u201cWaras\u201d"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau jadi mahasiswa tingkat akhir hari ini, rasanya hidup agak \u201cdimanjakan\u201d. Pilihan tugas akhir tidak lagi cuma skripsi yang tebal dan penuh revisi, tapi juga proyek, prototipe, sampai publikasi ilmiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, ada yang sudah membayangkan lulus dengan artikel jurnal atau book chapter\u2014yang selain terdengar keren, pun bisa langsung dipajang di CV tanpa perlu banyak basa-basi. Intinya, jalan menuju wisuda sekarang tidak lagi satu arah, tapi bercabang seperti jalan tikus di perumahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan, fleksibilitas itu memang dilegalkan lewat kebijakan. Dalam <a href=\"https:\/\/peraturan.bpk.go.id\/Details\/333967\/permendikti-saintek-no-39-tahun-2025\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Permendikti Nomor 39 Tahun 2025<\/a>, khususnya Pasal 18 ayat (9), program studi cukup memastikan kompetensi lulusan tercapai\u2014entah lewat skripsi, proyek, prototipe, publikasi ilmiah, seperti artikel jurnal dan book chapter, atau bahkan lewat kurikulum berbasis proyek dengan asesmen tertentu. Di level kampus, aturan ini biasanya diterjemahkan lagi lewat peraturan rektor. Ujung-ujungnya mahasiswa diberi pilihan: mau skripsi, proyek, prototipe, atau publikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, sebelum ada yang tersinggung duluan, saya perlu kasih disclaimer. Tulisan ini sejatinya bukan mau adu domba mana yang paling bagus atau paling layak. Saya percaya tiap opsi punya \u2018medan tempurnya\u2019 sendiri, dan bagi saya, skripsi jelas bukan untuk semua orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, di tengah banyaknya pilihan yang terlihat lebih \u201cwaras\u201d\u2014terutama yang bisa cepat selesai dan terlihat lebih \u2018praktis\u2019\u2014saya justru memilih skripsi. Bukan karena paling keren, tapi mungkin karena saya cukup keras kepala untuk menikmati proses yang tidak selalu cepat selesai.<\/span><\/p>\n<h2><b>Skripsi dan keinginan meninggalkan jejak yang tidak sekadar lulus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau jujur, salah satu alasan paling personal saya memilih skripsi adalah soal \u201clegacy\u201d. Ya, meski terdengar agak sok serius untuk ukuran mahasiswa S-1.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah banyaknya opsi yang serba cepat dan praktis, saya merasa skripsi memberi ruang untuk meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar tanda centang \u201clulus\u201d. Bukan cuma output, tapi jejak berpikir yang bisa ditelusuri, diperdebatkan, bahkan\u2014kalau beruntung\u2014dibaca orang lain yang benar-benar peduli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proyek bisa selesai, prototipe bisa jadi, artikel jurnal ataupun book chapter bisa terbit. Tapi, skripsi, dengan segala kepanjangannya, memaksa saya untuk duduk lebih lama dengan satu persoalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Blio tidak memberi jalan pintas. Mau tidak mau, saya harus paham betul apa yang saya tulis, bukan sekadar merakit sesuatu yang \u201cberfungsi\u201d lalu selesai. Ada proses bergulat dengan ide, revisi yang kadang terasa tidak ada ujungnya, dan momen ketika saya sadar bahwa berpikir itu ternyata melelahkan\u2014tapi justru di situ letak nilainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak naif menganggap skripsi pasti lebih bermakna dari pilihan lain. Tidak juga. Tapi, setidaknya, lewat skripsi, saya merasa sedang mencoba meninggalkan sesuatu yang lebih \u201csaya\u201d\u2014bukan sekadar memenuhi standar kelulusan, tapi juga merekam cara saya melihat masalah, menyusun argumen, dan bertahan dalam proses yang panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau nanti skripsi itu cuma berdebu di perpustakaan, ya tidak masalah. Setidaknya, saya pernah benar-benar duduk, berpikir, dan tidak buru-buru selesai.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-hal-yang-perlu-kalian-lakukan-agar-skripsi-kalian-lancar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Hal-hal yang Perlu Kalian Lakukan agar Skripsi Kalian Lancar dan Tak Jadi Donatur Abadi Kampus<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Skripsi sebagai cara melatih kepala<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain soal legacy, ada satu alasan yang lebih teknis, tapi justru penting: saya ingin benar-benar belajar penelitian. Bukan cuma tahu istilah \u201cmetodologi\u201d atau \u201crumusan masalah\u201d, tapi paham bagaimana sebuah pengetahuan itu dibangun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, skripsi memberi ruang untuk itu. Dari mulai merumuskan masalah, menyusun kerangka pikir, mencari data, sampai menarik kesimpulan\u2014semuanya tidak bisa asal jadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bilang begini bukan tanpa pengalaman. Beberapa kali saya sudah menulis dan menerbitkan artikel jurnal, bahkan ikut terlibat dalam penulisan book chapter. Dan saya akui, prosesnya memang menantang dan memberi banyak pelajaran. Tapi tetap saja, ada perbedaan rasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Publikasi sering kali menuntut kita fokus pada output yang rapi dan siap tayang. Sementara skripsi memaksa kita menikmati prosesnya dari nol\u2014lebih panjang, lebih berantakan, tapi justru di situ letak latihannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa-rasanya, saya