{"id":395117,"date":"2026-03-11T16:27:13","date_gmt":"2026-03-11T09:27:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=395117"},"modified":"2026-03-11T16:27:13","modified_gmt":"2026-03-11T09:27:13","slug":"nasi-megono-wonosobo-olahan-nasi-terbaik-yang-pernah-ada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-megono-wonosobo-olahan-nasi-terbaik-yang-pernah-ada\/","title":{"rendered":"Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Layak Dikenal Lebih Banyak Orang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Indonesia dan nasi sulit dipisahkan. Tidak heran kalau berbagai menu olahan nasi bermunculan. Sebut saja <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/dosa-penjual-nasi-goreng-yang-merusak-rasa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nasi goreng<\/a> dan nasi kuning yang populer itu. Tapi, kali ini saya mau mengenalkan olahan nasi lain yang nggak kalah enak: nasi megono Wonosobo.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nasi megono sebenarnya bukan kuliner asli Wonosobo. Makanan satu ini banyak ditemukan di wilayah Jawa Tengah lain, terutama Pekalongan. Namun, menurut lidah saya, nasi megono versi Wonosobo lebih \u201cnendang\u201d di mulut daripada versi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pekalongan-masuk-jawa-tengah-tapi-secara-budaya-lebih-dekat-dengan-atlantis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pekalongan<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dilihat dari bentuknya, nasi megono Wonosobo sebenarnya kurang menggoda. Tampilannya ramai banget. Kelewat meriah malah. Megono tidak berwarna putih seperti umumnya nasi, tapi agak &#8220;kotor&#8221; karena sudah bercampur dengan bumbu megono. Itu masih ditambah dengan sayuran seperti urap, nangka muda, dan sayur kol ijo yang sudah dibumbui. Saking meriah dan berantakan tampilan makanan ini, beberapa orang Wonosobo menyebutnya sebagai <a href=\"https:\/\/rosebrand.co.id\/artikel\/detail\/lagi-liburan-ke-dieng-ini-7-makanan-khas-wonosobo-yang-wajib-dicoba\/354\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sego reged<\/a> (nasi kotor) saking berantakannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Nasi Megono Wonosobo punya perpaduan rasa dan tekstur yang pas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa orang mungkin nggak berselera ketika pertama kali melihat nasi megono Wonosobo. Tapi, jangan salah, rasa makanan satu ini malah bisa bikin ketagihan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa nasi megono begitu kaya karena memang banyak yang perpaduan bahan dalam seporsi nasi megono. Perlu kalian tahu, nasi megono terbuat dari bahan utama berupa nasi yang dicampur dengan bumbu megono yang terdiri dari daun melinjo yang telah direbus dan dihaluskan. Itu mengapa, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">nasi ini <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">memiliki rasa sedikit pahit dan asam yang khas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya rasa pahit dan asam itu tidak begitu kuat dan cocok dipadukan dengan sayur dan lauknya. Lauknya terdengar sederhana seperti <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tempe kemul, bakwan, tahu goreng, maupun suwiran ayam. Tapi, tekstur dan rasanya sangat pas disantap bersama nasi megono. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu tulisann di terminal Mojok pernah membahasnya secara lengkap dan apik dengan judul <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/selain-pekalongan-wonosobo-juga-punya-nasi-megono-yang-tak-kalah-nylekamin\/\"><b><i>Selain Pekalongan, Wonosobo Juga Punya Nasi Megono yang Tak Kalah Nylekamin<\/i><\/b><\/a><b><i>. <\/i><\/b>Sepenuhnya setuju dengan tulisan itu.<\/p>\n<h2><b>Murah dan kenyang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nasi megono Wonosobo jelas mengenyangkan karena nasi atau karbohidrat mendominasi dalam seporsi sajiannya.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, kabar yang lebih membahagiakan dari itu, harga seporsi megono sangat ramah di kantong. Bahkan, kalian masih bisa menemukan penjual yang menjualnya dengan harga Rp3.000 saja. Murahkan?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harga segitu memang baru nasinya saja. Tapi, kalau ditambah sayur dan lauk-pauk lain, harganya juga tidak sampai puluhan ribu. Paling Rp10.000, kalap dikit belasan ribulah. Nasi megono yang murah meriah ini begitu mudah ditemui di pinggir-pinggir jalan Wonosobo. Biasanya, mereka menjajakannya di pagi hari untuk sarapan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tampilan makanan satu ini mungkin kurang menggoda. Tapi, kalau hanya melihatnya dari tampilan, kalian akan ketinggalan pengalaman kuliner yang berkesan. Kapan lagi kalian bisa mencicipi berbagai rasa dalam sepiring nasi kan? Terlebih harganya murah meriah lagi. Jadi kalau mampir ke Wonosobo jangan lupa untuk cicipi kuliner ini ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wonosobo-memang-cocok-untuk-berlibur-tapi-untuk-tinggal-lebih-baik-skip\/\"><b><i>Wonosobo Ternyata Lebih Ramah bagi Wisatawan ketimbang Jogja<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di antar berbagai menu olahan nasi yang ada di Indonesia, nasi megono Wonosobo pantas mendapat lebih banyak perhatian karena begitu nikmat.<\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":395164,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[32801,795,4467,5342,32800,4576,8615],"class_list":["post-395117","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-makanan-wonosobo","tag-megono","tag-nasi","tag-nasi-megono","tag-nasi-megono-wonosobo","tag-pekalongan","tag-wonosobo"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395117","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=395117"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395117\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":395169,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/395117\/revisions\/395169"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/395164"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=395117"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=395117"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=395117"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}