{"id":395192,"date":"2026-03-21T09:07:35","date_gmt":"2026-03-21T02:07:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=395192"},"modified":"2026-03-21T09:07:35","modified_gmt":"2026-03-21T02:07:35","slug":"kebumen-aneh-maksa-merantau-tapi-bikin-pengin-pulang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebumen-aneh-maksa-merantau-tapi-bikin-pengin-pulang\/","title":{"rendered":"Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lahir dan besar di Kebumen, sebuah kabupaten yang mungkin tidak terlalu sering muncul dalam daftar kota besar di Indonesia. Namun, bagi orang yang berasal dari sana, ada satu hal yang rasanya cukup umum, yaitu merantau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak kecil saya sudah sering mendengar cerita orang-orang yang pergi dari Kebumen untuk mencari kehidupan di tempat lain. Ada yang ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebumen-berubah-drastis-kini-sejajar-sama-jogja-dan-purwokerto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja<\/a> untuk kuliah, ke Jakarta untuk bekerja, dan ada juga yang mencoba peruntungan di kota-kota lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita seperti itu begitu sering terdengar sampai rasanya merantau seperti bagian dari alur hidup orang Kebumen. Dan pada akhirnya, saya juga menjadi salah satu dari mereka yang merantau.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<\/strong>: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-fakta-menarik-tentang-kebumen-yang-jarang-diketahui\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Fakta Kebumen yang Jarang Diketahui Orang<\/a><\/p>\n<h2><b>Meninggalkan Kebumen dengan perasaan campur aduk<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu kali pertama memutuskan pergi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-kebumen-ditinggalkan-warganya-walau-dengan-berat-hati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">merantau<\/a> dari Kebumen, saya tidak tahu harus merasa apa. Excited? Iya. Takut? Juga iya. Tapi lebih dari itu, ada rasa yang susah dinamai. Saya sadar, bahwa hidup yang selama ini terasa lambat dan mudah ditebak, sebentar lagi akan berubah drastis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota besar memang menarik dari jauh. Terlihat penuh peluang, segar akan kehidupan, dan berisi orang-orang yang sepertinya tahu mau ke mana mereka pergi. Yang tidak terlihat dari jauh adalah betapa capeknya jadi bagian dari keramaian itu setiap hari.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hidup di kota besar itu seperti lari di atas treadmill<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota besar mengajari saya satu hal yang tidak saya dapat di Kebumen dengan sangat efisien. semua orang sibuk, dan kalau tidak sibuk, orang akan menganggapmu tidak serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alarm memulai pagi jauh sebelum matahari terbit, lalu desak-desakan di kendaraan umum, jalanan penuh kendaraan, dan notifikasi tak kunjung berhenti. Siang masih kerja. Sore macet. Malam baru sampai kos, rebahan sebentar, besok begitu lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari-hari terasa penuh. Tapi anehnya juga sering terasa kosong. Penuh agenda, tapi kosong dari hal-hal yang sebenarnya bikin kamu merasa hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lama-lama kamu mulai lupa caranya santai tanpa merasa bersalah. Duduk diam sebentar terasa seperti membuang waktu. Istirahat terasa seperti kemunduran. Dan kamu terus jalan, karena semua orang di sekitarmu juga terus jalan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sampai kamu pulang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada momen yang selalu sama setiap perjalanan <a href=\"https:\/\/news.detik.com\/kolom\/d-4874490\/orang-orang-kebumen-perantauan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pulang merantau<\/a> ke Kebumen hampir selesai. Ketika kendaraan mulai masuk ke jalanan yang lebih sepi, sawah mulai kelihatan, dan klakson tidak lagi bersahut-sahutan sesuatu di dada ikut melambat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan perasaan yang dramatis. Tidak ada musik latar, tidak ada slow motion. Cuma tiba-tiba terasa ringan. Seperti bahu yang dari tadi tegang, akhirnya boleh turun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan saya tidak pernah benar-benar bisa jelaskan kenapa Kebumen bisa melakukan itu. Kota ini tidak punya apa yang kota besar punya. Tapi Kebumen punya sesuatu yang lebih susah dicari di tempat lain, izin untuk tidak berlari.