merasa skripsi seperti \u201cgym\u201d untuk otak. Blio tidak hanya melatih bagaimana menulis, tapi juga bagaimana merumuskan masalah secara mandiri, mempertahankan argumen, dan tidak gampang puas dengan jawaban yang setengah matang. Mungkin hasilnya tidak akan revolusioner, tapi setidaknya saya pernah benar-benar belajar penelitian\u2014bukan sekadar menghasilkan tulisan, tapi memahami cara berpikir di baliknya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bentuk perlawanan kecil terhadap budaya serba cepat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir-pikir, memilih skripsi di tengah banyaknya opsi yang lebih praktis itu rasanya seperti melakukan perlawanan kecil\u2014tidak heroik, tapi cukup sadar arah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat banyak hal didorong untuk cepat selesai, cepat lulus, dan cepat terlihat \u201cproduktif\u201d, skripsi justru memaksa saya berjalan lebih pelan. Ia tidak ramah dengan budaya instan; pun tidak bisa dikebut tanpa konsekuensi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari ini, rasa-rasanya kita hidup di situasi di mana segala sesuatu diukur dari output: seberapa cepat selesai, seberapa cepat bisa dipamerkan, seberapa cepat bisa dikonversi jadi nilai tambah. Bahkan dalam dunia akademik, logika itu pelan-pelan masuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang penting jadi, yang penting publish, yang penting selesai. Dalam situasi seperti itu, skripsi terasa agak \u201cmelawan arus\u201d. Ia tidak selalu efisien, tapi justru karena itu, ia memberi ruang untuk sesuatu yang sering dilupakan: proses berpikir yang utuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat saya, memilih skripsi bukan berarti menolak opsi lain. Ini lebih seperti cara untuk tidak sepenuhnya tunduk pada logika \u2018instan\u2019 itu. Saya ingin tetap punya ruang untuk belajar pelan, memahami lebih dalam, dan tidak selalu tergesa-gesa menyimpulkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin terdengar sederhana, tapi di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk cepat-cepat selesai, kemampuan untuk berhenti sejenak dan berpikir lebih lama justru terasa seperti bentuk perlawanan yang cukup berarti.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/skripsi-adalah-matkul-favorit-saya-sampai-rela-kuliah-7-tahun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Unpopular Opinion: Skripsi Adalah Matkul Favorit Saya Sampai Rela Kuliah 7 Tahun<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Penutup<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai penutup, saya rasa perlu saya tegaskan lagi: tulisan ini bukan ajakan. Saya tidak sedang mengampanyekan skripsi, apalagi sampai ingin mengajak orang berbondong-bondong ikut jalan yang sama. Saya pun bukan (seolah) tokoh yang sedang mencari pengikut, bukan siapa-siapa yang layak dijadikan rujukan hidup. Ini murni soal pilihan personal\u2014yang mungkin cocok buat saya, tapi belum tentu relevan untuk orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena sejatinya, setiap orang punya cara masing-masing untuk sampai ke garis akhir. Mau lewat proyek, prototipe, publikasi ilmiah, atau skripsi\u2014rasa-rasanya semuanya sah. Tidak ada yang lebih mulia, tidak ada yang lebih rendah. Tinggal soal kita mau menjalani proses seperti apa, dan sejauh mana kita siap menanggung konsekuensinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya memilih skripsi, kendati pilihan lain terlihat lebih \u201cwaras\u201d, mungkin karena saya melihatnya sebagai satu hal yang semakin langka: kesempatan untuk benar-benar berproses dan berpikir. Pun, di tengah dunia yang serba cepat ini, saya percaya satu hal\u2014skripsi adalah kemewahan terakhir yang dimiliki mahasiswa S1: waktu untuk tidak buru-buru, untuk bingung, dan untuk benar-benar memahami sesuatu sebelum selesai.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Raihan Muhammad<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-menyelesaikan-skripsi-dalam-2-minggu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Saya Bukan Mahasiswa Pintar, tapi Bisa Menyelesaikan Skripsi dalam 2 Minggu, Sini Saya Kasih Tahu Strateginya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya memilih skripsi, kendati pilihan lain terlihat lebih \u201cwaras\u201d, karena saya melihatnya sebagai kesempatan untuk benar-benar berproses dan berpikir.<\/p>\n","protected":false},"author":2215,"featured_media":294918,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[32933,1116,236,4264],"class_list":["post-395867","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-cara-menyelesaikan-skripsi","tag-dosen-pembimbing","tag-skripsi","tag-tugas-akhir"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395867","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2215"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=395867"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395867\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":396136,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395867\/revisions\/396136"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/294918"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=395867"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=395867"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=395867"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}