{"id":394929,"date":"2026-03-10T11:17:59","date_gmt":"2026-03-10T04:17:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=394929"},"modified":"2026-03-10T11:17:59","modified_gmt":"2026-03-10T04:17:59","slug":"lulusan-s2-surabaya-dituntut-merantau-ke-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lulusan-s2-surabaya-dituntut-merantau-ke-jakarta\/","title":{"rendered":"Lulusan S2 Masih Dituntut Merantau ke Jakarta oleh Keluarga, Seolah-olah Nggak Ada Harapan Jadi Akademisi di Surabaya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibu Kota masih saja dianggap sebagai kiblat kesuksesan anak muda. Seolah-olah mereka yang bertahan di daerah asal tidak memiliki peluang sukses sama sekali. Bahkan, mereka yang lulus S2 pun tidak bebas dari anggapan semacam ini. Mungkin itu mengapa keluarga saya masih saja bertanya kapan saya merantau ke Jakarta setelah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wisuda-s2-nggak-seheboh-wisuda-s1-padahal-lulusnya-susah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wisuda pascasarjana<\/a> di Surabaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin di mata banyak orang, memegang ijazah magister dianggap belum afdal kalau belum mencicipi kerasnya aspal Sudirman atau Thamrin. Siklus narasi usang tersebut terus berulang tiada henti setiap musim wisuda tiba hingga saya akhirnya kena giliran juga. Padahal, saya memilih menetap di Surabaya setelah mengantongi ijazah S2 bukan tanpa alasan, ada segudang keuntungan yang nggak disadari banyak orang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Surabaya minim stres<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, Surabaya termasuk\u00a0 salah satu kota besar. Namun, Surabaya menawarkan ketenangan batin jauh lebih masuk akal dibanding kota besar lain seperti Jakarta. Di Kota Pahlawan ini, lulusan master bisa tetap produktif menulis jurnal tanpa perlu stres memikirkan kemacetan gila.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biaya hidupnya pun lebih ramah di kantong. Menikmati pecel pincuk pinggir jalan raya sudah cukup mengenyangkan perut sampai siang menjelang. Di samping itu, ritme kerja daerah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliner\/makanan-khas-jawa-timur-terenak-di-dunia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Timur<\/a> terasa jauh lebih manusiawi. Waktu luang sehabis jam kantor masih bebas dipakai bersantai mendiskusikan teori kebudayaan. Jarak tempuh perpindahan antar tempat nongkrong begitu singkat serta sangat efisien.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biaya hidup ramah kantong membuat pikiran jernih merencanakan tabungan jangka panjang. Keseimbangan rutinitas bekerja sekaligus menikmati indahnya kehidupan harian dapat terwujud nyata.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lulusan S2 sudah punya ekosistem akademik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, menetap di Surabaya sungguh menjadi keputusan paling logis. Terlebih, saya punya cita-cita sebagai tenaga pengajar muda. Kota terbesar kedua Pulau Jawa ini punya puluhan kampus besar siap menampung cendekiawan baru bermutu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa bebas melamar pekerjaan tanpa pusing memikirkan biaya bongkar muat barang. Mengemas tumpukan buku tebal ke dalam puluhan kardus sangatlah merepotkan. Bertahan menetap pada kamar kos lama jelas menghemat banyak tenaga berharga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membangun relasi akademik terasa jauh lebih mudah berbekal jaringan pertemanan semasa kuliah. Sistem jalan raya Kota Pahlawan sudah terekam rapi dalam kepala. Menghafal rute transportasi publik wilayah baru pastinya memakan waktu adaptasi lumayan lama. Tetap tinggal pada lingkungan familiar justru membuat proses transisi dunia profesional amat mulus. Koneksi para dosen senior bisa langsung dimaksimalkan mencari celah proyek penelitian bergengsi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menggugat narasi Jakarta-sentris<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, doktrin kesuksesan menuntut pusat sentralisasi Jakarta wajib segera diruntuhkan selamanya. Prestasi tinggi tetap bernilai mahal meskipun dirintis dari luar Ibu Kota. Cerdas mengatur ketenangan pikiran jauh lebih penting daripada sekadar mengejar gengsi letak geografis. Menjadi <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Akademikus\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">akademisi<\/a> atau pekerja lepas daerah terbukti menjanjikan kesejahteraan finansial luar biasa. Menolak pindah domisili bukanlah tanda menyerah kalah melawan kerasnya pertarungan nasib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjaga kesehatan mental jelas jauh lebih berharga dibandingkan mengejar validasi sosial palsu. Bertahan pada zona nyaman fungsional terbukti amat ampuh meningkatkan produktivitas berpikir kritis. Pemuda daerah, baik lulusan S2 atau tidak, bebas menciptakan definisi sukses menggunakan standar takaran kebahagiaan masing-masing. Berjuang membangun karier bermakna dari timur pulau Jawa nyatanya sungguh menyenangkan. Biarlah gemerlap ibu kota dinikmati oleh kumpulan pencari validasi metropolitan saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Teddy Afriansyah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mimpi-lulusan-s2-mati-di-jakarta-masih-waras-sudah-syukur\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Lulusan S2 Merantau ke Jakarta Sudah 3 Tahun: Kini Tidak Lagi Memikirkan Mimpi tapi Cara Bertahan Hidup dan Tetap Waras.<\/em><\/a><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lulusan S2 nyatanya masih saja dituntut oleh keluarga untuk merantau ke Jakarta, seolah-olah tidak harapan jadi akademisi di Surabaya.<\/p>\n","protected":false},"author":3220,"featured_media":394937,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[12911],"tags":[4277,469,529,25213,16703,2879,17167,405],"class_list":["post-394929","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-loker","tag-akademisi","tag-dosen","tag-jakarta","tag-lulusan-s2","tag-magister","tag-pascasarjana","tag-s2","tag-surabaya"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3220"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=394929"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394929\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":394995,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/394929\/revisions\/394995"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/394937"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=394929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=394929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=394929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}