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hal-Hal kecil yang rasanya mahal banget ketika kamu meninggalkan Kebumen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap pulang ke Kebumen, saya selalu heran kenapa hal-hal yang dulu terasa biasa sekarang terasa seperti hadiah. Misalnya, makan bareng keluarga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masakan yang rasanya tidak ada tiruannya di warteg. Duduk di teras sore-sore tanpa agenda apa-apa. Ngobrol sama teman lama yang obrolannya nyambung dari mana saja meski sudah lama tidak ketemu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kota besar, saya harus bayar mahal untuk pengalaman yang sekadar terasa \u201ctenang\u201d. Kafe aesthetic, weekend getaway, me time yang harus dijadwalkan jauh-jauh hari. Di Kebumen, semua itu ada di teras rumah. Gratis. Sudah termasuk paket.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kebumen tidak banyak berubah dan itu bukan kelemahan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang saya sadari setelah lama pergi, Kebumen tidak berubah terlalu cepat. Warung yang dulu sering saya datangi masih buka. Jalan yang sudah saya hafal sejak SMP masih sama. Wajah-wajah di lingkungan rumah masih wajah yang itu-itu juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang mungkin bilang itu ketinggalan zaman. Tapi bagi saya yang setiap hari hidup di tengah kota yang terus berubah yang warung langganan tiba-tiba tutup diganti minimarket, yang lingkungan kos berubah setiap enam bulan kestabilan itu terasa seperti kemewahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebumen tidak menuntut saya untuk terus update. Kebumen tidak peduli apakah saya sudah naik jabatan atau belum, sudah punya ini atau itu atau belum. Kebumen cuma bilang kamu pulang, ya sudah, masuk, makan dulu.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<\/strong>: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-mitos-di-kebumen-yang-nggak-bisa-dibilang-hoaks-begitu-saja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja<\/a><\/p>\n<h2><b>Pergi untuk belajar, pulang untuk ingat siapa kamu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merantau memang perlu. Saya tidak akan bilang sebaliknya. Di luar sana saya belajar banyak hal yang tidak akan saya dapat kalau tetap di Kebumen. Cara kerja, cara ketemu orang baru, cara survive di lingkungan yang tidak familiar. Tapi pulang ke Kebumen juga mengajarkan sesuatu yang sama pentingnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pulang mengingatkan saya bahwa ada versi saya yang lebih sederhana yang hidupnya tidak selalu harus dioptimasi, yang istirahatnya tidak perlu dijustifikasi, yang kebahagiaannya tidak harus viral dulu baru sah. Dan versi itu tidak kemana-mana. Masih ada. Masih nunggu di Kebumen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin itulah kenapa banyak orang Kebumen yang merantau ke mana-mana tapi tetap menyimpan satu niat sederhana di dalam kepala, suatu hari nanti pulang. Bukan karena kota lain tidak bagus. Tapi karena tidak semua tempat bisa bikin hati kamu adem begitu kamu sampai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebumen bisa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-bangga-setengah-mati-lahir-dan-besar-di-kebumen\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dulu Malu Bilang Orang Kebumen, Sekarang Malah Bangga: Transformasi Kota yang Bikin Kaget<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Kebumen seperti ditakdirkan untuk merantau. Namun, Kebumen juga paling jago bikin perantau pengin segera pulang.<\/p>\n","protected":false},"author":2984,"featured_media":395935,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10004,23982,10477,1418,343],"class_list":["post-395192","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jawa-tengah","tag-kabupaten-kebumen","tag-kebumen","tag-merantau","tag-mudik"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395192","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2984"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=395192"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395192\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":395936,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395192\/revisions\/395936"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/395935"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=395192"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=395192"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=395192"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}