{"id":394982,"date":"2026-03-10T15:56:01","date_gmt":"2026-03-10T08:56:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=394982"},"modified":"2026-03-10T15:56:01","modified_gmt":"2026-03-10T08:56:01","slug":"ampo-makanan-khas-tuban-yang-nggak-akan-pernah-saya-coba","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ampo-makanan-khas-tuban-yang-nggak-akan-pernah-saya-coba\/","title":{"rendered":"Ampo, Makanan Khas Tuban Nggak Akan Pernah Saya Coba"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia begitu kaya akan kuliner, kita sudah tahu itu. Tak perlu dijelaskan dengan klise lagi, karena memang ini sudah jadi common sense. Tapi, dari kekayaan kuliner tersebut, membahas yang ekstrem akan jadi topik yang menarik. Salah satunya adalah ampo, makanan khas dari Tuban, Jawa Timur, yang terbuat dari tanah liat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanah liat, Bolo. Tanah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, pertama kali saya mendengar tentang makanan ini, reaksi saya adalah kebingungan. Bagaimana mungkin tanah bisa dijadikan makanan? Bukankah tanah biasanya identik dengan sesuatu yang kotor dan tidak layak dimakan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya hanya tahu tentang ampo dari cerita orang atau dari internet. Tetapi suatu hari, saya benar-benar bertemu langsung dengan makanan ini ketika seorang teman membawa ampo dari kampung halamannya di Tuban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu kami sedang berkumpul santai. Tiba-tiba dia mengeluarkan bungkusan kecil dan berkata dengan santai, \u201cIni oleh-oleh dari Tuban, namanya ampo.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya langsung penasaran dan mencoba melihatnya lebih dekat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ampo dari dekat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bentuknya cukup unik. Ampo terlihat seperti gulungan tipis berwarna cokelat kehitaman, mirip seperti potongan keripik yang digulung panjang. Teksturnya terlihat kering dan agak rapuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya menjelaskan bahwa makanan ini memang dibuat dari tanah liat yang diproses dengan cara tertentu. Tanah tersebut dibersihkan, kemudian digulung tipis seperti lidi, lalu dipanggang hingga kering. Katanya, rasanya gurih dan memiliki aroma khas tanah yang sudah dipanggang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar penjelasan itu, reaksi saya justru semakin ragu. Di satu sisi saya merasa penasaran. Jarang sekali ada makanan yang benar-benar terbuat dari tanah. Tetapi di sisi lain, pikiran saya terus mengatakan bahwa tanah bukan sesuatu yang seharusnya dimakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya lalu menawarkan, \u201cCoba saja sedikit.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa teman lain terlihat cukup berani. Ada yang langsung mengambil sepotong kecil ampo dan mencicipinya. Mereka bahkan mengatakan rasanya tidak seburuk yang dibayangkan. Ada yang bilang rasanya seperti kerupuk yang sangat hambar. Ada juga yang mengatakan rasanya unik, tetapi tidak terlalu istimewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, saya hanya memperhatikan dari jauh. Jujur saja, meskipun rasa penasaran ada, saya tetap memilih untuk tidak mencobanya. Bukan karena saya meremehkan makanan khas daerah tersebut, tetapi lebih karena saya belum siap secara mental untuk memakan sesuatu yang terbuat dari tanah.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tuban-kota-elite-branding-sulit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Tuban, Kota Elite Branding Sulit: Kabupaten yang Takdirnya Memang Sulit Terkenal, Diusahain pun Percuma<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Tradisi lokal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin bagi masyarakat Tuban, ampo adalah makanan yang sudah sangat biasa. Bahkan konon makanan ini sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari tradisi lokal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa orang juga percaya bahwa ampo memiliki manfaat tertentu bagi kesehatan, terutama untuk membantu mengatasi masalah pencernaan. Namun tentu saja hal ini masih sering menjadi perdebatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang jelas, keberadaan ampo menunjukkan betapa beragamnya budaya kuliner di Indonesia. Bahan makanan yang bagi sebagian orang terdengar aneh, bisa saja menjadi sesuatu yang biasa bagi masyarakat di daerah lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara juga ada makanan yang mungkin terasa aneh bagi orang luar, tetapi sangat normal bagi masyarakat setempat. Misalnya ada negara yang memiliki tradisi makan serangga, ada yang mengonsumsi <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/H%C3%A1karl\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">makanan fermentasi<\/a> dengan bau sangat tajam, bahkan ada juga yang memakan hewan yang bagi budaya lain dianggap tidak lazim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa makanan tidak hanya soal rasa, tetapi juga soal budaya, kebiasaan, dan sejarah. Meski begitu, tidak semua orang harus memaksakan diri untuk mencoba setiap makanan yang unik atau ekstrem. Setiap orang tentu memiliki batas kenyamanan masing-masing.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Nggak dulu makasih<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kasus saya, ampo adalah salah satu makanan yang membuat rasa penasaran bertemu dengan rasa ragu. Saya menghargai keunikan kuliner tersebut, tetapi tetap memilih untuk tidak mencobanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya bahkan sempat bercanda mengatakan, \u201cKalau ke Tuban nanti kamu harus coba langsung.\u201d Saya hanya tertawa dan menjawab, \u201cMungkin nanti\u2026 kalau sudah siap.\u201d Tapi sampai sekarang, jujur saja, saya masih merasa belum siap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin suatu hari saya akan berubah pikiran dan akhirnya mencoba sepotong kecil ampo. Tapi untuk saat ini, saya masih cukup puas hanya melihat orang lain mencicipinya. Nggak ada kewajiban untuk mencoba juga bukan?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Intan Permata Putri<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ampo-camilan-khas-tuban-yang-terbuat-dari-tanah-liat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mengenal Ampo, Camilan Khas Tuban yang Terbuat dari Tanah Liat<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mungkin suatu hari saya akan berubah pikiran dan akhirnya mencoba sepotong kecil ampo, makanan khas Tuban. Kapan-kapan aja deh ya.<\/p>\n","protected":false},"author":3172,"featured_media":254840,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[22536,32782,10749],"class_list":["post-394982","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-ampo","tag-makanan-khas-tuban","tag-tuban"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394982","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3172"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=394982"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394982\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":395036,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394982\/revisions\/395036"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/254840"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=394982"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=394982"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=394982"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}