{"id":395262,"date":"2026-03-13T15:14:12","date_gmt":"2026-03-13T08:14:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=395262"},"modified":"2026-03-13T15:14:12","modified_gmt":"2026-03-13T08:14:12","slug":"ulukutek-leunca-makanan-sunda-yang-rasanya-bikin-pusing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ulukutek-leunca-makanan-sunda-yang-rasanya-bikin-pusing\/","title":{"rendered":"Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang bilang<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">makanan khas Sunda itu enak. Sebagai USA atau urang asli Sunda, jelas saya setuju akan pernyataan itu. Makanan Sunda cocok di lidah saya. Sebut saja batagor, soto bandung, hingga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sungguh-merugi-orang-orang-yang-tidak-pernah-makan-nasi-tutug-oncom-khas-sunda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nasi tutug oncom<\/a>. Saya bisa menyantapnya setiap hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di antara banyaknya kuliner khas Sunda, ada satu makanan yang rasanya sangat unik, Ulukutek Leunca. Bagi USA, hidangan ini adalah mahakarya. Namun, ternyata, di lidah orang bukan Sunda, Ulukutek Leunca lebih mirip \u201cuji nyali\u201d daripada makanan. Tanpa kesiapan mental yang kuat, makanan ini bisa meninggalkan pengalaman buruk yang kuat.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Apa itu makanan khas Sunda ulukutek leunca?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ulukutek leunca adalah satu dari banyak makanan Sunda berbahan dasar sayu yang setipe dengan karedok dan\u00a0 lotek. Bedanya, ulukutek leunca berbahan dasar <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perjalanan-sayur-leunca-dari-obat-jadi-lalapan-khas-sunda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">buah leunca (ranti)<\/a> yang punya rasa pahit getir alami. Buah kecil ini kemudian ditumis bersama hancuran oncom, daun kemangi, serta kepungan rempah-rempah yang tajam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama &#8220;ulukutek&#8221; sendiri berasal dari teknik pembuatannya yang diulek atau ditumbuk. Sementara &#8220;kutek&#8221; dalam bahasa Sunda merujuk pada aktivitas mengaduk-aduk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah utamanya, makanan ini punya rasa yang sangat memusingkan. Ada perpaduan rasa pahit, manis, asam, pedas dan gurih yang saling sikut. Kompleksitas rasa terlalu liar ini sering kali gagal diterjemahkan sebagai kelezatan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Makanan pahit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita bicara jujur, lidah manusia secara biologis didesain untuk waspada terhadap rasa pahit sebagai sinyal peringatan racun. Namun, bagi orang Sunda, prinsip alam itu seolah tidak berlaku. Berkat jam terbang tinggi dalam mengonsumsi aneka lalapan\/dedaunan. Lidah orang Sunda mampu menetralisir rasa pahit dan mengubahnya menjadi rasa yang nikmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah bagi para perantau muncul ketika butiran leunca\/ranti ini bertemu dengan komponen lainnya dalam ulukutek. Begitu digigit, butiran leunca meledak dan mengirimkan sensasi pahit getir yang tajam. Di saat yang sama, lidah juga dihantam oleh rasa kuat dari fermentasi oncom, aroma kencur yang menusuk, pedas cabai, hingga wangi kemangi yang dominan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi perantau Jawa Tengah yang terbiasa dengan pakem manis-gurih, atau orang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-tinggal-di-pelosok-sumatera-selatan-warga-pilih-merantau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sumatera<\/a> yang hidupnya didominasi pedas-lemak, percampuran rasa yang saling bertabrakan ini adalah sebuah tragedi kuliner. Alih-alih merasa dimanjakan, lidah para pendatang justru seringkali mengalami culture shock karena tidak tahu harus fokus ke rasa yang mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa pahitnya tidak berdiri sendiri, melainkan bercampur antara rasa gurih dan pedas, menciptakan kompleksitas rasa yang bagi sebagian orang justru memicu refleks untuk segera menyudahi suapan tersebut.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rasa dan tampilan sama-sama berantakan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam dunia kuliner, ada istilah kalau mata itu sebenarnya makan duluan sebelum mulut. Estetika di atas piring biasanya jadi gerbang pertama buat bikin kita lapar. Nah, di sinilah Ulukutek Leunca bener-bener gagal total buat tebar pesona ke para<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliner\/orang-sunda-muak-sama-kuliner-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> perantau<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita lihat wujudnya ulukutek leunca. Sepiring makanan ini ada oncom yang dihancurkan sampai lumat, ditumis pakai bumbu sampai warnanya berubah jadi cokelat kusam yang susah dijelasin. Secara visual, hidangan ini nggak ada keren-kerennya sama sekali. Nggak ada potongan daging yang kelihatan gagah atau sayuran hijau segar yang tertata rapi. Yang tersaji di depan mata cuma tumpukan kehancuran yang kelihatan becek, layu, dan buyatak dalam istilah bahasa Sunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat para perantau yang biasa melihat makanan yang tertata rapi dan menggugah selera, tidak disarankan mencicipinya. Perpaduan oncom yang hancur berantakan sama butiran leunca yang menghitam itu bikin kesan pertama yang jauh banget dari kata enak. Singkatnya, penampilannya nggak meyakinkan sama sekali buat orang yang baru pertama kali lihat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, bagi kalian para perantau yang baru menapakkan kaki di Tanah Pasundan, anggaplah Ulukutek Leunca ini sebagai ujian kuliner lokal. Kalau kalian bisa melaluinya tanpa mengernyitkan dahi, selamat, kalian sah menjadi warga Jawa Barat seutuhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Acep Saepulloh<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/sate-klatak-jogja-lebih-enak-dari-gudeg-dan-bakmi-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis.<\/a><\/em><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ulukutek leunca makanan Sunda yang membingungkan lidah pendatang karena rasanya yang kompleks ada pahit, manis, asam, pedas hingga gurih.<\/p>\n","protected":false},"author":2577,"featured_media":395338,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[15208,462,15373,1152,32828,32827],"class_list":["post-395262","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-leunca","tag-makanan","tag-makanan-sunda","tag-sunda","tag-ulukutek","tag-ulukutek-leunca"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395262","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2577"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=395262"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395262\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":395346,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395262\/revisions\/395346"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/395338"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=395262"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=395262"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=395262"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}